Kamis, 02 Mei 2013


Orang mungkin mengenal Tahu Baxo Bu Pudji sebagai oleh-oleh khas Ungaran, Kabupaten Semarang. Namun, dibalik kesuksesan bisnis makanan kecil ini, terdapat kisah jatuh bangun seorang ibu rumah tangga berbisnis rumahan. Seperti apa kisahnya? Di sebuah ruas jalan utama menuju Semarang, tepatnya di Jalan Letjen Suprapto No. 24, Ungaran, Kabupaten Semarang, terdapat papan besar penunjuk arah ke lokasi toko oleh-oleh khas daerah ini. Tahu Baxo Bu Pudji, demikian toko oleh-oleh itu dikenal. Setiap hari, pembeli mengantre demi mendapatkan tahu bakso bikinan Bu Pudji, si empunya toko.

Sesuai namanya, jualan utama toko itu adalah tahu goreng berisi adonan bakso. Tahunya terpotong rapi berbentuk persegi panjang dengan adonan bakso yang rapat di dalamnya. Nikmat dimakan hangat-hangat, apalagi dipadukan dengan cabai rawit hijau nan pedas. Aroma bawang yang menyengat menguar ketika digigit. Siapapun yang pernah mencicipi, pasti ketagihan.  Sri Lestari  (54), begitulah nama asli Bu Pudji, adalah seorang ibu rumah tangga yang nekat berbisnis rumahan sejak 1995. Tak disangka, ibu tiga anak ini kini justru mendapat predikat usahawati sukses.  Bu Pudji mengaku, pengalaman jatuh dan bangun membangun bisnis rumahan justru membuatnya selalu bersemangat membagikan ilmu kepada orang-orang yang ingin sukses seperti dirinya. Lewat NOVA, Bu Pudji berbagi cerita.Setiap hari, Bu Pudji membuat ratusan tahu bakso istimewa. Di dua kedainya, tahu bakso bikinannya selalu lodes diborong pembeli.

Bisnis penganan ini bukanlah bisnis pertama yang diterjuni Bu Pudji. Sebelum sukses dengan tahu bakso, dirinya hanyalah ibu rumah tangga biasa, istri seorang pegawai negeri sipil. Untuk membantu pemasukan rumah tangga, Bu Pudji berdagang. “Saya pernah berjualan mi ayam, bakso, sembako, hingga pakaian pun pernah,” ungkapnya mengawali kisahnya. Dengan tiga orang anak yang harus dibiayai sekolahnya, Bu Pudji memang tak bisa mengandalkan gaji sang suami saja. Tak sekali dua kali Bu Pudji mengalami jatuh bangun dalam membangun usaha. Namun, ia tak putus asa. “Mungkin saat itu usahanya belum cocok, jadi tidak berhasil. Kalau sudah begitu, saya mencoba usaha yang lain,” ujarnya. 

Pengalaman berkali-kali jatuh bangun dari usaha satu ke yang lain membuat Bu Pudji memetik satu pelajaran berharga bahwa jika usaha dimulai tanpa komitmen, maka tak akan berhasil. Berangkat dari situ, Bu Pudji pun membulatkan tekad. “Apapun yang terjadi, usaha ini harus selalu maju,” tuturnya.

Tahun 1995, keteguhan hatinya mulai berbuah manis. Ia menemukan sebuah usaha yang kemudian membuat namanya terkenal di Kabupaten Semarang. Dalam suatu acara, Bu Pudji menemukan penganan tahu isi bakso. Intuisi bisnisnya langsung menyala. “Saat itu, saya memutuskan mencoba memulai usaha tahu bakso. Kebetulan saya memang suka memasak,” 

Bermodalkan beberapa juta rupiah yang disisihkan dari gaji suami untuk usaha, Bu Pudji memulai usaha dari rumah lamanya di Jalan Kepodang, Ungaran. Di rumah berukuran sedang yang didiaminya bersama suami dan ketiga anak itulah Bu Pudji mulai berproduksi camilan berbahan baku bakso dan tahu. 

