Selasa, 07 Mei 2013


Fahira Fahmi Idris adalah seorang wirausahawan wanita asal Minang yang bergelut di lebih dari satu jenis bisnis. Beberapa bisnis yang saat ini dijalaninya antara lain bisnis parsel dan bunga. Fahira mulai berbisnis ketika berumur 20 tahun, yaitu saat ia masih mengenyam pendidikan di Universitas Indonesia. Berikut petikan wawancara dengan pemilik Nabila Parcel & Florist ini.

Saya berbisnis sejak saya duduk di bangku SD. Saat itu saya menjual perangko. Kegiatan berjualan berlanjut hingga ke SMP sampai kuliah. Saya menjual kaos saat SMP dan menjual kue saat SMA. Ketika berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, saya membuka usaha parsel. Saya pun mendapat dukungan dari ayah yang saat itu belum menjabat sebagai menteri. Ayah saya sangat mendukung dengan membebaskan saya untuk berbisnis apa saja, yang penting bisnis itu adalah sesuatu yang saya senangi.

Saat ini, saya menjalankan tiga jenis bisnis. Pertama, bisnis parsel dan bunga bernama Nabila Parcel & Florist. Bisnis ini saya rintis sejak tahun 1991. Klien saya dari bisnis ini adalah orang-orang yang membutuhkan bingkisan parsel dan dekorasi bunga untuk hari raya, perkawinan, ulang tahun, dan acara pesta lainnya. Bisnis lain saya adalah membangun klub menembak dan perusahaan perminyakan.

Sedari kecil, saya hobi membuat pernak-pernik. Saya selalu sibuk menyiapkan kado setiap kali teman saya berulang tahun. Selain itu, saya juga memiliki hobi dalam bidang tembak-menembak. Awalnya saya hanya menemani ayah saat berlatih menembak. Ternyata saya jadi tertular hobi ayah saya. Dua hobi inilah yang mendasari saya membuka bisnis parsel dan klub menembak. Saya juga hobi berburu. Ketika berburu di hutan, saya sering melihat orang-orang membuka lahan untuk mencari minyak dan gas. Ini memberi saya ide untuk membuka bisnis perminyakan hingga sekarang.

Semua berawal dari pengalaman berjualan perangko saat masih SD. Ketika itu, saya merasa senang dan puas saat mendapat uang, apalagi uang hasil jerih payah sendiri. Beranjak kuliah, universitas sering mengirim saya ke Inggris untuk mengikuti summer course. Saya hanya diberi uang pas untuk akomodasi dan biaya pelatihan. Untung saat itu saya memiliki bisnis kaos, kue, dan parsel. Uang dari bisnis saya itu saya gunakan untuk berbelanja dan jalan-jalan keliling Eropa selama saya summer course berlangsung. 

Saya itu punya obsesi untuk bisa keliling dunia. Saya hobi jalan-jalan. Hobi inilah yang memotivasi saya untuk mencari uang. Saya punya target harus bisa keliling dunia. Karena itu, saya harus banyak-banyak menabung. Inilah motivasi terbesar saya. Saya tidak pernah malu-malu saat berbisnis. Bahkan, saat kuliah saya menjajakan produk saya door-to-door ditemani supir. Semua saya lakukan karena saya memiliki target yang ingin saya capai.

Sebenarnya banyak tips berbisnis yang bisa dilakukan seorang seller. Saya membuktikan bahwa saya menjual produk yang berkualitas dengan harga yang kompetitif. Pengiriman produk pun tepat waktu. Bagi saya, kepercayaan adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli atau diiklankan dengan cara apapun. Kepercayaan bisa dibeli dengan kepuasan buyer. Jika kita menjual produk yang memuaskan, buyer akan melakukan repeat order. Namun jika buyer tidak percaya dengan bisnis kita, mereka tidak hanya akan membatalkan pembelian, melainkan juga menyebarkan cerita yang bisa membuat reputasi kita menjadi buruk.

Sumber : netpreneur.co.id

0 komentar :

Posting Komentar