Kamis, 14 Februari 2013


Selain sukses mengembangkan waralaba showroom mobil yang pertama di Indonesia, Olivia Antoni juga memiliki mainan lain yang tak kalah menguntungkan. Apa sajakah itu?

Turun dari sebuah sedan mewah berwarna hitam, seorang wanita didampingi beberapa orang stafnya sibuk menyurvei sebuah lokasi di sebuah kawasan mal elit, kota Tangerang. Di mal itu, ia akan mendirikan cabang usaha Spa miliknya berlabel The Family Spa.  Adalah Olivia Antoni, demikian nama pengusaha wanita ramah yang kini telah memiliki kurang lebih 10 outlet Spa  itu.

Spa ternyata mainan baru Oliv– begitu ia akrab disapa. Sebab sebelumnya ia populer sebagai seorang pengusaha wanita yang sangat tangguh di percaturan dunia otomotif tanah air. Apa pasal? Dia yang hanya seorang lulusan sebuah SMU kejuruan, berhasil menjadi sales mobil terbaik sebuah perusahaan otomotif. Selama 7 tahun ia dinobatkan sebagai The Best Sales penjualan Daihatsu sehingga akhirnya dinobatkan menjadi Miss Zebra di perusahaannya.

Tak heran, bonus, komisi tinggi hingga jalan-jalan ke luar negeri kerap dinikmatinya saat itu. Namun saat karirnya tengah naik daun di tahun 2007, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaannya bekerja. Alasannya? Ia ingin serius mengembangkan usaha showroom mobilnya sendiri yang telah dirintisnya dari tahun 2005 dengan nama Aldo Mobilindo, di Cilegon, Banten.

“Saya mengawali usaha ini tanpa modal,” ujar ibu tiga anak ini. Gajinya sebagai sales ternyata tak mampu membeli satu mobil pun sebagai pajangan di showroomnya tersebut. Ia hanya mempu menyewa sebuah ruko berukuran 4×6 meter seharga Rp15 juta per tahun. Sementara itu, showroomnya berlokasi persis di samping sebuah showroom mobil ternama di Cilegon.

Oliv sengaja mengambil lokasi showroom berdampingan dengan showroom besar. “Supaya saya gak repot-repot pasang iklan,” jelasnya terkekeh. Ia melanjutkan, customer showroom besar itu tentulah banyak sekali. Sehingga saat mereka keluar dari showroom itu, otomatis akan melihat showroomnya yang diakuinya tak bedanya dengan warung itu.

“Showroom mobil tanpa mobil kata mereka,”jelasnya kembali berbahak tentang penilaian orang-orang akan showroom yang isinya masih kosong itu. Namun ia tak patah arang. Otaknya berpikir lebih keras sehingga munculan ide yang sangat inovatif agar showroomnya memiliki display unit. Ia meminjam mobil teman-temannya yang tak dipakai siang hari, untuk dipajang di showroomnya. Perhatian pengunjung pun mulai terpana ke showroomnya.

Alhasil, saat ada pembeli yang datang menannyakan mobil itu, ia pun lalu mendatangi pedagang mobil rumahan untuk mendapatkan mobil seperti yang dicari pembeli tersebut. lama-kelamaan showroomnya menjadi tempat penitipan mobil orang-orang yang ingin menjual mobil. Relasinya dalam sekejab mulai luas.

Dari awalnya bermodal zero, perlahan ia mulai membukukan penjualan. “Saya bisa jualan 30 hingga 40 unit per bulan,” kenangnya. Dari jumlah penjualan itu, ia bisa meraup untung Rp100 juta per bulan. Ia bahkan tak membutuhkan modal, sehingga pihak  perbankan pun merayunya untuk mendapatkan modal lebih besar untuk membesarkan usahanya. Alhasil, tahun 2008 ia mendapatkan pinjaman bank miliaran rupiah.

Bukannya kian melambung tinggi oleh pinjaman miliaran rupiah itu, Oliv justru dihempaskan ke jurang yang paling dalam. Ia tak pandai mengatur keuangan atas dasar hutang. Sebelumnya tak memiliki beban, saat itu ia harus memikirkan harus membayar bunga bank. “Padahal di dalam kendaraan itu ada bunga yang berjalan,” jelasnya tentang mobil yang tak laku dijual semisal dalam jangka waktu 3 hingga 4 bulan.

Tahun 2008 ia masuk dalam titik terendah usahanya. Namun ia bukanlah seorang wanita yang lemah. Ia tak menyerah sama sekali dengan keambrukkannya. “Tidak selamanya gelap akan musim hujan terus, pasti akan ketemu dengan musim panas,” begitu Oliv mengilustrasikan grafik turun naik dalam hidupnya yang sudah dianggapnya sebagai hal yang biasa itu.