Karena belum ada peluang dan keuntungan, Bu Pudji mengerjakan sendiri semua proses pembuatan hingga penjualan. Tak terhitung lagi berapa kali dirinya membuat formula tahu bakso yang pas di lidah. Berkali-kali pula produknya dites ke pasar, sebelum akhirnya menemukan resep yang paling pas. Rupanya, bentuk persegi panjang lebih disukai orang.

Hobi memasaknya, diakui Bu Pudji, menjadi motivasi yang paling besar. “Kalau melakukan sesuatu berdasarkan kesenangan, memang lebih termotivasi,” lanjutnya. Sejak awal, tahu dan baksonya diproduksi sendiri. Demi menjaga kualitas dan rasa, Bu Pudji tak pernah menambahkan formalin atau bahan pengawet lain ke dalam adonannya. “Kami sangat memperhatikan kualitas bahan baku. Jadi kualitasnya lebih terjamin,” jelas Bu Pudji lagi.

Awalnya, tahu bakso buatannya dijual Bu Pudji berkeliling dari kantor ke kantor. Teman-teman PKK dan Dharma Wanita pun jadi target pembeli potensialnya. Setidaknya tiga kalid alam seminggu Bu Pudji menjajakan tahu baksonya ke kantor-kantor pemerintahan. 

Lama-kelamaan, Bu Pudji membulatkan tekad untuk memproduksi tahu bakso setiap hari. Menurutnya, produksi yang berkelanjutan sangat penting sebagai langkah konkrit dalam membangun sebuah usaha. “Kalau kita memproduksi secara kontinyu setiap hari, kita juga akan tertantang untuk menjualnya lebih banyak lagi,” katanya.

Dalam sehari, Bu Pudji bisa memproduksi 150 hingga 200 buah tahu bakso untuk dijual dengan harga Rp 200 per biji. Tak hanya ke kantor-kantor, ia juga menjual tahunya di perempatan kampung. Kesungguhannya membuahkan hasil. Hampir setiap hari tahu bakso Bu Pudji habis tak bersisa. “Kalaupun sedang sepi, hanya tersisa 10 biji saja,” ujarnya. Saat itu, karena rumahnya terletak di Jalan Kepodang, tahunya terkenal dengan nama Tahu Kepodang. 

Tahun 1997, nasib baik menghampiri Bu Pudji. Melihat ketekunan usahanya, ASA-BRI mempercayakan tambahan modal sekitar Rp 5 juta kepadanya. “Uang ini saya belikan peralatan, gerobak dan handphone  untuk menerima pesanan,” ungkap Bu Pudji.

Dengan uang itu juga, Bu Pudji lalu membuat outlet di rumahnya. Salah satu alasannya, agar lebih mudah menjaga kualitas barang dagangan. “Selama ini saya jual langsung di outlet saya sendiri, memang tidak jual di tempat lain. Saya ingin harga dan kualitasnya sama,” ungkapnya tegas.

Meski banyak tawaran untuk membantu menjualkan produknya, Bu Pudji tetap bergeming tak melepas begitu saja. Hingga kini, ada dua outlet Bu Pudji yang resmi dibuka, yakni di Jl. Letjend Suprapto 24 Ungaran dan Jl. Raya Semarang - Bawen Km 24 Babadan. Di kedua outlet  ini, setiap hari tersaji tahu bakso yang masih fresh  dari tempat produksi di rumahnya, di Jalan Kutilang. Tahun 2002, Bu Pudji memang pindah dari Jalan Kepodang ke Jalan Kutilang.

Baik di outlet maupun tempat produksi, harga sekotak tahu bakso dipatok sama. Cukup merogoh kocek Rp 18 ribu saja untuk satu dus tahu bakso Bu Pudji, Anda sudah bisa menikmati tahu bakso yang nikmat nan gurih. Ini yang membuat pelanggan puas dan setia dengan tahu bakso buatan Bu Pudji. 

Sumber : tabloidnova.com

0 komentar :

Posting Komentar