Selasa, 07 Mei 2013


Didik Wachyudi yang mengembangkan usaha ukir kaca dengan bendera Keramat Art Glass kini memiliki usaha lumayan besar. Bagi pria yang kini tinggal di Jalan Sucipto Situbondo ini, tidak mudah menapaki jalan menuju kesuksesan. “Pada 1995,saya sudah memulai usaha mebel,tapi pada 1998 terimbas krisis moneter sehingga usaha itu gulung tikar,” kata Didik Wachyudi. 

Dia lalu mencoba bangkit lagi pada 2003 dengan menekuni bidang usaha kaca ukir. Usaha itu ternyata terus berkembang. Pembuatan aksesori seperti kaca jendela dan pintu rumah juga dikerjakan meski saat itu pemasarannya hanya berdasarkan pemesanan. Kemudian, Didik berupaya melakukan inovasi dalam pemasaran. Dia menggandeng toko penjual kaca. Toko penjual kaca mempromosikan usaha Didik. Begitu pun sebaliknya. Jika ada orang berniat membeli kaca, Didik mengarahkan ke toko langganannya itu.

Adapun jika ada orang yang datang ke toko dan berminat pada kaca ukir, pemilik toko mengarahkan untuk membeli ke Didik Wachyudi. Pengembangan usaha kaca ukir yang digeluti Didik perlahan merambah ke art glass, yakni kerajinan ukir kaca dengan nilai seni tinggi. “Pesanan mulai meningkat, dari papan nama pejabat atau karyawan swasta hingga bingkai foto keluarga,” ujar suami Dian Herijani ini.

Didik mengungkapkan, proses pembuatan kaca ukir memang tidak mudah, tapi bisa dipelajari. Dia mempelajarinya dari buku maupun internet. Dalam memproses kaca ukir, Didik menggunakan mata bor yang sangat kecil, terutama ketika memproduksi kaca ukir yang desainnya cukup rumit dan tidak membutuhkan produksi terlalu banyak. Adapun untuk produksi dalam jumlah besar, Didik menggunakan sand blasting, teknik semburan pasir kwarsa dan pasir besi.

Sebelum pengukiran dengan teknik ini, kaca terlebih dahulu didesain dan dilukis tahap awal. Bahan baku pasir kwarsa putih didatangkan dari Tuban, sedangkan pasir besi dari Lumajang. “Soal kendala, memang besar karena risiko tidak jadi juga sangat besar. Untuk itu, karyawan harus hati-hati dan mengerjakan sesuai dengan desain maupun pesanan. Kalau ada pelanggan komplain ya harus kita ganti,” terangnya.

Kendala lain yang dihadapi terkait permodalan, khususnya jika dia menerima pesanan dalam jumlah besar. Didik menuturkan, untuk memproduksi kaca ukir, awalnya dia menggunakan mesin kecil seharga Rp12 juta dengan produksi 1–1,5 meter. 

Berkat usaha yang ditekuni, Didik mampu menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi. “Anak saya yang pertama,Sona Aisyah Yuliani, kuliah di Teknik Sipil Universitas Negeri Jember, lalu Shela Aisyah Yuliani kini sudah kelas 3 SMA dan ingin kuliah mengambil jurusan seni desain interior di Institut Teknologi Bandung (ITB). Adapun yang masih kecil sudah kelas 5 sekolah dasar,” tuturnya. 

Sumber : tipssuksesberwirausaha.blogspot.com

0 komentar :

Posting Komentar