Jumat, 08 Maret 2013

Orang tua saya dulu mempunyai profesi sebagai pedagang sayuran di pasar (pagi), sedangkan siang sampai malam membuka warung mie Ayam dan Bakso Urat untuk mahasiswa (kebetulan rumah dekat kampus STIKOM Medan). Dengan menjual berbagai menu siap saji seperti ayam goreng, ayam bakar, dan masakan lainnya warung orang tua sangat banyak pengunjungnya dan menjadi idola di kalangan mahasiswa dan juga masyarakat setempat, karena cita rasanya beda dengan yang lain dan harganya murah. Dari hasil jualan tersebut , Alhamdulillah kami 3 bersaudara dapat sekolah semua sampai tamat SMU dan 2 orang tamat perguruan tinggi termasuk saya. Suatu prestasi yang menurut saya patut diacungi jempol. Tetapi apa yang menjadi cita-cita orang tua kami, tidak lain agar anak-anaknya menjadi pegawai negeri. Dan salah satunya saya menjadi guru SMP. Itulah realitas yang umum terdapat di masyarakat. Kalau dipikir mengapa kami tidak disuruh untuk membesarkan warung ayam menjadi bisnis Rumah Makan yang profesional ? Tetapi itulah sebuah jalan kehidupan saya. Dan kasus seperti ini saya yakin banyak sekali.
Menyembelih sampai membersihkan ayam untuk dimasak, menjadi aktivitas sehari-hari mulai saya berumur 12 tahun. Pagi-pagi selesai shubuh saya sudah berkecimpung dengan ayam, setelah selesai semua baru bisa berangkat ke sekolah. Tidak itu saja, setelah pulang sekolah sampai larut malam, saya selalu terlibat membantu warung mie ayam orang tua. Dan hal itu terus saya lakukan sampai tamat kuliah. Kadang-kadang memang ada rasa iri melihat kawan-kawan yang mempunyai banyak waktu untuk bermain. Akhirnya apa yang dicontohkan orang tua mengenai kedispilinan dan kerja keras sangat bermanfaat dalam membentuk jiwa wirausaha saya dan hasilnya dapat saya rasakan. Saya memang tidak sendiri, tetapi seluruh anggota keluarga juga turut membantunya.
Rumah selain untuk tempat tinggal juga dipakai untuk berjualan. Hal ini berakibat saya mempunyai banyak kawan dan kenalan. Karena banyak tamu yang makan dan menjadi pelanggan tetap kami. Pengalaman interaksi saya dengan pelanggan-pelanggan warung kami waktu itu juga sangat membantu di dalam membentuk jiwa saya ( public relation). 
Dan akhirnya saya kembali ke kota kelahiran saya. Setelah keluar dari PNS saya balik ke kampung halaman saya di Solo. Banyak saudara dan kawan bingung melihat saya pulang kampung dan membuka Warung Mie Ayam kaki lima di Pinggiran jalan Magelang, bahkan tidak sedikit yang berolok. Dengan kesabaran dan ketabahan, serta dibantu oleh 2 orang saya menekuni usaha ini. Sedikit demi sedikit usaha saya berkembang. Usaha saya ini termasuk perintis atau pionir kaki lima lesehan di kota Solo ( 1986). Dan sekarang sudah tak terhitung lagi warung lesehan seperti yang saya rintis ini.
Suatu hari datang kawan saya, seorang penjual bakso di Tebing (saat itu pulang ke Solo juga) menyampaikan bahwa prospek bisnis rumah makan di Tebing sangat bagus. Dengan enteng dia mengatakan bahwa Tebing itu tidak jauh, lebih dekat dibandingkan Semarang, perjalanan hanya 3 jam saja, demikian dia memotivasi saya. Peluang ini akhirnya saya ambil dengan segala resiko. Karena perhitungan saya kalau saya di Solo terus, rasanya sulit untuk berkembang dengan pesat, mengingat Solo waktu itu kotanya kecil (kurang hetereogen), persaingan sangat ketat, karena sudah banyak Rumah Makan mie Ayam / Bakso yang sudah besar.
 
 
Walaupun sudah ada pengalaman, awal-awal usaha saya tidak langsung menuai hasil. Saat itu mie Ayam belum ada di Tebing, dan sayalah yang pertama. Saya hanya jualan Bakso urat dan mie ayam, tidak ada menu lainnya. Setiap harinya hanya bisa menjual 10 / 15 porsi perhari. Saya tidak mempunyai karyawan, semua saya lakukan sendiri. Istri juga tidak terlibat, mungkin waktu itu masih malu. Hal ini berjalan sampai hampir satu tahun.
 
