Kamis, 16 Mei 2013


Bisnis laundry kini mulai menjamur di berbagai daerah. Usaha yang memberikan jasa cuci pakaian ini semakin diburu oleh sebagian orang demi alasan kepraktisan. Namun siapa sangka inovasi sistem franchise usaha laundry yang awalnya sekedar iseng, membuat Rahajeng Sasi Kirana (32), pemilik Sun Pretty Laundry sukses membuka 22 gerai bisnis laundry-nya di berbagai kota.

Sasi, biasa ia dipanggil pernah bekerja di LBB Primagama Yogyakarta sebagai accounting sekaligus tentor sebelum akhirnya terjun di bisnis laundry. “Dulu waktu saya di Jogja, melihat banyak sekali tempat laundry yang semuanya ramai. Dari situlah berpikir kenapa nggak buka bisnis laundry saja,” kisah Sasi saat ditemui terasolo.com, Senin (1/4/2013).

Sasi Kirana (30) Pemilik Sun Pertty Laundry. Sun Pretty Laundry yang didirikan sejak 2010 saat ini telah berkembang hingga memiliki 22 gerai di berberapa kota di luar Solo. Foto : Novandi K Wardana.

Dengan modal Rp2 juta dan mesin cuci pinjaman dari ibunya akhirnya ia nekat memulai usaha laundry di rumah eyangnya yang terletak di belakang kampus Universitas Slamet Riyadi Solo.

Diawal usaha, Sun Pretty Laundry yang terletak di Jl Kalingga VII No 18 Solo  ini berusaha menarik pelangganya dengan sistem delivery service. Baju kotor diambil dari tempat pelanggan kemudian dibawa ke gerai dan diantar kembali ke pelanggan setelah bersih. “Awalnya, saya ambil sendiri cucian kotor pelanggan dengan motor dan saya taruh di depan. Seringkali karena banyaknya cucian wajah saya sampai tertutup,” kenang wanita yang lahir 28 Oktober 1980 ini sambil tersenyum.

Melihat persaingan bisnis laundry yang cukup ketat, akhirnya Sasi berinisiatif membuka peluang kemitraan untuk bisnisnya tersebut. “Mitra bisnis pertama saya adalah Ibu Zulkarnain dari Makassar. Sekarang setelah berjalan kurang lebih 3 tahun, bersyukur sudah 22 gerai yang buka,” ujarnya bangga. Gerai Sun Pretty Laundry kini tersebar diantaranya di Surabaya, Tulungagung, Semarang, Sragen, Jakarta, Banjarmasin, Makassar, Batam, dan Bali

Sun Pretty laundry yang merupakan usaha jasa di bidang laundry membuka bisnis dengan sistem kemitraan. Foto: Novandi K Wardana.

Menariknya dalam bisnis kemitraan Sun Pretty Laundry ini, Sasi tidak memberlakukan royalty fee. “Semua keuntungan yang diraih mitra, menjadi 100% milik mitra. Ini tentu tentu sangat menguntungkan,” jelas Sasi. Sun Pretty Laundry menawarkan berbagai macam paket franchise antara lain paket cute, charm, smart, dan briliant dengan nilai investasi mulai dari Rp20 juta sampai Rp70 juta.

Sasi mengaku selama ini ia mengandalkan jejaring sosial sebagi media promosinya. “Sekarang twitter, facebook, dan website terbukti ampuh sebagai media promosi. Buktinya, tak hanya di Solo, Sun Pretty Laundry ini juga bisa dikenal di berbagai kota di Indonesia,” aku Sasi menutup wawancara.

Sumber : terasolo.com


Semua berawal pada 2002 lalu. Saat itu, Avip iseng-iseng menekuni usaha distro. Dia melihat prospek bisnis bidang fesyen yang menjanjikan. Maka, bangku kuliah adalah awal pria asal Kuningan itu mengais pundi-pundi rupiah.

Modal awal Avip saat itu Rp1 juta. Dengan cara online, dia sukses mengembangkan bisnis fesyen hanya dalam jangka waktu dua tahun. Namun, langkahnya tak berjalan mulus. Pria kelahiran Kuningan,18 Januari 1981 itu sempat tertipu hingga rugi besar.

“Waktu itu ada ibu-ibu order baju muslim dengan nominal hingga Rp200jutaan. Tapi barang yang baru saya kirim sekitar Rp50 jutaan. Tapi setelah barang yang saya antar sendiri itu dikasih ke ibutersebut, ternyata dia enggak transfer uang ke saya,” kata Avip kepada INILAH, Minggu (17/3/2013).

Di d’Preneur Cafe, Jalan Burangrang, Kota Bandung miliknya, Avip melanjutkan kisah pahitnya. Saat tak menerima transfer uang, dia pun mendatangi rumah sang pengorder. Namun hasilnya nol besar. “Ternyata dia sudah tidak ada, rugi ditipu saya,” ujar Avip.

Avip rupanya tak menyerah. Dia kembali bangkit dan melanjutkan bisnis fesyen, meski harus menanggung kerugian kepada pabrik tempatnya memesan produk. “Saya meminta kebijakan kepada pabrik tempat saya memesan pakaian. Akhirnya, dia memberikan keringanan buat saya. Karena saya ditipu sebesar Rp50 jutaan, saya enggak bisa bayar langsung. Saya jadinya mencicil beberapa bulan tunggakan saya itu sendirian,” jelasnya.

Tak berhenti di dunia fesyen, Avip lantas melihat peluang lain dari hobinya mengumpulkan biografi orang-orang sukses. Hobi itu rupanya sukses menggiring Avip meraup omzet Rp5 juta-10 juta setiap bulan.

“Saya itu hobi mengumpulkan biografi orang sukses. Dari situ saya lihat peluang dan menjualnya dengan cara menitipkan ke toko buku. Hasilnya lumayan, ongkos burning saja hanya Rp5 ribu. Omzet saya saat itu mencapai Rp5 juta-10 juta per bulan,” tutur Sekretaris Umum HIPMI Jabar itu.

