Rabu, 01 Mei 2013


Dari bambu, Undagi Jatnika Nagamiharja yang juga Ketua Yayasan Bambu Indonesia mampu melanglang buana, mulai dari ke hampir seluruh wilayah Indonesia hingga mancanegara. Lelaki kelahiran Sukabumi, Jawa Barat ini populer dengan rumah bambu buatannya. Ia sudah membangun 3.441 rumah bambu di Indonesia dan negara lain.

Bambu sudah menjadi bagian hidup dari Undagi Jatnika Nagamiharja. Dari tanaman rumpun ini, namanya terkenal sampai ke mancanegara. Dari bambu pula, ia memperoleh sumber penghidupan.

Jatnika memulai bisnis bambu sejak 1996. Dia mewarisi ilmu sang ayah yang berprofesi sebagai perajin anyaman dan mebel bambu. Pertama kali menjalankan usaha, Jatnika hanya membuat anyaman dan mebel bambu.

Sekarang, Jatnika juga membuat rumah bambu. “Saya masih memproduksi mebel untuk desain interior rumah bambu yang saya buat,” katanya. Mebel-mebel bambu buatan Jatnika sudah menembus pasar ekspor, seperti Spanyol, Amerika Serikat, Taiwan, dan Jerman. Begitu juga dengan rumah bambu bikinannya.

Itu sebabnya, Jatnika mengatakan, rumah bambu punya prospek yang cerah. Selain memiliki pangsa pasar luas, perajin rumah bambu masih sedikit. Makanya, pesanan rumah bambu yang terus mengalir.

Sampai saat ini, Jatnika sudah membangun 3.441 rumah bambu di seluruh Indonesia. Mulai dari rumah tinggal, rumah peristirahatan, rumah makan, gazebo, sampai musala. Di pasar ekspor, rumah bambu buatan Jatnika sudah berdiri di Malaysia, Brunei Darusssalam, Arab Saudi, serta Uni Emirat Arab.

Salah satu faktor yang menyebabkan banyak orang memesan rumah bambu ke Jatnika adalah daya tahan buatannya. Aneka rumah bambu buatan Jatnika bisa bertahan hingga 30 tahun. Keawetan rumah bambu bikinan Jatnika berkat proses penebangan hingga perendaman bambu. Karakteristik rumah bambu yang tahan gempa juga menjadi alasan orang berminat memiliki bangunan tersebut.

Setiap bulan, pesanan yang datang ke Jatnika sebanyak 20 rumah bambu. Namun, ia hanya mengerjakan dua pesanan setiap bulan. Tujuannya untuk menjaga kualitas rumah bambu buatannya. “Kalau hanya memikirkan keuntungan, bisa saja saya ambil semuanya, tapi nanti kualitasnya tidak bagus,” ujarnya.

Jatnika memang tidak hanya mengejar keuntungan semata, namun juga kepuasan batin. Apalagi, sejak 1995, dia dipercaya menjadi Ketua Harian Yayasan Bambu Indonesia yang didirikan oleh istri mantan Wakil Presiden Try Sutrisno.

Selain untuk melestarikan bambu, yayasan ini juga dibentuk untuk mengembangkan dan memanfaatkan bambu Indonesia. Para perajin pun dilatih untuk mengenal produk-produk kerajinan yang bisa dihasilkan dari bambu.

Sebab, banyak sekali produk kerajinan yang bisa dibuat dari bambu. “Ada ribuan jenis. Untuk alat musik saja ada sekitar 41 jenis yang bisa dibuat dari bambu, seperti angklung dan suling,” kata Jatnika.

Makanya, pelestarian bambu wajib hukumnya. Pada 1997, Yayasan Bambu Indonesia melakukan penanaman bambu di lahan seluas 11,5 hektare milik Pemerintah Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bambu yang ditanam tak hanya satu jenis, namun beraneka macam. Karena, lahan ini juga berfungsi sebagai museum bambu.

Yayasan ini juga giat melakukan penyuluhan penanaman bambu di lahan milik warga yang ada di daerah Pelabuhan Ratu, Sakawayana, dan Cikedang, Kabupaten Sukabumi. Yayasan Bambu Indonesia pun menjadi pelopor dalam upaya penanaman anggota subfamilia rumput ini di sepanjang bantaran Kali Ciliwung Cisadane, Krukut, Grogol, dan Pesanggrahan. Soalnya, “Bambu bisa sebagai penahan tebing, penahan erosi serta juga penghimpun air,” ungkap Jatmika. Selain semua manfaat itu, penulis buku Rumah Bambu: Aksitektur Khas Jawa Barat ini menambahkan, bambu bisa menjadi obat untuk bermacam penyakit termasuk penyakit liver.

Sumber : kontan.co.id


Tujuh tahun menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Korea di Korea, benar-benar tidak disia-siakan oleh Mugiyanto, yang umurnya sudah tidak terbilang muda. Bapak satu anak yang tinggal di Dusun Silowan, Kelurahan Pager Sari, Kecamatan Bergas,

Kabupaten Semarang, Jawa Tengah ini merasa cukup mengais modal dengan tiga tahun menjadi buruh bimbel (1997-2000), dan empat tahun menjadi buruh tekstil (2005-2009). Setelah itu, ia menekuni bisnis pembuatan batako, paving, bis beton, kolong selokan, dan lain-lain.Sekitar tujuh tahun menjadi TKI merupakan waktu yang sangat singkat sekali dalam mencari modal. Oleh karena itu, ia tidak membuang-buang waktu yang relatif singkat tersebut untuk bekerja dan menabung.

Mengapa ia tidak membuang-buang waktu? Sebab, Mugiyanto setelah mendarat di tanah Air akan menjalani usaha sendiri. Mugiyanto menjelaskan, untuk melakoni bisnisnya tersebut modal yang dibutuhkan mencapai ratusan juta. Modal tersebut dikucurkannya untuk membeli tanah tempat produksi dan gudang sederhana sebesar Rp90 juta. Untuk peralatan dan mesin cetak batako, bis beton, dibutuhkan modal sebesar Rp45 juta.

