Kamis, 09 Mei 2013



Inspirasi-usaha.com:Perempuan sederhana ini pernah dikucilkan keluarganya, sehingga ia tinggalkan kampung halamannya di  Lasem, Kabupaten Rembang, menuju  Kudus, Jawa Tengah. Ia relah menjadi tukang cuci baju, pemotong batang rokok, hingga kernet bus antarkota. Karena kegetiran hidupnya, tidak menyurutkan perjuangan perempuan peranakan Tionghoa ini hingga mambawanya menjadi pengusaha batik Lasem. Ia adalah Naomi Susilowati Setiono. Entah mengapa, ketika lulus Sekolah Menengah Apoteker Theresiana Semarang, tahun 1980, Naomi dikucilkan keluarganya. Padahal, orang tuanya telah mengasuhnya selama 21 tahun. Ketika meninggalkan kampung halamannya, ia menyingsingkan lengan baju dan bekerja sebagai pencuci pakaian. 

Tetapi, karena tergiur penghasilan yang lebih tinggi, ia pindah kerja sebagai buruh pemotong batang rokok di Pabrik Djarum Kudus.  Hanya saja, ia kurang cekatan, sehingga hanya mendapatkan penghasilan  Rp375 per hari. Sementara teman-temannya mendapat uang Rp2000-an, karena dapat memotong rokok berkarung-karung. Alasan itulah, ia memilih hengkang menjadi kernet bus trayek, Semarang-Lasem. Suatu saat orang tuanya memintanya kembali ke kampong halamannya. Sekalipun demikian, dia tidak boleh masuk ke rumah besar. Ia ditempatkan bersama pembantu, jika minta air dan makan harus ke pembantu. Dalam keadaan terkekang itulah, ia mulai mempelajari cara pembuatan batik tulis tradisional Laseman. Mulai dari desain, memegang canting, melapisi kain, hingga memberi pewarnaan ia perhatikan dengan seksama.

Tahun 1990, orang tuanya memutuskan hijrah ke Jakarta bersama adik-adiknya. Otomatis, usaha batik  milik ayahnya ia teruskan. Dari titik inilah, perempuan yang pernah bercita-cita menjadi arkelog itu berusaha untuk membesarkan usaha batik Lasem yang terletak di Jalan Karangturi I/I Lasem, Rembang tersebut. Ia juga mengubah sistem dan aturan main bagi karyawannya. Di antaranya memberi kesempatan kepada perajin untuk menunaikan shalat tepat waktu. Suasana kerja juga bukan lagi atasan dan bawahan. Ia menganggap perajin adalah rekan usaha yang sama-sama membutuhkan dan menguntungkan. 

Meski demikian, usaha Naomi bukanlah usaha besar.  Karena itu, ia berusaha keras mempertahankan usaha yang dirintis oleh leluhurnya yang pernah jaya, dengan nama Maranatha Batik.  Usaha ini jatuh-bangun, sehingga ia berttekad mempertahankannya.

Perlahan namun pasti, sekalipun hanya menggunakan peralatan tradisional, namun dengan 30 pengrajin, ibu dari dua anak, Renny dan Gabriel Alvin Prianto ini bertekad mengembangkan batik Lasem yang perkembangannya jauh tertinggal dibanding batik Solo dan Yogya.  Ia terus menggairahkan karyawannya, hingga kini masih tetap eksis. Setiap bulannya, Naomi dan karyawannya memproduksi  rata-rata 150 potong batik tulis. Batik-batik bermotif akulturasi budaya Cina dan Jawa ini dikirim ke berbagai daerah, seperti Banten, Medan,  Surabaya, maupun luar negeri. Bahkan, sejak tiga tahun terakhir, batik Lasem terus  mencuat ke pentas fashion Tanah Air. 

Mengapa Naomi begitu antuisias mengembangkan batik Lasem ini? Karena, batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia. Keunikan dan cara pembuatan yang khas membuat batik ini sangat digemari oleh wisatawan baik dari dalam negeri maupun manca Negara.

“Ciri khas dari batik tulis Lasem adalah motif pesisiran dengan corak yang unik yaitu warna dominan adalah merah dan biru. Berbagai motif juga sudah dikembangkan untuk menambah corak, warna dan keunikan batik tulis Lasem di antaranya adalah Motif Naga Kricak, Selendang sekar jagat Violet, Lerek gunung ringgit letohan dan masih banyak lagi motif – motif lainnya,” ujarnya.

Naomi menambahkan, kebudayaan Cina paling banyak berpengaruh pada Batik Lasem. Sebagai contoh motif yang dipengaruhi oleh kebudayaan cina adalah motif yang menggunakan gambar burung hong dan pokok – pokok pohon bambu. Menurut kepercayaan Cina pohon bambu melambangkan kerukunan keluarga yang kuat. Batik Lasem juga mempunyai  dua corak khas yaitu : Latohan dan watu pecah. Motif Latohan terinspirasi dari tanaman latoh (sejenis rumput laut) yang menjadi makanan khas masyarakat Lasem, sedangkan motif watu pecah menggambarkan kejengkelan masyarakat Lasem sewaktu pembuatan jalan Daendeles yang memakan banyak korban.

Sumber : inspirasi-usaha.com


0 komentar :

Posting Komentar