Usaha menjual CD kumpulan biografi orang sukses itu dijalani Avip setelah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Tinggi Manajemen Bandung. Lagi-lagi Avip berpikir merambah usaha lain.

Dia mulai melirik bisnis bidang jasa yakni penyebar brosur.Bisnis sebar brosur itu dia jalani hampir satu tahun setengah pada 2011. Dalam sepekan, dia mampu mendapatkan proyek dari lima hingga enam perusahaan.
“Saya melihatnya waktu itu, perusahaan terus membuat brosur tapi mereka tidak memiliki orang untuk menyebar brosur. Maka dari itu, saya kerjasama dengan mahasiswa yang mau bekerja sebar brosur nanti saya bayar. Dari sini juga keuntungannya lumayan,” papar Avip.

Setelah merambah banyak bisnis baik di bidang barang dan jasa, Avip fokus mengurus perusahaan jasa di bidang bahasa. Dia menawarkan piawai berbahasa Inggris dalam beberapa saat.

Selain itu, dia menekuni bisnis kafe. Bekerja sama dengan teman bisnisnya, Avip menggarap cafe d’Preneur. Dia ingin ‘menyulap’ kafe tersebut bukan hanya sebagai tempat makan dan nongkrong anak muda, tetapi tempat para pengusaha berkumpul dan berbagi ilmu.

“Saya sudah enam bulan di sini. Konsepnya, ingin menjadikan d’Preneur sebagai pusatnya enterprenur. Maka dari itu saya kan menambahkan ornamen yang menunjukkan tamu untuk bisa menjadi pebisnis. Lalu saya juga rutin mengadakan sharing dari pebisnis kepada anak muda yang ingin menjadi pebisnis,” tutupnya.


Sumber : m.inilahkoran.com


Bisnis kuliner memang tak pernah surut. Pengusahanya pun terus menciptakan menu baru, seperti tahu berisi ikan tuna. Tahu tuna ini terbukti sangat digemari. Berkat tahu tuna, produsen tahu tuna di Pacitan bisa meraup omzet ratusan juta per bulan.

Tahu merupakan makanan ringan yang sangat akrab dengan lidah orang Indonesia. Selain kandungan proteinnya tinggi, tahu banyak dikonsumsi karena harganya yang murah.

Untuk mendongkrak harga tahu ini, pengusaha makanan sering menambahkan olahan lain sebagai pengisi tahu. Langkah ini pula yang dilakukan Sri Sumiati. Pemilik usaha Olahan Tuna Pak Ran asal Pacitan ini menambah adonan tuna sebagai bahan pengisi tahu.

Sri belanja tahu putih dari pabrik tahu hingga sebesar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per hari. Tahu putih ini kemudian dia goreng dan di dalamnya diberi isi adonan tuna. Setiap hari, Sri membutuhkan satu kuintal tuna sebagai pengisi tahu.

Bersama suaminya, Pak Ran, Sri menggeluti bisnis olahan ikan tuna sejak 2009. Produk awal olahan tuna Pak Ran adalah bakso ikan tuna, pepes tuna, dan tuna bakar. Sri pun terus berinovasi supaya usahanya tetap berkembang.

Produk tahu tuna merupakan hasil inovasinya tahun ini. “Kami baru mencoba awal tahun ini, peminatnya banyak,” kata Sri. Tiap hari, Sri mampu menghasilkan tahu tuna sebanyak 1.500 bungkus. Tiap bungkusnya berisi 10 buah tahu tuna yang siap makan. Alhasil, dalam satu bulan Sri mampu memproduksi 45.000 bungkus.

Ia menjual satu bungkus tahu tuna seharga Rp 4.500 hingga Rp 5.000. Dari jualan tahu isi tuna ini, saban bulan Sri pun mampu menangguk omzet antara Rp 200 juta hingga Rp 230 juta.

Sri mengaku, awalnya hanya memasarkan produknya sebagai jajanan oleh-oleh wisata Pacitan. Namun, karena rasanya enak, tahu tuna Pak Ran kebanjiran pesanan. “Order banyak berasal dari Surabaya, Malang, Yogyakarta, dan Solo. Biasanya, sekali pesan, mereka minta sebanyak 500 bungkus,” kata Sri.

Sedendang seirama dengan Sri, pembuat tahu tuna lainnya, yakni Dewi Indriani asal Bogor juga menuai berkah dari penganan ini. Wanita berusia 39 tahun ini memulai usaha pembuatan tahu tuna sejak Juli 2011. Seperti halnya Sri, Dewi menggunakan tahu karena banyak penggemarnya. Membuat tahu tuna ini merupakan produk terobosan baru dari usaha Dewi.

Selain itu, Dewi juga melihat kesadaran masyarakat terhadap produk ikan tuna masih rendah. Padahal, ikan tuna sangat kaya akan protein dan omega 3.

Meski baru setengah tahun mengembangkan usaha ini, Dewi sudah memiliki pelanggan tetap yakni sebuah hotel di kawasan Bandengan, Jakarta Utara. Dalam sebulan, ia memasok sekitar 150 kg ke hotel tersebut. Sedangkan sisanya, dia distribusikan di beberapa restoran di Jabodetabek.

Dewi pun bisa meraup omzet hingga Rp 21 juta saban bulan. Ia menjual produknya dengan harga Rp 40.000 untuk ukuran 500 gram. Isi kemasannya terdiri dari 24 potong tahu.

Dewi yakin bisnis pembuatan tahu tuna ini sangat menjanjikan ke depannya. Selain pemainnya masih jarang, dengan tambahan ikan tuna, gizi tahu tentu menjadi lebih tinggi. “Masalahnya ada di strategi pemasaran,” ujarnya.

Maklum, selama ini, Dewi masih mengandalkan pemasaran langsung, dengan mendatangi hotel atau restoran. “Mereka memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang nutrisi tahu tuna,” ujarnya.