Membeli dua unit truk kecil untuk mengantar produk pesanan dan operasional diperlukan uang sebesar Rp100 juta. Nah, itu belum terhitung bahan-bahan, seperti pasir, semen, dan sirtu.

Jadi, dalam membuka usahanya, ia menyiapkan modal kurang lebih sebesar Rp225 juta. "Semua uang saya peroleh dari menabung selama menjadi TKI di Korea," ujarnya.

Kini, usahanya berjalan maju. Mugoyanto mengaku dirinya mampu meraup untung sebesar Rp5 juta hingga Rp 7 juta per bulannya.

Sumber : artikelbisnisusaha.blogspot.com

Kisah inspiratif Balamurukan Kuppusamy membuat masyarakat Singapura mengacungkan jempol. Dalam waktu lebih kurang setengah tahun, Balamurukan "mengubah jati dirinya" dari narapidana menjadi pengusaha kedai makanan India yang sukses. Dinginnya hotel prodeo bukanlah sesuatu yang asing bagi pria berumur 41 itu. Dia sudah tiga kali masuk keluar penjara. Total satu dekade terakhir Balamurukan habiskan waktunya di balik di jeruji besi karena serangkaian tindak kriminal.

 Ketika kembali keluar, pada Mei tahun lalu, ayah dari seorang putra berumur 8 tahun itu merasakan hidupnya gelap, tak menentu. Dia bingung, tidak tahu apa yang harus diperbuat. Pada masa-masa sulit itu, lembaga Industrial and Services Cooperative Society (Iscos), muncul dan menjadi malaikat penyelamatnya. Iscos, organisasi sosial yang membantu rehabilitasi mantan napi untuk kembali berintegrasi dengan masyarakat kemudian memperkenalkan Balamurukan ke Dr Leong Kaiwen.

Profesor Ekonomi di NTU itu kemudian menjadi mentor Balamurukan yang tertarik untuk membuka usaha makanan. Dr Leong yang memimpin lembaga non-profit bernama Princenton Mind kemudian memfasilitasi
Balamurukan mengikuti sejumlah program pelatihan untuk membekali dia dengan lebih banyak ilmu mengenai usaha kuliner. Dengan bantuan Dr Leong, Balamurukan berhasil menemukan lokasi yang sesuai di Bukitu Batok dan mendapat pinjaman lunak dari perusahaan yang memfasilitasi usaha kecil dan menengah. 

Saat ini, kedai makanan yang dibukanya sukses besar. Bakat memasak yang dimilikinya sejak muda benar-benar dimaksimalkan. Antrean panjang selalu terjadi setiap jam makan siang di kedainya. "Saya sangat bersyukur dengan perubahan luar biasa dalam hidup, memulai hidup baru yang penuh harapan" tuturnya. Dibantu istri dan ibunya, dia berencana memperluas usahanya dengan membuka kedai makanan Western dalam beberapa bulan ke depan. 

Sumber : kompas.com


Syarifah Azizah, sang pemilik Gadrie Food Industries, tak kenal lelah mempromosikan makanan khas Timur Tengah. Akhirnya, ia berhasil memasok menu asal Jazirah Arab ini ke perusahaan katering hingga supermarket di Tanah Air. Kini, dalam sebulan, Syarifah mampu mengantongi pendapatan hingga Rp 113 juta. Awalnya, Syarifah Azizah adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang hobi memasak. Keahliannya mengolah masakan asal Timur Tengah yang jarang dikuasai kebanyakan orang Indonesia, memicu keberaniannya mendirikan usaha katering pada tahun 2000. Produk andalannya kala itu, nasi kebuli, roti maryam, dan roti jala. Pelanggan kateringnya kebanyakan orang-orang yang menggelar acara pernikahan. Tapi, Syarifah juga menjadi pemasok masakan Timur Tengah bagi katering-katering besar. Sejak 2003, pesanan roti maryam buatannya terus meningkat. Dua tahun kemudian, Syarifah memilih berjualan langsung ketimbang hanya memasok katering besar. Pesaing yang masih sedikit memacu optimismenya bahwa usahanya akan berhasil.

Berbeda dengan kebanyakan pengusaha lain, Syarifah terlebih dahulu mengurus segala surat kelengkapan usaha. Dengan mengusung nama CV Abdi Walidain, Syarifah mengurus Surat Izin Usaha Perdagangan, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWO), dan Tanda Daftar Perusahaan. Ia tak lupa mendaftarkan produknya ke Kementerian Kesehatan serta mematenkan merek Gadrie di Kantor Merek dan Paten. Semua upaya hukum ini ia lakukan atas saran sang suami, Syarief Buchari yang kebetulan anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang usaha herbal. Suaminya tentu tidak mau usaha Syarifah terkendala masalah administrasi, atau yang lebih buruk merek Gadrie dipatenkan oleh orang lain. Syarifah lalu menjual bermacam makanan Timur Tengah dengan produk andalan roti maryam, sambousa, dan bumbu kari. Namun, kesuksesan tidak datang begitu saja. Apalagi, ia menawarkan makanan Timur Tengah yang tidak setenar burger atau piza. Makanya, ia menyadari promosi adalah yang terpenting. Karena itu, Syarifah rajin mengikuti pameran di Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Koperasi dan UKM. Hampir setiap pekan, ia pun membuka stan dalam pameran di Jakarta Convention Center.

