Senin, 29 April 2013


Awal Juni petang itu, di sebuah toko yang terletak di jalan T. Iskandar, Lambhuk, Kota Banda Aceh, seorang lelaki muda terlihat sibuk melayani para pengunjung. Tujuh meja plastik yang di taruh di halaman toko dipenuhi puluhan gadis remaja. Dua perempuan yang duduk di meja paling pojok  terlihat serius mengamati buku kecil berisi deretan menu. Beberapa saat mereka memanggil pelayan. Menu pilihan kini siap dihidangkan. Begitulah suasana saban hari di tempat ini. Para warga kota Banda Aceh yang demen makanan enak dan unik, tentu Surabi Bantai jawabannya. Penganan tradisional yang dikemas dengan konsep modern ini pasti membuat anda ketagihan. Jangan khawatir soal harga, satu porsi anda cukup membayar enam ribu rupiah. Murahkan?

Surabi Bantai Rasa Saos dan Coklat
Bagi kebanyakan orang Aceh kue serabi sudah sangat familiar. Penganan berbahan baku tepung yang dimakan dengan kuah santan. Berbentuk bulat, dengan permukaan kenyal. Nah, Surabi yang ini lain. Tidak dimakan dengan santan, tidak bulat, tapi tetap empuk. Nama Surabi adalah gabungan antara Sunda dan Aceh. Su berarti Sunda dan Surabi berarti nama kue yaitu serabi. Bantai itu sendiri adalah bahasa Aceh yang berarti bantal. Nah, karena surabi makanan yang empuk sama halnya dengan bantal maka disebutlah Surabi Bantai. Jargonnya pun terkesan unik, Bantai surabinya rasakan empuknya.

Siapa sangka lezatnya Surabi Bantai itu ternyata lahir dari sentuhan tangan dingin pemuda lulusan Teknik Mesin. Alih-alih ingin membuat mesin, eh malah ia membuat kue. Pemuda itu bernama Rivai Fadli. Lahir di Aceh Jaya, tahun 1985. Ia adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) N 1 Kota Banda Aceh. Setelah melepaskan seragam putih abu-abu,  ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan mengambil jurusan Teknik Mesin.

Bagi Rivai kuliah hanya untuk membuka wawasan dan membentuk pola pikir. Bukan berarti ketika kuliah mengambil jurusan hukum anda harus menjadi seorang pengacara. Ia sendiri justru lebih tertarik bergelut di dunia bisnis, meskipun ia tak mengantongi ijazah ekonomi. “Tak ada yang salah kan kalau sarjana teknik tapi berbisnis,” ujar pria berkulit putih ini tersenyum. Sore itu ia bersedia berbagi cerita seputar usaha surabi bantai yang kini membuatnya bisa hidup mandiri. Omset yang didapat dari bisnis kuliner ini setiap bulan mencapai Rp. 90 juta. Bila dikurangi biaya produksi dan operasional lainnya, laba bersih yang masak ke kantongnya berkisar Rp. 35 juta sampai Rp.45 juta perbulan. Membangun usaha mandiri memang tak semudah membalik telapak tangan. Perlu perjuangan dan kesabaran. Jatuh, bangun, jatuh lagi dan bangkit lagi. Setidaknya itu dialami Rivai selama membuka usaha sendiri. Pria yang sudah menikah ini tiga kali mengalami kegagalan. Namun ia tak menyerah justru baginya gagal itu adalah pelajaran tambahan agar ia lebih siap menyambut kesuksesan.

Dan kini apa yang diucapkan terbukti sudah. Bisnis kuliner surabi bantai adalah satu-satunya eksperimen yang berakhir manis. “Saat itu saya jalan-jalan ke Bandung. Usaha ayam panggang baru saja saya tutup. Jadi saya refresing ke sana, siapa tahu dapat ide baru. Di kota Bandung saya melihat, mempelajari bagaimana orang di sana mengelola bisnis kuliner sederhana tapi laku. Saya lihat di Bandung banyak makanan-makanan tradisional yang konsep penjualannya secara modern,” jelas Rivai. Sesekali ia meminta izin karena harus melayani para pengunjung.

Dari hasil observasi itu maka timbullah ide untuk  membuat  kue tradisional Aceh dengan konsep madern. Dan pilihannya jatuh pada kue serabi. Kenapa serabi? “Serabi salah satu kue tradisional yang paling mudah ditemukan di Aceh,” jawab Rivai serius. Sejak pulang dari Bandung, Rivai giat belajar membuat kue serabi. Berbekal tips-tips dari buku dan internet ia terus mencoba. “Tiga bulan kerjaan saya hanya bikin kue serabi. Pertama buat rasanya aneh banget,” kata Rivai terbahak mengenang perjuangan tempo hari.

Bulan ke empat ia mengambil keputusan untuk membuka usaha serabi. Modal awal hanya Rp. 15 Juta. Dengan modal tergolong kecil itu ia membeli peralatan ; gerobak, peralatan masak, tepung dan beberapa buah meja serta kursi plastik. Ia memilih lokasi di depan pertokoan dekat dengan jalan utama Lambhuk. Biar lebih mudah diakses sama pelanggan, begitu alasannya. Awal berjualan orang-orang penasaran makanan jenis apa surabi bantai. Apalagi serabi made in Rivai ini tersedia dalam beragam rasa. Ada rasa coklat, rasa keju, saos, sosis dan telor. “Pertama buka orang pada ketawa, bingung, penasaran. Kok ada ya, serabi rasa sosis. Akhirnya mereka coba, dan ternyata enak, besoknya bahkan mereka minta ditambah rasa-rasa yang lain,” ujarnya.

Bagi Rivai masukan dari pelanggan menjadi ilmu yang berharga. Bahkan ia sangat senang kalau ada pelanggan yang cerewet. Dengan begitu ia bisa tahu apa kekurangan dari makanan yang ia sajikan. “Saya suka dikritik, kalau tidak dikritik saya tidak tahu apa kekurangan masakan saya. Misal hari ini ada pelanggan yang bilang ‘serabinya terlalu lembek’, ya besoknya saya buat jangan terlalu lembek,” katanya membuka konsep dalam berbisnis.

Satu tahun kemudian, Rivai memindahkan gerobaknya ke tempat yang lebih bagus. Kini ia menyewa satu unit toko dua lantai. Di tempat yang baru nama surabi bantai semakin meroket. Kini surabi bantai sudah punya langganan tetap. Dan satu hal lagi yang harus diberi apresiasi, kini ia memiliki 12 karyawan. Ke depan Rivai berniat untuk membuka outlet surabi bantai di Banda Aceh. Targetnya usai lebaran tahun ini. Mimpi besar lain yang ia tanam adalah menjadikan surabi bantai salah satu usaha berbasis franchise. Semoga mimpi itu terwujud.

Sumber : zulkarnainimasry.blogspot.com

0 komentar :

Posting Komentar