Sumber : bisniskeuangan.kompas.com


Musim hujan memang menyebalkan. Kendaraan jadi mudah kotor karena terciprat genangan air. Belum lagi, air hujan yang mengandung kadar asam berlebihan akan menyebabkan cat lebih cepat pudar dan merangsang munculnya karat. Menyadari bahwa mobil pun butuh perawatan layaknya manusia, Hendry Indraguna mendirikan usaha salon mobil Auto Bridal pada Januari 2002. Pria muda kelahiran Bandung pada 28 Agustus 1973 ini merupakan bos pemilik The Auto Bridal Indonesia, sebuah tempat usaha cuci mobil “Busa salju”. Dalam membangun bisnisnya ini, Hendry berkali-kali mengalami jatuh bangun. Berbagai bidang wirausaha pun pernah dijalaninya. Namun, ia selalu bangkit dan kembali dari nol.

Dia menciptakan formula sabun yang aman bagi kendaraan. Sedangkan bagi pemilik kendaraan, Hendry juga menyodorkan sebuah gerai yang bersih dan nyaman. Dia ingin mengubah persepsi masyarakat bahwa cuci mobil itu selalu kotor, berkubang oli, dan lokasinya yang terpinggirkan. Kini, usaha yang semula dianggap kelas bawah ini telah menjelma menjadi lumbung profit. Lebih dari 50 gerai tersebar di seluruh Indonesia, sedangkan 200 gerai lainnya menempati lokasi SPBU Petronas di seantero Malaysia. Usaha cuci mobil garapan Hendry telah mencapai omset sebesar 7,5 miliar rupiah tiap bulan.

Suatu keuntungan yang fantastis bagi seorang pengusaha muda bermodalkan pas-pasan. Sebelumnya, Hendry yang merupakan lulusan Universitas Maranatha Bandung ini pernah bekerja sebagai salesman. Dia kemudian memulai bisnisnya dengan berjualan ayam goreng. Hendry pernah mengalami jatuh bangun dalam berbisnis. Sejak kelas 2 SMA dia mencoba terjun ke dunia bisnis, mulai dari menjadi salesman hingga broker mobil. Tahun 1990-an lalu, dia juga pernah mendirikan kartu diskon berjaringan internasional bersama dengan dua orang koleganya. Namun, usahanya itu pupus di tengah jalan.

Akhirnya, Hendry mencoba bangkit dengan membuka usaha cuci mobil. Namun, ternyata tidak mudah mengangkat bisnis ini. “Saya banyak menerima cibiran orang, menurut mereka cuci mobil tidak bakal mendatangkan banyak uang,” kata Hendry. Dengan modal Rp 250 juta, yang semuanya dari utang, Hendry membeli alat dan bahan cuci mobil, serta menyewa sebuah gedung di kawasan Setiabudi, Bandung. Di minggu-minggu pertama operasional, tak ada mobil yang datang.

Perlahan, Hendry mencoba mencuri perhatian publik untuk membangun brand. Dia mencuci pesawat, membersihkan bangunan Bandung Super Mall yang luasnya 7.500 meter persegi, dan mencuci 470 mobil secara bersamaan dalam tiga jam. Alhasil, usahanya membuahkan hasil. Selain masuk dalam Museum Rekor Indonesia (MURI), usaha Auto Bridal menjadi lebih dikenal orang.

Pada dasarnya, bisnis yang dilakoni Hendry tak jauh berbeda dengan usaha sejenis, yakni memoles dan mengguyur dengan air. Hanya, dia membungkus layanan dengan elegan. Inovasinya adalah pijat, lulur, dan spa untuk mobil. “Seperti kulit manusia, cat mobil juga memiliki pori-pori. Jadi, ketika karyawan kami memijat bodi mobil, bahan pemoles akan meresap lebih dalam,” kata Hendry.

Selain itu, Hendry juga menciptakan Medical Treatment dan Car Spa Massage untuk menghapus buram cat orisinil dan memunculkan kembali warna segar dari cat mobil. Tahun 2007 lalu, dia pernah meluncurkan Ice Cream Car Wash, dengan konsep yang baru, mempunyai pilihan rasa dan warna, seperti Green Tea Ice Cream atau Durian Ice Cream Car Wash. Ice cream ini mengandungvitawax dan megawax. “Ide dan gagasan ini juga di terima oleh masyarakat pencinta otomotif,” ujar Hendry.

Untuk menyenangkan konsumen, Hendry menyediakan kudapan, demo layanan, menu book agar konsumen dapat langsung membaca kegunaan dari layanan yang disediakan, serta pijat gratis. “Tambahannya, karena pelanggan kami kebanyakan pria, keberadaan customer service yang cantik dan mampu memberi informasi produk menjadi sebuah kebutuhan,” ujar Hendry.

Kendati membidik segmen menengah keatas, Auto Bridal tak penah membatasi jenis mobil yang datang. Auto Bridal mematok Rp 25.000 untuk cuci standar. Namun, jika ingin mendapatkan layanan superlengkap, konsumen harus membayar hingga Rp 750.000.Dalam satu hari, setidaknya ada 30 mobil yang datang ke gerai Auto Bridal. Hendry tak menampik keuntungan bisnis ini cukup besar. “Modal tiap kali mencuci mobil hanya Rp 5.000 saja,” bisiknya.

Itu sebabnya, dia mengaku pendapatan bersih yang diterima mencapai Rp 30 juta per bulan per gerai. Hendry mengatakan prospek bisnis ini masih sangat terbuka lebar karena belum ada kompetitor di industri ini. Selain itu, pasar market juga masih sangat besar seiring dengan pertumbuhan jumlah kendaraan yang tidak mengenal kata krisis.