Dalam setiap pameran, Syarifah memperagakan cara membuat roti maryam dan makanan Timur Tengah lainnya. Dia juga menjelaskan kepada pengunjung tentang roti maryam dan keunggulannya. Dengan pelbagai upaya itu, lambat laun usahanya berkembang. PT Bogasari Flour Mills dan PT Kraft Indonesia bahkan mengundang Syarifah untuk mengikuti pameran kuliner. Pada 2008, Ranch Market dan Farmer Market juga meminta Syarifah memasok produknya ke seluruh gerai mereka. Jelas, ini merupakan sebuah kebanggaan baginya. “Karena sebelumnya, produk sejenis yang bisa masuk ke dua supermarket tersebut berasal dari Singapura dan Malaysia,” ungkap dia. Akhir tahun 2009, produknya masuk Foodhall dan Foodhall Daily. 

Khusus Foodhall Daily, Syarifah bertugas memasok ke dua restoran cabang mereka dengan beraneka produknya. Desember 2010, produk Gadrie juga mulai masuk ke Kemchick, meski baru di satu cabangnya saja. Syarifah pun mengganti cara promosi setelah produknya masuk supermarket. Kini, ia hanya mengikuti pameran kuliner besar. Selain itu, dia juga mengandalkan internet, seperti Facebook dan Kaskus.

Syarifah memang mengincar supermarket kalangan menengah atas, lantaran harga produknya mahal. Harga roti maryam isi delapan ukuran 11 cm sebesar Rp 40.000, isi enam ukuran 13 cm Rp 40.000, dan isi empat ukuran 13 cm Rp 22.000. Sambousa isi lima, harganya Rp 20.000. Bumbu kari untuk sepuluh porsi, harganya Rp. 30.000.

Ia memproduksi beraneka makanan itu di rumahnya di Rawa Belong, Jakarta Barat. Syarifah mempekerjakan 16 orang dengan waktu produksi Senin hingga Sabtu, mulai jam 07.00 sampai 16.00. Saban hari, dia memproduksi 500 roti maryam dan 250 sambousa. Serta, 100 kotak bumbu kari per dua pekan. Tiap bulannya, Syarifah mencetak omzet Rp 113 juta dengan keuntungan bersih sekitar Rp 60 juta. Meski tetap mempertahankan proses produksi secara manual, Syarifah Azizah berniat mengembangkan pasar dan produk Gadrie Food Industries. Ia pun mendapat dukungan sang anak, Syarief Baihaqi yang akan membantunya dalam ekspansi ini. Sayang, modal masih menjadi kendala.

Untuk memperlancar bisnisnya, Syarifah Azizah juga melibatkan anggota keluarganya. Selain sang suami, Syarief Buchari, anak bungsunya, Syarief Baihaqi, juga punya banyak peran. Jika Syarifah bertanggung jawab pada proses produksi, maka Baihaqi bertugas mendesain produk, memasarkan dan melobi supermarket. Baihaqi memang mengambil kuliah jurusan desain sehingga ia mempunyai kompetensi di bidang ini. Tugas pertama Baihaqi adalah mendesain kemasan-kemasan produk Gadrie. “Ia pernah mendesain kemasan Sambousa hingga harga jualnya naik dari Rp 15.000 ke Rp 20.000,” ujar Syarifah. Baihaqi jugalah yang mencetuskan penggunaan proses vakum agar produk Gadrie bisa disimpan beku. Pada 2011, Syarifah merencanakan ekspansi. Di pasar lokal, ia berencana merambah supermarket di kota-kota besar, seperti Makassar dan Balikpapan. Jadi, “Penggemar produk Gadrie di daerah nanti bisa beli di sana,” katanya. Selain pasar lokal, ibu empat putera ini juga berniat mengekspor produknya. Ia mengincar pasar Malaysia dan Singapura. Pasalnya, pesaing Gadrie hanya dari kedua negara itu. “Saya yakin, di sana pasarnya sudah terbentuk,” ujarnya.

Tak ketinggalan, Syarifah juga bertekad melakukan inovasi supaya produk-produknya bisa dijual di jaringan supermarket kelas menengah, sehingga jumlah pelanggan dapat bertambah. Dia berencana menjual produk Roti Maryam dan Sambousa dalam bentuk satuan plus bumbu kari untuk porsi dua orang. Syarifah mengatakan, dia akan menjual produknya ke salah satu minimarket 24 jam. Selain itu, ia juga akan menambah varian rasa, seperti seafood dan keju untuk Sambousa. Penjualan produk Gadrie melalui supermarket boleh dibilang berhasil. Namun, sistem penjualan seperti ini juga ada ruginya karena mereka harus membayar listing fee pada saat awal. Asal tahu saja, biaya itu tak murah karena dihitung per produk. Selain itu, Syarifah juga harus merogoh kantongnya supaya produknya bisa tampil dalam booklet yang diterbitkan supermarket. “Makanya, untuk masuk ke supermarket butuh biaya besar,” ujarnya. Meski begitu, ia tetap optimistis masa depan produknya cerah.

Namun, Syarifah tak punya rencana untuk membuka gerai sendiri atau waralaba untuk memasarkan produk Gadrie. “Biar orang lain yang menjual, kami tetap fokus pada produksi,” katanya. Sebab, ia juga masih menghadapi kendala lantaran permintaan yang jauh melebihi kemampuan produksi Gadrie. Karena itu, dia sedang mempertimbangkan pengajuan pinjaman bank. Maklum, selama ini, Syarifah selalu mengandalkan modal sendiri.

