Selasa, 07 Mei 2013


Inovasi dan kreativitas menjadi salah satu kunci sukses dalam berbisnis. Hal ini telah dibuktikan oleh Anafiah Rahmawati, dimana berbekal inovasi dan kreativitas, hasil laut bisa diolah menjadi komoditas andalan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir Pantai Kenjeran, Jawa Timur.

Kerupuk adalah lauk, itu dulu namun sekarang dengan sedikit inovasi dan kreativitas jenis kerupuk masa kini makin variatif dan fungsinya meluas sebagai camilan yang disukai tua-muda. Tengok saja pada penyelenggaraan pameran Pasar Indonesia Goes to Mall yang diselenggarakan Bank Mandiri di Mal Margocity, Depok, belum lama ini. Stand “Krupuk Risma” termasuk yang paling ramai dikunjungi. Pengunjung umumnya penasaran dengan aneka camilan kriuk yang jarang ditemui di Depok atau Jakarta.
“Kami datang dari Kenjeran, Surabaya,” ujar Anafiah Rahmawati, sang pemilik stan, ditemui SINDO di sela-sela kesibukannya meladeni pembeli.

Pesisir Pantai Kenjeran yang terletak di utara Surabaya  memang sejak lama dikenal sebagai sentra produksi kerupuk olahan hasil laut. Salah satu desa pesisir Pantai Kenjeran yang layak dijuluki kampung kerupuk adalah Kelurahan Sukolilo, tempat tinggal Anafiah.  “Dulunya yang memulai (pembuatan kerupuk) adalah para nelayan pesisir Kenjeran ini. Kalau kebetulan tangkapan ikan sedang sepi, mereka menganggur. Jadi mereka coba-coba membuat kerupuk supaya penghasilannya lebih baik,” tuturnya.

Anafiah mewarisi usaha produksi dan berjualan kerupuk dari ayahandanya. Saat sang ayah merintis usaha pada 1995, produksi kerupuk olahan hasil laut jenisnya masih terbatas pada kerupuk ikan, teripang, dan terung laut. Umumnya bahan baku kerupuk didapat dari hasil melaut nelayan setempat atau nelayan di Pulau Madura. Seiring berjalannya waktu, Anafiah dan produsen kerupuk lainnya makin rajin berinovasi dengan mencoba menciptakan jenis kerupuk dan keripik baru. Setiap item hasil laut dioptimalkan pemanfaatannya. Misalnya dari jenis ikan, bisa tercipta kerupuk kulit ikan kakap, kulit ikan pari, hingga kerupuk lambung ikan. Dengan racikan bumbu tertentu, ikan asin juga disulap menjadi rempeyek renyah yang banyak disukai.“Kuncinya berani mencoba. Kalau gagal tidak apa-apa, dicoba lagi terus, lama-lama makin maju,” ucapnya.

Aneka kerang seperti kupang (sejenis kerang kecil) dan kerang bambu atau di Madura terkenal dengan sebutan lorjuk, setelah diolah ternyata juga bisa menjadi santapan lezat. Lorjuk yang telah digoreng hingga kecoklatan misalnya, rasanya gurih agak manis walaupun tanpa tambahan gula. Lantaran susah dicari, lorjuk yang biasa hidup di pasir pantai atau tersembunyi di antara karang, umumnya berharga lebih mahal dibanding kupang. “Tapi sejauh ini yang paling mahal itu kerupuk ekor kerang, harganya Rp50.000 per ons,” sebut Anafiah.

Sumber: ukmmandiri.com

0 komentar :

Posting Komentar