Di kota kecil, Hendry juga menciptakan layanan salon cuci khusus untuk kendaraan roda dua yang dinamai Motor Bridal. Untuk layanan ini, Hendry mematok harga cuci standard mulai dari Rp.6.000. Sementara itu, di kota besar, Hendry menciptakan Auto Express untuk melayani cuci mobil cepat yang lokasinya di SPBU, halaman mal, dan apartemen.

Kisah Hendry yang sukses ini tercatat di dalam sebuah buku berjudul Kumpulan Kisah Para Pengusaha Muda yang Sukses Berbisnis dari Nol, Rahasia Jadi Enterpreneur Muda yang ditulis oleh Jennie S Bev. Dalam bukunya, Jennie mengatakan bahwa untuk berwirausaha, sebenarnya mudah, yaitu dengan meningkatkan mindset dan mulai membuka bisnis sendiri.

Jennie sangat memuji para pengusaha muda yang telah berhasil membangun bisnisnya. Semua itu karena para pemuda yang mempunyai mindset untuk sukses. Kata Jenni, “Success is a mindset, it is not journey or destination.”  Sukses, menurut Jennie, adalah cara berpikir (mindset) bukan perjalanan maupun tujuan. Kesuksesan para pemuda dalam bidang wirausaha rata-rata disebabkanmindset mereka yang sudah terpola dengan keberanian untuk memulai bisnis.

Sumber artikel: anneahira.com


Memulai suatu usaha tidaklah gampang, tapi juga tidak mustahil untuk sukses. Asal ada tekad dan kemauan kuat, pasti suatu saat akan berhasil. Stanly Erungan (40 tahun), seorang anak petani dari Manado membuktikan hal itu berbisnis bengkel sukses. 

seperti di kutip ciputraentrepreneurship, Kini, Stanly sukses menjadi pengusaha bengkel mobil dengan omzet di atas Rp 1 miliar per bulan. Tekad menjadi pengusaha sudah muncul saat ia masih bekerja di sejumlah perusahaan besar, seperti Astra.

Stanly sudah bekerja di Astra sejak lulus dari Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung tahun 1996. Di Unpad, ia mengambil jurusan komputer, khususnya bidang informasi teknologi.

Lama bekerja di Astra, anak ketiga dari empat bersaudara ini sudah menduduki posisi penting di perusahaan itu. Namun, tekadnya yang kuat untuk menjadi pengusaha, tidak menghalangi niatnya untuk terjun ke dunia bisnis.

"Sejak dulu, saya sudah menargetkan bahwa pada usia menjelang 40 tahun harus mendirikan usaha sendiri," katanya seperti dilansir Kontan.co.id.

Begitu keluar dari Astra pada 2001, Stanly tidak langsung terjun ke dunia bisnis dan mendirikan usaha sendiri. Saat itu, ia sempat bergabung dulu di salah satu perusahaan oli di Jakarta.
Di perusahaan ini, ayah dua anak ini semakin memiliki jaringan yang kuat di dunia otomotif. Saat itu, ia rutin memasok oli ke sejumlah pengusaha truk, bus, dan kendaraan lainnya. "Saya akhirnya memiliki banyak kenalan," kata suami dari Maria Natalia ini.

Bermodal jaringan itu, pada 2008, Stanly lantas memilih keluar dari perusahaan oli dan fokus mengelola bengkel mobil di bawah bendera usaha PT Mitra Jaya Agung Motor yang bermarkas di Cikokol, Tangerang, Banten.

Stanly mengembangkan usaha bengkel ini dengan merek Mitra Service Car (MSC). Bisnis bengkel sebenarnya sudah dirintis sejak tahun 2007, saat ia masih di perusahaan oli. "Namun, saat itu yang saya dirikan usaha bengkel motor," ujarnya.

Setelah dua tahun berjalan, bengkel motor itu kemudian dijualnya pada 2009. Setelah itu, ia fokus menjadi wirausaha dan membesarkan usaha bengkel mobil miliknya. Selain bengkel, ia juga menyediakan aneka onderdil mobil dengan merek sendiri, yakni AQ Genuine.

"Saya beri nama AQ yang artinya kualitas nomor satu," ujarnya. Onderdil yang dipasarkannya kebanyakan khusus buat bus dan truk. Di bisnis ini, ia juga memberikan layanan perawatan onderdil.

Dengan begitu, pelanggan tidak lagi pusing jika butuh perawatan dan penggantian onderdil kendaraannya. Berkat usahanya ini, Stanly bisa meraup omzet di atas Rp 1 miliar per bulan seperti grosir baju murah.

Selain menjual onderdil dengan merek sendiri, Stanly juga mengimpor onderdil kendaraan lain yang umumnya berasal dari Eropa.

Setelah merasa mantap dengan perkembangan usahanya, pada tahun 2012, ia resmi membuka peluang usaha bengkel waralaba. Saat ini, ia telah memiliki enam gerai MSC, dan lima di antaranya milik terwaralaba.

Sumber : paraguayosxelmundo.blogspot.com


Fauzi Saleh, contoh seorang pengusaha sukses sekaligus dermawan. Ini berkat kompak dengan karyawannya. Derai tawa dan langgam bicaranya khas betawi. Itulah gaya H. Fauzi Saleh dalam meladeni tamunya.

Pengusaha perumahan mewah Pesona Depok dan Pesona Khayangan yang hanya lulusan SMP tersebut memang lahir dan dibesarkan di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Setamat dari SMP pada tahun 1966, beliau telah merasakan kerasnya kehidupan di ibukota.

Saat itu Fauzi terpaksa bekerja sebagai pencuci mobil di sebuah bengkel dengan gaji Rp 700 per minggu. Bahkan delapan tahun silam, dia masih dikenal sebagai penjaga gudang di sebuah perusahaan. Tapi, kehidupan ibarat roda yang berputar.