Sumber : kontan-online.co.id


Jiwa seni yang mengalir deras dalam tubuhnya mengantarkan Nyoman Suarti menjadi desainer perak kelas dunia. Ketika dunia bisnis berada dalam genggamannya, ia justru memutuskan pulang ke tanah kelahirannya, Bali. Bagaimana lika-likunya menembus pasar mancanegara? Gelung Arjuna dalam ajang New York Fashion Show itu membetot ratusan penikmat seni kerajinan perak. Memadukan gaya kontemporer dengan sentuhan klasik Bali, produk dengan kerang atau bebatuan indah seperti mutiara dibalut ornamen ukiran khas Bali itu mengantarkan sang desainer, Desak Nyoman Suarti, berkibar di jagat sosialita New York.  Sejak momen yang berlangsung tahun 1980 itu, sosok energik, lincah, ramah dan cekatan itu, mendapat julukan Suarti Perak Bali. Namanya makin berkibar ketika ia mendirikan galeri kerajinan perak Balinesia Inc. di jantung kota New York, 1986. Setelah itu, kiprah Suarti sebagai desainer perhiasan perak melanglang sampai ke London, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya. Pesanan dari selebritas dunia pun membanjir. Produk Suarti muncul di Value Vision, jaringan televisi belanja di Amerika Serikat. Majalah Vogue Alture pun mengulas rancangan kelahiran Ubud, Bali 25 Mei 1958 ini. 

Mengundang decak kagum banyak kalangan, namanya pun menjadi merek desainer kerajinan perak kelas atas. Kini, sudah ribuan desain yang dihasilkan ibu tiga anak dan nenek dua cucu ini. Toh, hujan emas di negeri orang itu justru menggelitik Suarti untuk pulang ke tanah kelahirannya pada 1990. Bersama sang suami, Peter Luce, ia pulang ke Bali dan mendirikan PT Suarti. Padahal, bisnis perak Suarti tengah berkibar di mancanegara seiring kiprahnya membeli perusahaan perak Kanada, Bali Inc.  Suarti tentu punya alasan. Kepulangannya ke Bali ternyata untuk memperbesar produksi. Suarti tak tanggung-tanggung merogoh koceknya hingga Rp 5 miliar buat mendatangkan mesin-mesin produksi agar para tukang peraknya menyelesaikan order tepat waktu. “Waktu penyelesaian menjadi kendala terbesar dalam menyelesaikan pesanan,” ungkapnya. Mesin-mesin ini diharapkan Suarti bisa meringankan kerja para tukangnya tanpa meninggalkan pekerjaan manual yang menjadi syarat sebuah hasil kerajinan tangan. Sementara pemasaran, Suarti sejak awal memfokuskan diri menggarap pasar ekspor saja dengan meneruskan pasar yang telah dibinanya saat masih di AS. Hampir 90% karyanya diekspor ke AS, Australia, Eropa dan negara-negara Asia. Suarti hanya bekerja sama dengan mitra-mitra bisnisnya secara wholesale. “Kebijakan harga ritel produk saya serahkan sepenuhnya pada mitra bisnis,” ujarnya. Dengan sistem ini membuatnya bisa lebih fokus mendesain dan berproduksi saja. “Saya tidak mau direpotkan dengan permintaan perorangan,” tambahnya. Walaupun diakui bila menjual ritel tentu keuntungan yang berhasil diraup akan jauh lebih besar.

Untuk membantu merealisasi ide-idenya, ia membentuk Suarti Design Centre, yang saat ini menaungi tiga desainer yang siap merealisasikan idenya. “Saya tetap memberikan makna dan jiwa pada setiap produk yang digarap tim,” ujar Suarti sambil memperlihatkan hasil desainnya. “Tanggung jawab desain dan memberikan jiwa pada setiap produk Suarti tetap di tangan saya,” imbuh Suarti menggambarkan posisinya sekarang. Dia mengaku tidak akan pernah kehabisan ide mengingat begitu beragamnya budaya Indonesia yang bisa diadaptasi. “Desain saya dipengaruhi gerak tari Bali,” katanya.  Suarti memang teguh mengeluarkan rancangan bergaya tradisional yang mempunyai kesan unik untuk tetap bersaing di pasar internasional. “Saya tetap berkomitmen untuk tampil melestarikan kehebatan budaya,” tutur Suarti di teras belakang rumahnya yang bergaya tropis, menghadap langsung ke laut lepas di Desa Ketewel, Gianyar, Bali.

Dengan 120 karyawan yang bekerja di kantornya yang letaknya berhadapan dengan rumah tinggalnya, dan tidak kurang dari 350 tukang yang bekerja di rumah masing-masing, Suarti merasa agak kewalahan memenuhi order yang harus diselesaikan untuk bulan Mei-Juli, yang menghabiskan bahan baku hingga mencapai tidak kurang dari satu ton perak yang dikombinasikan dengan berbagai bebatuan. Selain memenuhi pesanan mitra bisnis wholesale-nya, secara rutin setiap dua bulan Suarti juga tampil di home shopping network AS dan Inggris dengan air time empat jam untuk memperkenalkan desain terbarunya berupa satu tema terpadu mulai dari cincin, gelang, kalung, anting hingga bros yang rata-rata dihargai US$ 100 untuk cincin, sedangkan kalung US$ 350. Dari tampilnya di TV itu, Suarti mengaku meraih Rp 1-2 miliar per bulan dengan margin keuntungan rata-rata 30%. Pemasaran produk Suarti memang masih ditangani sendiri. Selain rutin tampil di QVC dan Value Vision, ia juga mengikuti pameran di luar negeri untuk mencari mitra bisnis wholesale, sebagai upayanya memperbesar pasar. “Aktif jemput bola. Go and get it. Ayo desainer Indonesia, you can do it,” ujarnya bersemangat. 

