Kamis, 02 Mei 2013


Wirausaha Kerajinan Kerang Simping tadinya hanya angan angan belaka, walaupun Indonesia adalah sebuah negara kepulauan dengan wilayah lautan yang sangat luas. Yaitu mencapai 5,8 juta km 2 , terdiri dari gugusan kepulauan (2,3 juta km 2), laut teritorial (0,8 juta km 2), dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif ZEE (2,7 juta km 2). Luasnya wilayah lautan Indonesia ini sekarang menjadi potensi ekonomi tersendiri bagi penduduk Indonesia mengingat keragaman sumber daya yang terkandung di dalamnya sungguh luar biasa. Salah satu aset tersebut adalah kerang. Jenis kerang yang sekarang sedang dikembangkan adalah kerang simping (Amusium pleuronectes). Kerang simping menjadi peluang usaha baru sebab mempunyai keuntungan ekonomi yang lumayang tinggi. Bahkan di beberapa negara seperti Amerika, Australia, New Zeland, dan Brazil, kerang simping sudah menjadi komoditas unggulan dan sudah diekspor sebagai bahan baku masakan laut.

Di Indonesia, wilayah penghasil kerang simping adalah daerah pesisir pantai utara Jawa Tengah. Termasuk d dalamnya Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Brebes. Namun, manfaat kerang simping selama ini masih belum optimal. Umumnya hanya sekedar dijadikan sebagai masakan sea food saja. Tapi sebut saja Nur Handiah Jaime Taguba yang melihat ada sisi lain dari kerang simping yang dapat di jadikan sebuah usaha rumahan baru. Nur Handiah Jaime Taguba ini banyak menjumpai 'sampah' kulit kerang simping di daerah Pantai Cirebon yang dibiarkan bertebaran begitu saja. Tak terolah sama sekali, menjadi onggokan sampah yang tidak memiliki nilai. Dari kulit kerang simping ini lah Nur Handiah Jaime Taguba menjadi Wirausahawan Sukses Kerajinan Kerang Simping.

Di awal usaha, isteri dari Jaime Taguba ini hanya memanfaatkan peluang usaha kulit kerang simping sekedar untuk menyuplai kebutuhan bahan bakunya saja. Saat itu Nur Handiah Jaime Taguba mempunyai jaringan relasi dengan sejumlah perajin kerang simping di Filipina, negara asal suaminya. Maka saat itu dia mengekspor kulit kerang simping tersebut ke negara tersebut. Hasil nya cukup lumayan, bisa mengurangi tumpukan sampah pantai serta membuka lahan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar pantai untuk mengumpulkan kulit kerang simping. Namun berkat kejeliannya, Nur Handiah Jaime Taguba akhirnya menyulap onggokan sampah kulit kerang simping ini menjadi berbagai jenis hiasan dan perkakas yang begitu cantik dan indah. Hal ini dapat memberikan nilai tambah dan menjadi peluang usaha baru yang dapat memberikan keuntungan lebih di banding dengan hanya menjualnya dalam bentuk kulit kerang tanpa di olah ke Filipina. Dari sini akhirnya Ia dengan suaminya mengolah kulit kerang simping menjadi kap lampu, pada saat itu ia hanya berkreasi membuat kap lampu gantung saja.

Kini, ia membuat sebuah Workshop di daerah Astapada, Kecamatan Tengah Tani Kabupaten Cirebon. di bengkel kerjanya inilah ia dengan suaminya terus mengembangkan kreativitasnya. Saat ini telah bisa membuat berbagai bentuk hiasan dan perkakas termasuk furnitur dari kulit kerang simping seperti meja rias, meja tamu, hingga kursi santai, ornamen dinding, serta lantai berkeramik kerang. Kejeliannya dalam melihat kerajinan kulit kerang simping sebagai peluang usaha baru semakin mempertajam inovasinya. Wirausaha Kerajinan Kerang Simping yang digeluti isteri dari Jaime Taguba ini semakin berkembang pesat hingga dapat menembus pasar Eropa. Ia pun sudah bisa mempekerjakan 500 karyawan yang siap membantunya menghasilkan karya karya inovatif dan banyak diminati.

Sumber : ukmkecil.com

0 komentar :

Posting Komentar