Sekarang posisi ayah 6 anak yang berusia 45 tahun ini sedang berada diatas. Pada hari ulang tahunnya itu, pria bertubuh kecil ini memberikan 50 unit mobil kepada 50 dari sekitar 100 karyawan tetapnya. Selain itu para karyawan tetap dan sekitar 2.000 buruh mendapat bonus sebulan gaji. Total Dalam setahun, karyawan dan buruhnya mendapat 22 kali gaji sebagai tambahan, 3 bulan gaji saat Idul Fitri, 2 bulan gaji saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Haji, dan 1 bulan gaji saat 17 Agustus, tahun baru dan hari ulang tahun Fauzi. Selain itu, setiap karyawan dan buruh mendapat Rp 5.000 saat selesai shalat Jumat dari masjid miliknya di kompleks perumahan Pesona Depok.

Sikap dermawan ini tampaknya tak lepas dari pandangan Fauzi, yang menilai orang-orang yang bekerja padanya sebagai kekasih. “Karena mereka bekerjalah saya mendapat rezeki.”, katanya. Manajemen kasih sayang yang diterapkan Fauzi ternyata ampuh untuk memajukan perusahaan. Seluruh karyawan bekerja bahu-membahu. “Mereka seperti bekerja di perusahaan sendiri.” Katanya

Prinsip manajemen “Bismillah” itu telah dilakukan ketika mulai berusaha pada tahun 1989 silam, yaitu setelah dia berhenti bekerja sebagai petugas keamanan. Berbekal uang simpanan dari hasil ngobyek sebagai tukang taman,sebesar 30 juta, beliau kemudian membeli tanah 6 x 15 meter sekaligus membangun rumah di jalan jatipadang, jakarta selatan.

Untuk menyiapkan rumah itu secara utuh diperlukan tambahan dana sebesar 10 juta. Meski demikian, Fauzi tidak berputus asa. Setiap malam jumat, Fauzi dan pekerjanya sebanyak 12 orang, selalu melakukan wirid Yasiin, zikir dan memanjatkan doa agar usaha yang sedang mereka rintis bisa berhasil. Mungkin karena usaha itu dimulai dengan sikap pasrah, rumah itupun siap juga. Nasib baik memihak Fauzi. Rumah yang beliau bangun itu laku Rp 51 juta.

Uang hasil penjualan itu selanjutnya digunakan untuk membeli tanah, membangun rumah, dan menjual kembali. Begitu seterusnya, hingga pada 1992 usaha Fauzi membesar. Tahun itu, lewat PT. Pedoman Tata Bangun yang beliau dirikan, Fauzi mulai membangun 470 unit rumah mewah Pesona Depok 1 dan dilanjutkan dengan 360 unit rumah pesona Depok 2. Selanjutnya dibangun pula Pesona Khayangan yang juga di Depok. Kini telah dibangun Pesona Khayangan 1 sebanyak 500 unit rumah dan pesona khayangan 2 sebanyak 1100 unit rumah. Sedangkan pesona khayangan 3 dan 4 masih dalam tahap pematangan tanah

Harga rumah group pesona milik Fauzi tersebut antara 200 juta hingga 600 juta per unit. Yang menarik tradisi pengajian setiap malam jumat yang dilakukannya sejak awal, tidak ditinggalkan. Sekali dalam sebulan, dia menggelar pengajian akbar yang disebut dengan pesona dzikir yang dihadiri seluruh buruh, keluarga dan kerabat di komplek pesona khayangan pertengahan september lalu, ada sekitar 4.000 orang yang hadir. Setiap orang yang hadir mendapatkan sarung dan 3 stel gamis untuk shalat. Setelah itu, ketika beranjak pulang, setiap orang tanpa kecuali, diberi nasi kotak dan uang Rp 10.000. tidak mengherankan, suasana berlangsung sangat akrab. Mereka saling bersalaman dan berpelukan. Tidak ada perbedaan antara bawahan dan atasan. Menurut Fauzi, beliau sendiri tidak pernah membayangkan akan menjadi seperti ini.

“Ini semua dari Alloh. Saya tidak ada apa2nya.” Kata pria yang sehari-hari berpenampilan sederhana ini. Karena menyadari bahwa semua harta itu pemberian Alloh, Fauzi tidak lupa mengembalikannya dalam bentuk infak dan shadaqoh kepada yang membutuhkan. Tercatat, beberapa masjid telah dia bangun dan sejumlah kaum dhuafa dan janda telah disantuninya. Usaha yang dijalankannya tersebut, menurut Fauzi ibarat menanam padi. “Dengan bertanam padi, rumput dan ilalang akan tumbuh. Ini berbeda kalau kita bertanam rumput, padi tidak akan tumbuh”. Kata Fauzi.

Artinya, Fauzi tidak menginginkan hasil usaha untuk dirinya sendiri. “Saya hanya mengambil, sekedarnya, selebihnya digunakan untuk kesejahteraan karyawan dan sosial.” Katanya. Sekitar 60 % keuntungan digunakan untuk kegiatan sosial, sedangkan selebihnya dipakai sebagai modal usaha. Sejak empat tahun lalu, ada Rp 70 milyar yang digunakan untuk kegiatan sosial.  “Jadi, keuntungan perusahaan ini adalah nol.” Kata Fauzi. ” Jika setiap bangun pagi , kita bisa mensyukuri dengan tulus apa yang telah kita miliki hari ini, niscaya sepanjang hari kita bisa menikmati hidup ini dengan bahagia”

Sumber  : arifperdana.wordpress.com


Kisah  tragis yang menimpa tenaga kerja Indonesia (TKI) seringkali menjadi topik pemberitaan di media massa. Kebanyakan TKI mendapat perlakuan tidak manusiawi ketika bekerja di luar negeri.

Di sisi lain, ada warga yang sukses menjadi TKI dan luput dari perhatian. Salah satunya adalah Edi Suryadi (46), warga Kampung Cirendeu RT 03 RW 03 Desa Mekarsari, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi.