Kerja keras dan bertanggung jawab dijadikan dasar pijakan Suarti untuk terus berkembang di pasar internasional. Tak heran ia begitu bersemangat melakukan perjalanan karena baginya tiga showroom yang ia miliki di Bali hanya dipakai untuk memajang contoh produknya dan sisa hasil ekspor (bila ada), bukan untuk menjaring pembeli eceran. Dengan alasan yang sama, ia memilih tidak mempunyai toko sendiri di luar negeri, melainkan hanya mitra bisnis yang diberi kebebasan menjual secara ritel, tersebar di AS, Inggris, Jerman, Australia dan Jepang, yang rata-rata mampu memberi pemasukan hingga Rp 29 miliar ke pundi-pundi Suarti setiap tahun. Karakteristik pembeli di negara maju, menurut Suarti, sangat gampang ditangkap. “Asal bisa jujur, mempunyai komitmen dan bertanggung jawab terhadap produk yang dihasilkan,” katanya. Setelah hampir 20 tahun, ia berhasil membesarkan PT Suarti tidak hanya memproduksi aksesori berbahan baku perak. Saat ini tidak kurang dari 9 anak perusahaan bernaung di bawah PT Suarti seperti Suarti Ritual of Fire (fashion jewelry), Suarti Homeware, Suarti Gold, Visnu (pengembangan dan kreasi), Luh Luwih (Sanggar Seni Wanita Bali), Maestro Resto Sanur, Maestro Bistro Celuk, dan Swamitra Visnu (koperasi).

Kejelian mengendus peluang bisnis dipadu dengan kekuatan “jiwa” dalam setiap produk yang dihasilkan adalah kunci keberhasilan Suarti mengekspor aksesori perak ke mancanegara dengan omset puluhan miliar rupiah. Padahal, latar belakangnya bukanlah keluarga wirausaha. Ia justru lahir dari keluarga seniman. Kakek dan neneknya, Dewa Limbak dan Jero Nesa, dikenal sebagai pionir penari Legong Keraton. Sang ibu, Jero Gambir, terkenal sebagai penari Arja yang juga menempa Suarti menjadi penari andal. Sementara sang ayah, Dewa Putu Sugi, berprofesi sebagai pelukis. Alhasil, pada usia 10 tahun (1968), Suarti sudah menyabet juara satu Lomba Tari Taruna Jaya dalam Festival Gong Kebyar se-Bali. Mengikuti jejak ayahnya, Suarti juga piawai melukis. “Saya merasa seolah-olah berada di surga saat mulai membuat goresan di atas kanvas,” tutur sulung dari tiga bersaudara ini. Perasaan itu, menurutnya, karena sebelumnya ia hanya bisa mencoret-coret tanah karena kemiskinan orang tuanya. Lukisan perdananya ini ternyata mengundang kekaguman seorang editor terkenal dari New York, Mr. Levine. Tidak hanya tertarik pada lukisannya, Levine juga mengupah Suarti kecil bersama grup tarinya untuk menari. Di kemudian hari Levine banyak membeli dan menjadi penggemar fanatik lukisan Suarti. 

Perjalanan Suarti sebagai pengusaha sejatinya dimulai dari kepiawaiannya menari. Diawali dengan petualangan pertama ke luar negeri pada 1972 saat diajak bergabung oleh Anak Agung Gede Mandra, penari dan pemilik grup tari asal Peliatan, Ubud – yang sangat terkenal saat itu – menjadi Duta Kebudayaan Indonesia untuk ikut menari di Australia. Sejak saat itu, perjalanan Suarti melanglang buana seolah tak terbendung. Apalagi setelah ia diperistri Charles Levins, warganegara AS pada 1973, yang kemudian mengajaknya menetap di Singapura. Pemerintah Singapura kemudian memintanya menjadi pengajar tari Bali yang dilakoni Suarti sambil belajar fashion. Ia sempat menimba ilmu di Prett School of Design dan New York School of Design. 

Seiring perceraiannya setelah 7 tahun menikah, Suarti memutuskan hijrah ke AS. Ia mulai berkiprah di New York Asia Society dan memantapkan diri untuk hidup di dunia seni dengan mengajar tari di seluruh universitas di AS. Ia kemudian menemukan jodohnya, Peter Luce, tahun 1983. Setelah menikah yang kedua kalinya, Suarti mulai menekuni dunia fashion dengan fokus mendesain dan membuat kerajinan berbahan baku perak. Bermula dari produksi kecil-kecilan dengan jumlah terbatas dan hanya dipasarkan di kampus tempatnya mengajar tari, bisnis kerajinan peraknya ternyata berkembang pesat di luar perkiraannya. Namanya berkibar setelah ia mendirikan galeri kerajinan perak Balinesia Inc. di New York, 1986. Ia mengaku modalnya didapat dari hasil “proyek” Presiden Jimmy Carter, yang mengenalnya sebagai duta seni Indonesia. Ia juga sempat mengamen di restoran-restoran untuk menambah modal demi membesarkan usahanya. Suatu hari, seorang pengusaha terkenal yang juga pemilik gerai perhiasan terkenal di Fifth Avenue New York, Henry Bundle, tertarik mengajak Suarti bergabung menjadi model di toko milik Bundle yang menjual perhiasan dari para desainer terkenal di seluruh dunia. 

Kiprah bisnis Suarti makin menjadi saat dirinya dipercaya memiliki gerai sendiri untuk memajang karya-karyanya dengan label Suarti Collection, yang mengantarkannya menjadi desainer perak kelas dunia. “Aksesori saya mampu berbicara sendiri,” ungkap Suarti tanpa bermaksud menyombongkan diri. Artinya, “Desain saya mengandung filosofi dan bermakna sehingga mempunyai ‘jiwa’,” tambah peraih Kartini Award 2007 ini.  Memiliki “jiwa”, kelebihan itu yang menurut Suarti menjadikannya bisa menyejajarkan diri dengan para desainer aksesori dunia lainnya yang secara teknis diakuinya jauh di atas kemampuan dia. “Secara teknis kami kalah jauh,” ia mengakui. “Jiwa” yang berhasil ditampilkan pada setiap desainnya, lanjut Suarti, lebih disebabkan kedekatannya dengan budaya Bali dan darah seni yang mengalir deras di tubuhnya sehingga ia lebih mudah berekspresi untuk menciptakan suatu desain. Talenta dan kejelian mengendus peluang bisnis meluaskan garapan Suarti ke home accessories peranti makan dan perabot rumah tangga, seperti sendok garpu dan hiasan dinding. Juga makin menyebar ke pasar internasional seiring strategi pemasaran yang dikembangkannya lewat dunia maya. Tak pelak, ragam produk Suarti hadir di sejumlah situs belanja dunia.

