Selasa, 07 Mei 2013


Usaha peternakan di sektor informal rupanya tidak boleh dipandang sebelah mata. Usaha rumahan itu ternyata banyak membawa manfaat, di antaranya membantu untuk memperbaiki dan mengangkat perekonomian masyarakat. Bahkan, tidak sedikit warga yang malah berpaling ke usaha memelihara "rojo koyo" (hewan peliharaan). Ada yang memilih memelihara sapi, kambing, ayam dan jenis unggas, yakni bebek. Itu, salah satu yang dilakoni oleh Slamet Doroini (47).

Bapak dua anak, warga Dukuh Kebuntoro, Kelurahan Kebunduren, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur ini pun menceritakan awal mula ia menekuni usahanya memelihara bebek. "Usaha ini mulai saya lakukan pada 2009. Awalnya hanya 25 ekor, kemudian terus bertambah dan sekarang mencapai 500 ekor. Jenisnya, bebek Mojosari dan Peking," kata Slamet saat berbincang dengan VIVAnews.
Slamet mengaku bahwa dari usaha yang ditekuninya itu, perekonomian keluarganya pun merangkak naik. Ia menyebut, untuk ukuran keluarganya, penghasilan dari beternak bebek lebih dari cukup. "Rata-rata, dari hasil penjualan telur, saya mendapat keuntungan Rp10 juta setiap bulan," lanjutnya.

Dari penghasilan itu, selain putaran keuangan untuk keperluan ternak yang dikelola tetap lancar, kebutuhan keluarga pun tercukupi, bahkan lebih. Dua anaknya, yang pertama sudah kuliah, dan kedua duduk di bangku SMP. Semuanya dibiayai dari hasil memelihara bebek. "Biaya untuk pendidikan juga hasil dari memelihara bebek. Termasuk, bisa memberangkatkan kedua orang tua saya pergi haji," kata dia.

Keberhasilan Slamet pun mengilhami warga lainnya di kota yang masyhur dengan keberadaan makam Presiden Pertama RI Soekarno tersebut.

Saat ini, hampir di semua desa, banyak warga yang menjalani usaha beternak bebek. Jumlahnya mencapai tiga ribu lebih kepala keluarga. Tentang keberhasilan itu, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Blitar, Masduki, mengatakan bahwa potensi besar ternak bebek dan ayam petelur membuat ekonomi warganya membaik dan berkecukupan.

Telur bebek, telur ayam, dan dagingnya tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan lokal, melainkan daerah lain di Jatim, bahkan hingga ke luar provinsi. "Setiap hari, hasilnya bisa 500 ton telur ayam dan bebek. Sepuluh persen untuk kebutuhan lokal, sisanya terserap ke sejumlah wilayah, seperti Jakarta, Jawa Tengah, Bali dan Papua," ujar Masduki.

Blitar Pemasok Tetap Ayam Potong
Selain bebek, yang juga membanggakan dari bisnis masyarakat Blitar adalah ayam potong. Blitar menjadi pemasok tetap ayam potong untuk memenuhi kebutuhan gerai McDonald's dan fried chicken di seluruh wilayah Provinsi Jawa Timur. Salah satu peternak ayam potong yang menikmati itu adalah Hidayaturrohman (42), warga Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar.

Hidayat adalah penerus usaha orangtuanya. Ia menuturkan, usaha warisan itu mulai menapaki kejayaan saat masuk tahun 1987, dan sampai sekarang dipercaya menjadi penyuplai kebutuhan ayam di gerai makanan bergengsi itu. Peliharaan ayam kini mencapai 15 juta ekor. Awalnya, Blitar termasuk daerah tertinggal, hanya pertanian dan perkebunan yang menjadi penopang hidup warga. Tanahnya yang kurang subur, memunculkan keinginan beternak sebagai alternatif usaha.

Dari data yang ada, rata-rata pada tiap kecamatan, populasinya mencapai lebih dari 30 juta ekor ayam petelur. Usaha ayam petelur dan pedaging milik Hidayat, awalnya dimulai oleh orang tuanya. Sebagai peternak pemula, saat itu berbagai kesulitan pun muncul. Mulai dari pemasaran hasil panen, hingga penyediaan bibit termasuk buangan kotoran.

Namun, seiring berjalannya waktu, kesulitan itu bisa teratasi. Pemasaran pun tersalur, bibit terpenuhi dan kotoran bisa diolah menjadi pupuk. Kesulitan pengadaan pakan pun terjawab. Semangat petani sekitar mulai terpacu. Mereka menanam jagung dan singkong, yang awalnya tidak diminati.

Itu terjawab setelah pemerintah provinsi memberikan sumbangan mesin pengolah pakan. Alat seharga Rp50 juta itu dipastikan menjadi penyemangat menapaki usaha peternakan. "Industri terkait kemudian tumbuh di Blitar. Mulai pabrik pencampuran pakan, juga cabang dari hampir semua pabrik obat ternak terus menjamur," kata Masduki.

Buah kerja keras masyarakat Blitar, khususnya yang menekuni usaha peternakan pun dilihat Pemprov Jatim. Puncaknya, sejumlah nama akan mendapat penghargaan. Itu diberikan pada 12 Oktober 2012, bersamaan dengan HUT Provinsi Jawa Timur.

Sumber: bisnis.news.viva.co.id

0 komentar :

Posting Komentar