Edi pernah menjadi TKI selama empat tahun di Arab Saudi. Keberangkatan Edi menjadi sopir di negeri orang pada 2000 lalu itu hanya semata untuk mencari modal usaha di negara sendiri. Setelah modal terkuhttp://cms.republika.co.id/news/creatempul, Edi kembali pulang ke Tanah Air pada 2004.

Berbeda dengan TKI lainnya, sebelum berangkat ke luar negeri, Edi telah menguasai bahasa Arab. Pemahaman bahasa Arab diperolehnya ketika belajar di madrasah. "Kemampuan bahasa menjadi modal utama bekerja di luar negeri," tutur Edi.  Jika tidak mampu menguasai bahasa negara tempat bekerja, maka potensi untuk dibohongi dan diperlakukan kasar sangat besar terjadi.

Kemampuan bahasa itu pula yang menjadikan penghasilan Edi lebih besar. Pasalnya, Edi sempat menawar gaji yang ditawarkan kepadanya. Awalnya, gaji yang diberikan hanya sebanyak 800 riyal Saudi per bulan. Namun, Edi meminta sebesar 1.200 riyal per bulan. Permintaan itu disanggupi oleh majikannya di Arab Saudi.
Dampaknya, kata Edi, setiap empat bulan sekali dia bisa mengirimkan uang sebesar Rp 10 juta ke tanah air. Uang itu ditabung oleh istrinya, Eti Budiati (40) untuk modal usaha membuka showroom mobil.

Setelah empat tahun bekerja di Arab Saudi, kata Edi, dia memutuskan untuk pulang ke tanah air. Uang yang ditabungnya selama ini dijadikan modal usaha membuka showroom mobil bekas dan baru di tempat tinggalnya.

Hasil menjadi TKI pun dapat digunakan untuk membiayai anaknya hingga kuliah di perguruan tinggi. Bahkan, Edi sanggup membeli sawah dan mobil pribadi. Meskipun berhasil bekerja di luar negeri, namun Edi enggan kembali ke Arab Saudi. "Bekerja di dalam negeri lebih nyaman," prinsip dia.


Sumber : republika.co.id 


Hidup adalah ujian. Setiap  episodenya adalah tes yang ketika  bisa dilalui menandakan bahwa  seseorang telah naik kelas. Yudi  Ardian bukan hanya naik kelas melewati perjalanan hidupnya. la juga menaikkan kelas warung tendanya menjadi restoran ampuh menjadikan seseorang lebih tabah dan ‘tahan banting’. Seperti yang dialami Yudi Adrian, putra ke-5 dari 6 bersaudara yang dibesarkan dalam keluarga berkecukupan. Ketika ayahnya jatuh sakit, Yudi kehilangan tempat bergantung dan mulai bekerja serabutan untuk membiayai kuliahnya yang baru ditempuh setengah jalan. Pekerjaan sebagai tukang masak di restoran sampai menjadi sopir mobil travel pernah dilakoninya tanpa rasa gengsi.

Akhinnya, bermodal uang pinjaman Rp12 juta yang diperoleh dari seorang kakak, pada 7 September 2008 Yudi membuka warung seafood di kota Padang. Meski awalinya penuh perjuangan keras untuk merebut hali pelanggan, semua itu dilaluinya dengan penuh ketekunan dan sikap pantang menyerah. Kini, usahanya nnulai berbuah. Hanya dalam tempo kurang dari dua tahun, omzet bisnisnya sudah mencapai Rpl,5-2,5 juta per malam dengan keuntungan bersih Rp126 juta per tahun. Tempatnya pun tidak lagi di warung tends, melainkan di sebuah restoran yang berlokasi di ruko.

Benar kata orang, roda kehidupan selalu berputar. Kita tidak pernah tahu kapan akan berada di atas, atau sebaliknya, terpuruk di bawah. Yudi mengalami hal ini ketika masih kuliah tahun pertama di Universitas Bung Halta, Padang. Ketika itu ia mesti menghadapi kenyataan pahit. Kehidupannya yang nyaman sebagai anak kuliahan dari keluarga berada berakhir ketika ayahnya, Zainal Abidin, terserang stroke. Tubuhnya lumpuh sehingga terpaksa dipensiunkan dari jabatannya di sebuah perusahaan migas terbesar di Riau.

Pantang menyerah. Meski sempat ditinggakan pegawai dan kehilangan seluruh uang tabungannya, Yudi selalu mampu bangkit lagi dan menjalankan warungnya seperti sediakala.

Masa-masa ‘bulan madu’ sebagai mahasiswa di tanah rantau pun mesti berakhir. “Kebiasaan menghamburkan uang dan kuliah sekadar main-main tidak bisa diteruskan. Saya tidak mungkin lagi minta uang kepada orangtua,” kenangnya. Boro-boro mencukupi biaya hidup di perantauan, uang hasil jerih payah ayahnya selama bekerja pun ludes untuk biaya pengobatan yang tak kunjung membuahkan hasil.

Ketika pulang ke kampung halamannya di Duri, Yudi amat terpukul mendapati kondisi ayah dan keluarganya yang memprihalinkan. Di satu sisi, ia bersyukur karena masih bisa kuliah, padahal banyak orang lain yang hanya bisa bermimpi. Di sisi lain, ia tak kuasa menahan sedih karena telah merepotkan orangtua dan tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu mereka.

Setelah beberapa lama bersama keluarga di Duri, Yudi memutuskan kembali ke Padang. “Di kota itu, saya kembali mencari jati diri dan berusaha terus memperbaiki diri,” katanya. Yudi pun menjalani kuliah dengan semangat baru. Prestasi belajarnya melonjak, Walau ia biasa bergelimang kemewahan—seperti juga sebagian besar teman-temannya—ia merasa bersalah bila orangtuanya yang sedang susah, masih harus menanggung biaya hidupnya. Namun, kondisi keuangan yang tidak menentu dan terus-menerus hanya menanti kiriman uang dari ibunda, Yusmarni, membuat Yudi menjadi tidak enak hati.