Keberhasilan bisnis tak membuat Suarti melupakan akar seni tari. Di balik tubuh rampingnya, pemilik beberapa tato di tubuhnya ini aktif memimpin Forum Peduli Budaya Bali yang didedikasikan untuk melestarikan budaya Bali. Sebagai orang yang telah cukup lama berkecimpung di bisnis yang menjual seni, Suarti mengaku paham benar kalau telah terjadi kegiatan ilegal mematenkan motif tradisional. Sehingga untuk bisa memakai motif tertentu, perajin harus membayar sebesar nilai tertentu kepada pihak yang mempunyai hak paten. Ancaman hukuman dan penolakan dari negara pengimpor hasil kerajinan menurut Suarti cukup meresahkan para perajin. “Saya tetap pasang badan di barisan terdepan untuk menjaga warisan budaya leluhur kita. Jangan sampai di kemudian hari kita harus membayar pada pihak asing untuk bisa menggunakan budaya kita,” tutur Suarti. Kepedulian Suarti untuk bisa maju bersama-sama ditunjukkannya dengan membuka lebar pintu komunikasi bagi yang tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang seluk-beluk bisnisnya mulai dari produksi hingga bagaimana bisa menembus pasar luar negeri. Maka, ia berencana mendirikan sekolah desain plus di mana selain mengajarkan tentang seluk-beluk desain, juga manajemen pemasaran. Tidak hanya itu, di tengah aktivitasnya mendesain dan melakukan perjalanan bisnis, Suarti tidak pernah melupakan obsesinya mendirikan Museum Perak. ”Sebagai bentuk kecintaan saya pada dunia seni, khususnya kerajinan perak,” ungkapnya. 

Keterbukaan Suarti dirasakan benar oleh para karyawannya. Suarti yang akrab dipanggil Mami oleh karyawannya ini tak canggung mendidik langsung bila ada karyawan yang baru bergabung. Hal ini dirasakan oleh salah seorang karyawannya, Dewi, yang langsung bergabung begitu lulus SMK Pariwisata, tiga tahun lalu. “Mami baik dan penuh pengertian,” kata Dewi. Menurutnya, Suarti tak pelit berbagi ilmu dengan para pegawainya. Dari Suarti-lah, Dewi yang tidak punya latar belakang pengetahuan tentang perak, sekarang tahu banyak tentang produksi hingga pemasarannya. “Mami tidak menjaga jarak dengan anak buahnya, ” tambah Dewi.

Sumber : franchise-entrepreneur.blogspot.com


Suwandi, yang kini lebih dikenal sebagai MS Wawan, seorang pelukis andal dari Jember, yang sudah melakukan pameran di empat benua di dunia, tak pernah menyangka nasibnya sebagai pelukis akan seperti ini. Mantab menjadi pelukis sejak masih duduk di bangku SMP, MS Wawan harus mendaki bukit terjal untuk mencapai kesuksesannya saat ini. Masa lalu Wawan penuh dengan ikhtiar dan keprihatinan. Dibesarkan oleh kakek dan nenek di Kota Malang, karena orangtua sudah meninggal dunia, membuatnya menjadi seorang anak yang pendiam dan tertutup. Sejak, masih kanak-kanak Wawan akrab dengan kesunyian. Dia senang menyendiri dan merenung sendiri. Untuk ukuran anak lelaki, sifat Wawan bisa jadi sentimental layaknya anak perempuan. Dia bisa mendiamkan teman lelakinya hanya karena sakit hati melihat sang teman berpelukan mesra dengan orangtuanya. Rasa sakit yang mengiris hatinya bak sembilu itu karena Wawan tak pernah merasakan sentuhan ayah dan ibunya. Yang dia tahu, dia hanya anak yatim-piatu yang dibesarkan oleh kakek-nenek dan hidup bersama saudara-saudaranya. Hidup dalam keterbatasan, yang membuat dia mulai termotivasi untuk mencari nafkah sejak masih kanak-kanak. Di bangku sekolah dasar, di Malang, dia memilih menjadi penjual es. Dia jual ke teman-temannya untuk menambah uang saku ke sekolah.

Berlanjut ke SMP, Wawan memilih menjual kacang permen. Di masa SMP ini, dia mulai menunjukkan ketertarikan yang sangat pada dunia melukis. Bakat itu memang ada sejak dia masih kecil, hanya tak terlalu menarik minatnya. Di bangku SMP, dia melukis wajah kakek dan nenek salah seorang temannya dalam bentuk sketsa. Karena keterbatasan bahan, waktu itu dia tidak menggunakan pensil ketika membuat sketsa. “Saya menggunakan bekas baterai,” katanya. Komponen baterai memang menggunakan bubuk karbon yang berwarna hitam. Bubuk itu, dia keluarkan dari baterai, dan dia gunakan sebagai alat pengganti pensil. Itu pertama kalinya dia melukis dan langsung menerima bayaran. “Itu uang pertama dari lukisan. Dan saya bangga sekali,” katanya. Kejadian menggembirakan itu adalah tonggak pertama, dia mulai berpikir untuk mencari nafkah dari melukis. Dia sudah memantabkan diri untuk menjadi seorang pelukis. Hanya saja, karirnya untuk menjadi seorang pelukis tak bisa langsung dia wujudkan. Dia masih diharuskan untuk melanjutkan sekolah di bangku SMA. Sambil terus melukis, dia kembali berjualan. Kali ini, dia memilih menjadi penjual koran, majalah, dan buku TTS di Stasiun Tugu Yogyakarta. Setiap hari dia menumpang kereta yang melaju di jalur Solo-Klaten-Yogyakarta-Kutoarjo. Begitu terus setiap hari. Di sela-sela menjual koran, majalah, dan buku TTS itu, diam-diam Wawkat mengasah bakat lukisnya. Dia menggunakan aneka kardus yang sisa bungkus barang-barang yang bergeletakan di stasiun sebagai media gambarnya. Dia tentu saja tak bisa dengan mudah membeli kertas gambar. Mahal dan pasti akan menghabiskan uang hasilnya bekerja. Dari kardus-kardus bekas itu, dia melukis seorang anak, seorang kakek, seorang ibu, hiruk pikuk stasiun.