“Dalam kondisi ini, saya pake ilmu Om Bob (Bob Sadino red.), bahwa iklas dalam hidup,” ujarnya seraya melanjutkan, untuk mencapai keberhasilan butuh sebuah proses yang bisa terbentur-bentur terlebih dahulu. Seorang guru dalam sebuah komunitas (Miming Pangkalis), mengajarkan Oliv saat ia memikirkan utangnya yang kian besar.

“Bahwa kalau saya memikirkan utang saya tak memberikan solusi, tetapi bagaimana saya memikirkan bagaimana solusinya agar bisa membayar utang,” jelasnya mengenang. Dari guru itulah ia akhirnya diperkenalkan dengan temannya di Kalimantan yang kemudian mengundangnya untuk berbagi ilmu dan pengalaman akan kesuksesan memulai usaha dan kegagalan bisnisnya sehingga kemudian banyak yang memintanya mengisi acara motivasi bisnis di Indonesia.

Sebagai motivator dari usahanya mendatangkan kerjasama yang saling mengutungkan. Saat usaha showroomnya sedang sekarat, ia memperkenalkan konsep baru yakni pendampingan bisnis showroom mobil. Ia melihat peluang banyak orang yang ingin diajarkan membuka showroom mobil tanpa display. “Jika saya butuh 8 tahun untuk bisa mendapatkan pengalaman bagaimana merasakan kesuksesan dan kebangkrutan termasuk faktor-faktor penyebab kegagalan, maka mereka bisa menguasainya cukup butuh waktu dua tahun untuk mahir di bisnis ini,”jelasnya.

Di sisi lain, tak sedikit mitra yang salah tafsir tentang showroom mobil tanpa modal. “Mungkin saya bisa memulainya karena telah memiliki banyak relasi usaha sehingga gampang mendapatkan suport dana dari leasing,” terangnya.

Untuk itu, ia tak hanya mensyaratkan franchiseenya hanya menginvestasikan uangnya hanya untuk membeli franchise, tetapi juga menyiapkan dana setidaknya Rp500 juta yang dipegang mitra sendiri, untuk mendukung operasional sehingga bisa mendapatkan suport dana dari leasing. Kini ia telah memiliki lebih dari 28 mitra waralaba Showroom Aldo Mobilindo di seluruh tanah air.

Oliv: Usaha showroom mobil dan Spa sangat prospektif
Membuat usaha Spa berawal dari hobi Oliv yang suka dipijit (massage). Pengusaha wanita tangguh ini tentu selalu membutuhkan kondisi yang segar melalui pijitan. Dari berbagai tempat pijit yang didatanginya, di sana ia juga menemukan sebuah peluang  bisnis. “Kenapa saya gak buka sendiri saja,” ujarnya melanjutkan, dengan pengalaman usaha yang ada, ia mendirikan usaha Spa berlabel The Family Spa dua tahun silam.

Setelah berhasil menjalankan outlet sendiri, ia pun mewaralabakannya. Hingga saat ini ia sudah memiliki 8 outlet termasuk milik mitra. “Dalam waktu dekat akan berjumlah menjadi 9 outlet di Tangerang City,” jelasnya melanjutkan, begitu besarnya permitaan menjadi mitra Spa ini sebab untungnya juga besar. Dalam satu bulan diperkirakan akan kedatangan 600 lebih tamu. Itu karena konsep Spa miliknya tak terlalu mahal, dengan produk berkualitas serta pijitan yang sliming, semisal yang gemuk bisa dikurusin.

“Pijitan sih beda, memang punya guru kebetulan dia sudah pengalaman di beberapa Spa di luar di Thailand dan sebagainya,” imbuhnya. layanan juga bisa dibilang lengkap, seperti Massage, Shiatsu, hotston. Pelayanannya diberikan dalam bentuk paket yang jauh lebih murah, seperti misalnya body scrab sebesar Ro 75 ribu saja, berbeda dengan salon umumnya. Ia juga memberikan instrumen serta aroma terapi yang menggoda.

Setiap outletnya, ia mempekerjakan sebanyak 10 terapist. “Keuntungan sebagai owner sekitar 80 persen. Jadi dengan Rp 75 ribu misalnya, dia hanya mengeluarkan modal Rp15 ribu, itu sudah termasuk insentif buat terapist,” jelasnya. Tak heran, salah satu outletnya di Makassar bisa balik modal selama 6 bulan. Padahal untuk mendirikan outletnya, menghabiskan investasi franchise sebesar Rp 170 juta hingga Rp221 juta.

“Di Makassar itu bisa bersih Rp194 juta. Semua usaha dibawah manajemen Aldo kini telah menuai sukses. Selain serius mengembangkan usahanya, kini Oliv juga kerap diundang menjadi pembicara atau motivator di setiap komunitas usaha. Dalam waktu dekat, ia juga akan meluncurkan sebuah buku yang tak lari jauh dari pengalaman usahanya.

Sumber : forumpengusahaindonesia.com

0 komentar :

Posting Komentar