Kamis, 02 Mei 2013


Jika kreatif dimaknai sebagai sebuah usaha mengolah yang terbuang menjadi bernilai, maka sosok Roma Girsang adalah salah satu penganut paham tersebut. Pengusaha kerajinan asal Medan, Sumatera Utara (Sumut) ini berprinsip, tidak semua sampah itu layak dibuang. Sebab, sampah sekalipun dapat diubah menjadi uang asalkan ada kemauan, kreativitas, dan strategi menjual yang agresif. Perempuan berdarah Simalungun ini memang tidak asal bicara. Ia sudah membuktikannya dengan wujud karya kerajinan tangan (handy craft). Tidak hanya dihargai di Indonesia, karya kerajinan tangan berbahan kulit yang awalnya dianggap limbah, juga dihargai hingga mancanegara.

Rumah semi permanen di Jalan Teratai No. 14 A Medan itu memang tampak sepi ketika Indonesiakreatif menyambanginya belum lama ini. Waktu itu pagi menjelang siang, Roma yang kelahiran tahun 1967 itu, baru saja beres-beres rumah yang sekaligus ia jadikan toko kerajinan tangan hasil karyanya bersama beberapa pengrajin asuhannya. Karyanya antara lain tas, dompet, topi, cincin, bros, gantungan kunci, dan sejumlah suvenir bermotif Batak. Yang terbaru ialah pakaian untuk pria dan perempuan bermotif ulos. Sejumlah tanda penghargaan tingkat lokal dan nasional tampak menghiasi ruangan.

“Memang kalau di sini biasanya begini. Agak tenang dan tidak terlalu ramai. Saya sebenarnya tak berpatokan pada jualan eceran. Biasanya pemesan online atau lewat telepon. Saya lebih mengutamakan link dan koneksi langsung daripada mengandalkan eceran.

Mengandalkan sistem kepercayaan itu lebih baik,” kata Roma yang pada Maret lalu diundang pemerintah Belanda dengan kapasitas sebagai pengrajin Indonesia yang berhasil mengolah limbah menjadi uang—ini bukan kali pertama ia diundang ke luar negeri sebagai pembicara mewakili pengrajin sukses dari Indonesia.
Namun, kadangkala rejeki datang bagai durian runtuh di tokonya yang tidak terlalu besar itu. Roma bercerita, pernah sekali waktu tokonya kedatangan “tamu tak diundang”. “Waktu itu siang, saya lagi istirahat, seseorang mengetuk pintu toko. Saya tidak mengenalnya dan tidak pernah bikin janji ketemu sebelumnya. Tiba-tiba dia menunjukkan kartu nama saya.”
“Benar Ibu Roma Girsang?”
“Benar. Dari mana Bapak dapat kartu nama saya?”
“Saya dapat dari seorang rekan bisnis. Rekan saya itu bilang kalau mau cari kerajinan tangan dari kulit dari Medan, cari saja Roma Girsang,” ujar pria berlogat Arab itu.

Perbincangan akhirnya berujung kesepakatan. Pria tadi ternyata seorang dealer produk kerajinan tangan yang sering melakukan transaksi dalam partai besar kepada konsumen di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.

“Saya heran juga, siang itu dia langsung kasih tanda jadi 50 persen. Sisanya akan dilunasi setelah barang dikirim. Bangga juga ada orang yang langsung percaya berbisnis dengan saya padahal baru kenal,” kenang putri keempat dari enam bersaudara pasangan ST Liman Girsang dan Catharina Barus ini.

Kejadian itu masih satu di antara kejutan-kejutan lain yang pernah terjadi di toko yang ia beri nama Rawigi Craft 153, sesuai dengan merk dagang yang digunakannya untuk produk-produk kerajinannya. “Pernah juga tetangga sekitar rumah ini heboh karena kedatangan istri gubernur (ketika itu Gubernur Sumut masih dijabat oleh Syamsul Arifin). Padahal waktu ibu gubernur (Hj. Fatimah Habibi Syamsul Arifin—juga merupakan Ketua Dekranasda Sumut) hanya penasaran saja dengan toko saya sekaligus ingin berkenalan dengan saya. Memang, waktu itu ibu gubernur belanja beberapa produk. Tapi kedatangan ibu cukup mengejutkan juga, soalnya tak bilang-bilang mau datang,” ceritanya sambil tertawa.

Sumber : kerajinan.indonesiakreatif.net

0 komentar :

Posting Komentar