Awal yang mendekatkannya pada potret kehidupan anak manusia. Lulus dari SMA Jetis Yogyakarta, dia mantab melanjutkan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta. Masuk ke sekolah seni dia mendapat tentangan dari kakaknya. Masa depan seniman ketika itu kerap membuat orang mengerutkan keningnya ketika anak sanak saudara atau anak mereka memilihnya menjadi gantungan nafkah. “Mau jadi apa kamu kalau jadi seniman lukis. Itu kata kakak saya. Masak kamu nggak ingin menjadi dokter. Itu kan lebih enak. Masa depan terjamin,” katanya menirukan provokasi sang kakak. Secara terus menerus, sang kakak terus memprovokasi Wawan untuk mengubah keinginan menjadi pelukis. Sang kakak terus menerus menekankan bahwa menjadi dokter atau pegawai akan membuatnya hidup makmur.

Wawan hanya bisa menghela napas panjang. Dengan pelan, dia berusaha memberi pengertian kepada sang kakak. Tentu, dia tak ingin sang kakak sakit hati. Karena kakaklah yang merawat dia sebagai pengganti orangtua. “Saya bilang, Kak, selama ini pernahkah saya menolak saran dan nasihat kakak. Tolong, sekali ini biarkan saya menempuh jalan hidup saya sendiri,” katanya. Tak ada kesepakatan. Yang ada hanya pembiaran dan sikap diam. Sang kakak memilih tidak menegurnya ketika Wawan nekat melanjutkan pendidikannya di ASRI. Melanjutkan mimpi-mimpinya untuk menjadi seorang pelukis. Tiga kali hari raya kakaknya tak menegurnya. Tapi, lama kelamaan keluarga bisa menerima dirinya sebagai seorang pelukis. Perjuangannya yang tak tanggung-tanggung membuat dia sukses menjadi seniman lukis.

Wawan sudah pameran di 26 negara. Pertama kali pameran diluar negeri, dia sudah mengunjungi Berlin, Belgia, Rotterdam, Amsterdam, dan Brussel, serta beberapa negara lain. Bulan Juni nanti, dia kembali akan melangsungkan pameran di Menara Jamsostek Jakarta, Yogyakarta, Nusa Dua Bali, Kyoto Jepang, Singapura, dan Putra Jaya Malaysia. Pameran, bagi seorang seniman sangat mutlak diperlukan. Wawan menilai seniman itu harus konsisten untuk pameran. “Selain untuk menambah wawasan dan untuk menunjukkan inilah karyaku, pameran itu untuk menambah poin kharismanya. Sebuah titik awal menjadi maestro,” katanya. Pameran di berbagai negara juga sangat menguntungkan pelukis tanah air karena menambah kemajuan bagi karya mereka. Berbeda dengan seniman di Indonesia yang kadang kelewat eksklusif, seniman mancanegara justru lebih bersahabat dengan sesama seniman. Ada sharing pengetahuan dan teknik melukis, ada rasa saling isi mengisi. “Beda jauh, kalau seniman luar negeri mereka lebih friendly. Akhirnya, kami bisa saling isi mengisi,” katanya.

Di Jember, seniman masih terikat dengan teori. Bagi Wawan itu menghambat seorang seniman untuk lebih maju. Seniman hanya tenggelam dalam idealisme tapi tak kunjung berkembang. “Kalau teori sudah sampai Pluto, tapi orangnya masih di Jelbuk. Padahal, kalau mau lebih maju, pasti bagus,” katanya. Untuk sampai ke pameran di berbagai negara, selepas dari ASRI Yogyakarta, dia masih harus magang di seorang maestro Belanda, yang kini tinggal di Bali. Di sana, dia terus mengasah kemampuan melukis, sekaligus kepekaan sebagai seorang seniman. Kini, karya-karyanya sudah banyak dipesan oleh kolektor dengan pasaran sekitar Rp 40 juta ke atas. Bahkan ada sebuah karya yang sudah ditawar Rp 120 juta. Karya itu dia beri nama Bamboo Village. Tak lama untuk membuat sebuah lukisan. Wawan juga tak percaya dalam proses berkreativitas, seorang seniman tergantung pada mood. “Oh saya tak percaya itu. Seniman ya seniman, mau suasana kacau, tenang, berisik, harusnya ya tetap bisa berkarya,” katanya. Dia sendiri merasa ada hutang ide jika dia tidak segera menuangkan ide-idenya dalam sebuah karya lukis.

Untuk ide, dia juga mengaku tidak tergantung mood. Ide bisa datang dari mana saja. Bahkan, pertemuan dengan seorang wanita muda Tiongkok ketika dia berada di Shan Dong, bisa menjadi sumber inspirasi. Awalnya hanya say hello, berlanjut dalam hubungan pertemanan, akhirnya wanita muda itu bersedia menjadi modelnya. Sungguh mudah bukan, asal ada niat disitu pasti ada jalan. “Berkarya dengan menggunakan otak yang diciptakan Tuhan, itu sungguh tak terbatas. Bukan karena mood, mood bisa dikendalikan asal kita sungguh-sungguh menjalani dengan sepenuh hati,”pungkasnya.

Sumber : sosok.kompasiana.com


Hobi mengenakan aksesoris dan barang-barang unik sudah dijalaninya sejak Ia duduk di bangku perkuliahan. Bermula dari hobi tersebut, Helen Remyvone akhirnya tertarik terjun ke dunia bisnis aksesoris, karena dia melihat semua kalangan masyarakat suka memakai aksesoris, khususnya kalangan remaja putri.