Saya selalu berusaha bagaimana membuat tamu saya kerasan dan mau kembali lagi. Saya selalu menempatkan diri sebagai abdi/pelayan dihadapan tamu. Saya memperlakukan pelanggan-pelanggan saya seperti saudara, saya berusaha untuk mengetahui nama-nama mereka sehingga hubungan dengan pelanggan terasa akrab, saya selalu berusaha mengetahui nama-nama pelanggan dengan cara pura-pura ada yang mencari walaupun salah, untuk kesempatan tanya nama, selanjutnya saya selalu menegur dan menyapa dengan nama agar merasa bangga diantara teman-temannya. Saya juga selalu bertanya apa keluahan-keluhannya selama ini. Masukan-masukan pelanggan juga saya perhatikan untuk terus memperbaiki pelayanan. Banyak tamu saya yang datang disamping makan tentunya, juga untuk bersilaturahmi dengan saya. Bahkan lucunya setelah makan pelanggan saya mengucapkan terima kasih kepada saya. Bahkan kalau mereka lama ( 1 minggu) tidak datang mereka minta ma,af dan dengan berbagai alasan seperti keluar kota, sedang sibuk atau alasan lainnya. Dan 75 % lebih pelanggan-pelanggan saya masih setia datang di Warung / outlet Mas Kirun dimanapun berada sampai sekarang.
Sedikit-demi sedikit jumlah menu saya tambah sehingga lebih bervariasi sehingga tamu mempunyai banyak pilihan. Satu cacatan penting, sebelum menu ini saya tampilkan saya selalu melakukan uji coba berkali-kali sampai mendapatkan rasa yang benar-benar cocok, baru menu itu saya tampilkan, sehingga saya sangat hati-hati dalam hal ini. Untuk penampilan karyawan sedikit demi sedikit juga saya perbaiki, yang sebelumnya tidak pakai seragam, sekarang memakai seragam sehingga penampilan lebih bagus. Semua usaha-usaha di atas ujung-ujungnya adalah membangun image (citra).
Disamping usaha-usaha yang sifatnya internal, saya juga melakukan promosi secara tidak langsung / terselubung lewat tulisan-tulisan saya di koran seperti profil-profil bisnis. Dengan tulisan ini menurut saya lebih bagus, artinya lebih masuk ke dalam pikiran konsumen dari pada saya harus menawarkan diri secara vulgar misalnya “Datanglah ke Rumah Makan Saya, Yang Enak, Murah, Kualitas Bagus.” Saya paling tidak suka iklan seperti itu. Karena sangat subyektif sehingga pembaca pun kadang-kadang malas, dan itu sudah sangat biasa.
Menurut saya iklan yang paling efektif adalah dari mulut ke mulut Tetapi bagaimana dari pembicaraan ke pembicaraan ini kita masalkan melalui press release. Tetapi istilah pembicaraan ke pembicaraan ini dalam era sekarang perlu direkayasa, Artinya kadang kita perlu membuat suatu profil atau bahkan konflik-konflik (positif) dalam bentuk tulisan-tulisan di koran atau di media cetak lainnya bahkan media elektronik. Untuk itu kadang kita undang wartawan untuk membantu keperluan ini. Kalau sudah sekali muncul dengan bagus, nanti media-media lain pasti akan turut meliputnya. sehingga Dengan cara ini Image juga dengan cepat terbangun, dan masih banyak lagi. Itu semua tentu butuh biaya yang tidak kecil, tapi kalau itu merupakan investasi jangka pajang, harus kita lakukan.
Kunci sukses Warung Mie ayam Bakso Mas kirun tidak lepas dari hukum-hukum Tuhan dan Kami memahami bahwa hal terpenting dalam menjalankan roda perniagaannya adalah bagaimana suatu pekerjaan tersebut justru dapat menyelamatkan diri dari siksa api neraka. Sehingga insan Warung Mie ayam bakso Mas Kirun memandang Bekerja Adalah beribadah. Di setiap outlet tersedia sarana peribadatan berupa Mushalla dan mewajibkan pendalaman Agama bagi para staff dan karyawan secara terus-menerus.
 
Di samping berbisnis tentu saya juga harus mengurus rumah tangga( istri dan anak-anak) karena saya adalah suami ( kepala keluarga). Kalau rumah tangga ini tidak kita manage, bisnis kita pasti akan kacau. Sadar akan hal ini, dari awal saya sudah sepakat dengan istri bahwa resiko karier saya adalah seperti ini, maka kita harus menjalaninya dengan ikhlas, dan masing-masing harus tahu betul dan konsisten untuk menjalankan hak dan kewajibannya secara proporsional. Dan Alhamdulillah semua berjalan lancar-lancar saja. Sekali lagi saya sampaikan bahwa peran keluarga sangat besar di dalam kesuksesan bisnis kita.
Usaha yang saya geluti terus berkembang dan berkembang dan akhirnya, pertengahan tahun 1993, BRI menawarkan bantuan pinjaman tanpa agunan (bantuan pegel kop/pengusaha golongan lemah dan koperasi). Sebesar Rp 2 juta. Tanpa saya mengajukan permohonan pinjaman sebab memang tak butuh. Namun, saya setuju dan menggunakannya untuk memperluas warung sekaligus mengganti kompor minyaknya dengan kompor gas yang lebih modern.
Penambahan fasilitas semakin membuat usaha terus berkembang dan akhirnya saya menjadi anak emas BRI, berbagai fasilitas ditawarkan dalam rangka pengembangan usaha saya tersebut.
 
sumber :  blogspot.com

0 komentar :

Posting Komentar