Namun, esensi hidup bukanlah soal bagaimana seseorang ketika terpuruk, tapi seberapa cepat dia bangkit kembali. Demikian pula halnya Yudi, kelahiran 1985 ini. Di halinya tumbuh kesadaran lain. Yudi berpikir keras untuk mencari uang sendiri sembari tetap kuliah. Di usianya yang ke-22, Yudi mendapat kesempatan bekerja sebagai sopir mobil travel. Penghasilannya terbilang cukup untuk membiayai hidupnya. Sayang, profesi baru ini amat memakan waktu dan tenaga sehingga kuliahnya terganggu. Padahal, ia ingin menuntaskan kuliahnya tepat waktu.
Setiap liburan tiba, Yudi pulang menengok keluarganya di Duri. Keadaan rumah tak jua membaik. Kondisi ini memicunya untuk mencari jalan keluar. Di tengah kegalauan itu, tiba-tiba saja tebersit keinginan untuk membuka usaha makanan, berbekal pengalaman bekerja paruh waktu di sebuah restoran seafood. “Saya ingin usaha di bidang yang saya tahu, supaya bisa ikut mengelolanya,” ucapnya.

Bagi Yudi, mempunyai usaha sendiri jauh lebih baik daripada bekerja pada orang lain. “Dengan memiliki usaha sendiri, saya akan menjadi lebih bertanggung jawab. Di tangan sayalah sukses atau gagalnya usaha tersebut. Saya juga mesti bertanggung jawab terhadap kebutuhan karyawan,” kata Yudi. Ditambahkan, menjadi pengusaha juga tidak ada limit penghasilannya. Tidak seperti pegawai, yang gajinya mentok pada angka tertentu.
Tak membuang waktu, ia segera menemui salah seorang kakaknya yang memiliki kehidupan lumayan mapan. Tujuannya tentu saja ingin meminjam modal. Ide untuk membuka usaha sendiri, ternyata tidak mudah juga untuk direalisasikan. “Keluarga menentang keinginan saya. Mungkin karena menganggap saya anak manja yang tidak tahu apa-apa, tak satu pun anggota keluarga yang mendukung,” kenangnya. Tentangan dari keluarga tidak membuatnya patah semangat, justru menguatkan keinginannya untuk segera mewujudkan cita-citanya.

Keseriusan dan kesungguhan niat Yudi akhirnya meluluhkan hali kakaknya, Yuni Fitriani. la meluluskan permintaan Yudi. Berbekal dana Rp12 juta hasil pinjaman itulah Yudi memberanikan diri membuka warung tenda dan menjajakan berbagai menu seafood. Kota Padang menjadi pilihan lokasi usahanya. “Selain dekat dengan kampus, peluangnya juga lebih besar. Di sang juga belum banyak orang yang menjual hidangan seafood,” katanya.

Minimnya pengalaman tak ayal lagi membuat Yudi jatuh bangun menghadapi berbagai hambatan. “Membuka usaha ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan,” ungkapnya. Banyak kendala ia temui. Maklum, ilmu bisnis tak pernah dia dapatkan di bangku kuliah. Jurusan yang diambilnya di kampus tak bersinggungan dengan dunia bisnis, yaitu Hukum Internasional, Yudi menyiasatinya dengan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin.

Cukup sulit untuk menemukan lokasi yang pas, yaitu area yang dilintasi banyak kendaraan dan cukup nyaman untuk makan. Setelah berkeliling kota, akhirnya ia memutuskan untuk membuka Usahanya di Jalan Jhoni Anwar Lapai-Padang. Seluruh persiapan tersebut dilakukannya dalam waktu satu bulan.

Pada 7 September 2008, sebuah warung tenda berukuran 4 x 4 meter dengan spanduk bertuliskan Mutiara Jaya Seafood di pinggir jalan, resmi dibuka. Dibantu seorang sepupu dan dua orang teman, Yudi mulai menunggui warung tenda yang dibukanya sejak pukul 4 sore hingga pukul 1 dini hari. Spesialisasinya adalah bermacam hidangan laut dengan harga terjangkau.

Yudi memiliki harapan benar warungnya akan ramai di hari pertama buka. Namun, kenyataan berkata lain. Kesabarannya benar-benar diuji. Bagaimana tidak, dari sore hingga dini hari, hanya tiga orang yang makan di warungnya. Uang yang diperolehnya saat itu hanya Rp50 ribu. “Kondisi ini sempat membuat saya down. Kok, bisa ya sepi seperti itu?” kenangnya. Semangat Yudi yang awalnya menggebu langsung susut. “Karena masih sisa banyak sekali, nasi yang sudah kami masak waktu itu akhirnya diberikan kepada pemilik tanah yang saya kontrak,” kata Yudi mengenang masa pahitnya.

Hari ini sepi, besok pasti ramai, begitu harapannya setiap hari. Namun lagi-lagi, tidak ada perubahan yang berarti pada warungnya. Dari hari ke hari, jumlah tamu tak kunjung naik. Kondisi sepi ini sertahan sampai tiga bulan pertama. Pemasukan yang didapat dari warung benar-benar tidak sebanding dengan pengeluaran. Sering kali, pendapatan harian tidak cukup untuk mengembalikan modal belanja. Kondisi Yudi sertambah rumit ketika salah seorang teman yang membantunya tidak lagi sanggup bertahan dan memilih hengkang.

Berada di bawah tekanan membuat Yudi tergoda untuk menyerah dan menutup warungnya. Apalagi ia sempat jatuh pingsan dan dirawat selama dua hari di rumah sakit karena kelelahan. Tetapi, rasa tanggung jawab membuatnya memaksakan diri untuk berusaha lebih keras. Alih-alih tutup warung, ia memutar otak untuk membuat warungnya berdenyut. 

Aktif berpromosi. Ketika warungnya sepi, Yudi berinisiatif mempromosikan usahanya ke berbagai penjuru. Termasuk meminta bantuan dari teman-temannya untuk mengabarkan usaha warung tendanya dari mulut ke mulut.