Belasan tahun bergelut dalam dunia aksesoris, kini Helen menjadi wanita sukses di bisnis aksesoris wanita. Perjalanan usahanya dimulai dari menjual aksesoris di sebuah bazaar, sampai akhirnya sekarang Ia sukses membangun jaringan gerai aksesoris dengan mengangkat brand Stroberi sebagai nama usahanya.

Setelah lelah berjualan dari satu bazaar ke bazaar yang lain, perempuan yang lahir di Palembang, 4 November 1977 ini kemudian memutuskan membuka gerai aksesoris pertamanya di Bandung Trade Center (BTC). Gerai aksesoris yang diberi nama Stroberi ini berhasil tumbuh dengan baik, sehingga sekarang ini telah tersebar sekitar 70 gerai di seluruh Indonesia. Sebagian besar gerai Stroberi terletak di mall besar atau pusat belanja ternama di seluruh nusantara.

Awal Mula Kesuksesan Gerai Stroberiilustrasi aksesoris wanita

Mengawali usahanya pada tahun 2003, dulunya Helen turun tangan sendiri menjaga gerai aksesoris Stoberi dengan dibantu dua orang karyawannya. Dengan ikut terjun langsung menghadapi para konsumennya, Helen bisa semakin memahami kebutuhan para konsumen. Ia melihat animo masyarakat cukup baik terhadap kehadiran Gerai Aksesoris Stoberi yang dia usung, terutama para remaja putri yang sangat antusias terhadap aneka macam produk aksesoris.

Konsep toko one stop shopping yang belum pernah ada sebelumnya, serta pilihan produk dengan pasar segmented menjadi kunci keberhasilan Helen membangun bisnis aksesoris. Melihat kesuksesan bisnisnya, banyak pengusaha ritel yang tertarik untuk menjalin kerjasama. Bahkan beberapa pengusaha mulai mengikuti langkah Helen dengan membuka toko serupa. Meskipun begitu, Helen tetap optimistis dapat mengantarkan bisnisnya menuju gerbang kesuksesan. Ia yakin, persaingan justru akan membuatnya lebih kreatif. Buktinya, sampai hari ini masih banyak pengelola mall di Indonesia yang meminta Stroberi untuk buka di pusat belanja mereka.

Dengan tetap konsisten memberikan produk-produk yang up to date, sekarang ini Gerai Stroberi terus bertambah di berbagai pelosok daerah. Bahkan untuk menjaga loyalitas konsumennya, hampir setiap hari selalu ada new arrivals di gerai aksesoris yang didominasi warna pink tersebut.

Tak hanya itu saja, Helen juga berusaha mengikuti perkembangan fesyen terkini serta rela berburu aksesoris ke beberapa negara tetangga untuk menemukan barang-barang unik yang banyak dicari para konsumen. Dibantu oleh suaminya yang bernama Oke Remyvone, sekarang ini Helen terjun sendiri dalam pembelian barang dan mengawasi pertumbuhan bisnisnya dengan penuh ketelitian.

Semoga kisah sukses Helen Remyvone membangun bisnis aksesoris bermodalkan sekedar hobi ini bisa memberikan inspirasi bagi Anda yang juga ingin merintis peluang bisnis dari passion yang Anda miliki. Mulailah dari yang kecil, mulailah dari yang mudah, mulailah dari sekarang! Salam sukses.

Sumber : bisnisukm.com


Cerita saya dengar dari saudara yang kebetulan lebaran kemarin jalan-jalan ke Bali. Saudara saya bercerita bahwa temannya di Semarang bisa mendapatkan keuntungan sebesar Rp.300.000 semalam dengan hanya berjualan nasi kucing. Rasa ingin tahu yang besar langsung mengantarkan saya ke pertanyaan "metodanya bagaimana?". Singkat cerita ternyata si penjual nasi kucing hanya bermodalkan gerobaknya saja, sedangkan nasi kucing nya sendiri sudah ada orang tertentu yang bisnisnya hanya membuat nasi kucing. Nasi kucing yang tidak laku dapat dikembalikan lagi ke suppliernya sehingga si empunya gerobak tidak mengalami kerugian.

Dengan memanfaatkan selisih harga nasi kucing yang diterima dari supplier dan animo masyarakat untuk mengkonsumsi makanan ini maka tidak heran jika keuntungan yang didapat cukup besar. Jika harga dari supplier Rp.800 dan dijual kembali seharga Rp.1200 maka selisih Rp.400 rupiah tersebut menjadi keuntungan si penjual. Untuk melengkapi barang dagangannya biasanya penjual nasi kucing juga menyediakan es the dan mie rebus, makanan dan minuman yang notabene bisa dibuat olah orang awam sekalipun.

Istilah posisi menentukan prestasi juga merupakan parameter berjualan nasi kucing ini. Dengan waktu penjualan yang dimulai di malam hari mengharuskan penjual juga mencari segmen pasar para begader (orang suka begadang) yang suka dengan makanan murah, siapa lagi klo bukan kalangan mahasiswa. Maka tidak heran jika di sekitar kos-kosan mahasiswa bisnis nasi kucing ini cukup menjamur. Inti dari cerita diatas adalah bukan dari keuntungannya namun bagaimana pola pikir seorang wirausaha terbentuk. Berpikir sederhana dan mengembangkan suatu usaha yang sederhana ternyata bisa membuat segala sesuatunya menjadi besar.

Tidak heran kiranya jika di agaman Islam juga diajarkan bahwa 9 dari 10 rezeki adanya di perdagangan. Maka jika anda orang gajian, anda adalah salah seorang dari sekian juta orang yang memperebutkan 10% dari rezeki yang ada….hehehhe termasuk saya juga.

Sumber : bisnisforkabas.blogspot.com