Selasa, 07 Mei 2013


Berawal dari hobi sejak 1997, Anton belajar mengembangbiakkan kelinci impor. Hingga saat ini, peternakan kelinci Anton mempunyai 30 jenis kelinci hias yang sudah dipasarkan hingga keluar Jawa. 

Kelinci hias tak sama dengan kelinci lokal atau yang biasa dikonsumsi. "Kelinci lokal hanya untuk dikonsumsi. Sedangkan kelinci hias atau impor memiliki banyak jenis. Mereka lebih indah dan lucu. Ada yang berbulu lebat, berukuran mini atau besar," ujar Anton.

Anton lebih memilih mengembangbiakkan kelinci dari jenis yang sama, daripada melakukan persilangan jenis. Ia menilai kelinci hias lebih unggul apabila dari perkawinan dari jenis yang sama tanpa persilangan. Pembeli kelinci Anton datang dari kalangan penghobi maupun pedagang kelinci juga. 

Tak jarang, orang yang awalnya berniat untuk mengoleksi, ketika koleksinya sudah bertambah banyak, timbul keinginan untuk memasarkannya. Hasilnya memuaskan. Ia mengaku bisa menabung hingga bisa menyekolahkan sang anak. Kuncinya ulet dan tekun, itu saja.

Memelihara kelinci hingga menjadi sebuah penghasilan, tentu tak selalu mulus. Kendala yang biasa dihadapi biasanya berkaitan dengan cuaca yang tidak bersahabat. "Perubahan cuaca atau pancaroba itu berisiko membuat kelinci sakit. Bisa kembung, diare, atau flu. Tapi semuanya bisa diatasi dengan keuletan dan ketelatenan," ucapnya.

Sumber : tipssuksesberwirausaha.blogspot.com

0 komentar :

Posting Komentar