Gagasan baru pun muncul, yaitu mengubah pola promosi. “Jika sebelumnya saya pasif menanti tamu, waktu itu saya coba mengubah pola berjualan dan mulai mengakrabkan diri dengan pembeli. Saya bahkan turut mengerahkan teman-teman di kampus untuk mempromosikan warung saya,” cerita Yudi. “Saya juga mengubah cara kami mempersiapkan hidangan. Dulu terkesan bersembunyi, sekarang kami memasak di depan tamu sehingga ketika menunggu makanan pun tamu dapat menikmati atraksi yang tidak setiap hari mereka dapatkan.”

Selain itu, Yudi pun membuat variasi menu. Dipromosikanlah menu andalan warung tendanya–Kepiting Saus Pedas Thai Tom Yam. Jalan yang ditempuh Yudi membuahkan hasil. Dalam waktu lima bulan, senyumnya melebar melihat jumlah pengunjung yang merangkak naik. Pelan tapi pasti, penghasilan warung pun ikut meningkat. Sejalan dengan itu, beberapa hal dibenahi, termasuk manajemen keuangan warung. Dampaknya sangat terasa ketika semuanya telah berjalan pada jalur yang benar. Tak menunggu waktu lama, penghasilan meningkat pesat. Bahkan untuk melayani pembeli yang setiap malam kian ramai, ia menambah jumlah pekerja. Tahun 2009, Yudi sudah mempekerjakan 7 orang di warungnya.

Tuhan rupanya belum berhenti menguji Yudi. Kesuksesan membutuhkan banyak perjuangan. Baru bernapas lega karena warungnya berjalan sangat baik, ia mengalami musibah. “Sepulang dari Air Bangis untuk menjemput kepiting dan bahan baku makanan laut, mobil yang saya tumpangi bersama tiga orang teman menabrak orang yang sedang mengendarai sepeda motor, hingga ia mengalami lumpuh di bagian kaki,” Yudi berkisah.

Singkat cerita, uang simpanan yang terkumpul selama 1 tahun berjualan terpaksa digunakan untuk menyelesaikan semua persoalan, mulai dari rumah sakit, perbaikan mobil, sampai kantor polisi. “Di ujung hari, uang yang tersisa tinggal sedikit, hanya cukup untuk modal awal jualan saja,” kata Yudi.

Dengan kondisi fisik yang masih trauma, Yudi membuka lagi warungnya. Tak disangka, setelah kejadian itu warungnya semakin ramai saja. Tak henti-hentinya Yudi mengucap syukur, betapa Tuhan selalu punya rendana terbaik untuk umatnya.

Nasibnya kembali benderang ketika terpilih menjadi salah satu peserta kontes Wirausaha Mucla Mandiri dari Bank Mandiri. Bulan November, Yudi mendapat panggilan untuk mengikuti babak penyisihan di Palembang. Saat itu ia berhasil keluar sebagai juara I tingkat wilayah. Air mata bahagia ibunya dan senyum bangga di bibir ayahnya menyambut Yudi sepulang dari Palembang. “Saya terharu sekali melihatnya. Orangtua saya mengaku tidak pernah menyangka kalau anaknya yang manja ini bisa meraih sukses,” kenang Yudi.

Keberhasilan “menaklukkan” kota pempek ini membuat Yudi semakin percaya diri menjalankan bisnisnya. Pada Januari 2010, ia pun maju ke tingkat nasional, yang kegiatannya diadakan di ibu kota, Jakarta. “Di sini saya mendapat saingan yang cukup hebat dari semua daerah,” katanya. Meski tidak mendapatkan peringkat di Jakarta, tapi ia mengaku bangga karena mendapatkan perjalanan luar biasa yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. “Banyak ilmu dan wawasan yang saya peroleh dari teman-teman peserta sesama wirausahawan,” katanya. Dari pengalaman orang lain, ia bisa belajar bahwa setiap usaha memiliki rintangan yang berbeda. Namun, kunci keberhasilan hanya satu, yaitu ketekunan.

Inovatif. Selain membuat variasi menu dan memasak di depan tamu, Yudi juga merandang sistem keanggotaan dan menawarkan diskon pada hari-hari tertentu untuk menarik pelanggan.

Untuk mengembangkan usahanya, Yudi mendapat pinjaman modal usaha dari Bank Mandiri. Warungnya pun semakin dikenal oleh masyarakat Padang. Apalagi salah satu strateginya adalah membuat sistem keanggotaan (membership). Pada hari-hari tertentu, seorang member dapat memperoleh diskon hingga 50 persen. Sungguh sebuah cara marketing yang jarang ditemukan di Padang. la pun berhasil mengubah nasib dan warung tenda pinggir jalan itu `naik kelas’ menjadi restoran mini di sebuah ruko yang terletak di depan warung lama.

Sekarang, kesuksesan telah berhasil dipetik. semua itu dicapai Yudi dari keringat dan jerih payahnya. sebagai bentuk terima kasih pada orangtua, sebagian dari keuntungan warung ia gunakan untuk mengobati penyakit ayahnya dan menopang perekonomian keluarga.

Yudi pun tak lagi cemas memikirkan cara membayar SPP kuliah dan membiayai kehidupannya sehari-hari. Sambil terus berjuang menyelesaikan kuliah yang sempat terlantar, ia berharap bisnisnya ini berumur panjang dan semakin berkembang. Yudi sadar bahwa keberhasilannya adalah buah dari kerja keras dan kesungguhannya mencapai cita-cita.

“Ini semua bukan hasil dari apa yang saya rendanakan, melainkan dari apa yang saya selesaikan,” katanya berfilosofi. “Butuh sesuatu yang sulit untuk mendapatkan yang mudah,” ucapnya penuh rasa syukur.

Sumber : wirasmada.wordpress.com