Rabu, 10 April 2013

Tatang Sutikno terdiam. Bisnisnya hancur, mengangakan utang. Anak ketiganya, Tung Desem Waringin, yang baru dilahirkan di Solo, 22 Desember 1967, tak mampu ia tebus dari rumah sakit. Uang sumbangan dari para saudara justru ia pakai untuk membayar utang. Selintas ia seolah ayah yang kejam. Namun, justru ia tengah memberi pelajaran pertama pada si orok. “Kita harus memegang janji. Walau tak punya uang, harus tetap bertekad membayar utang,” begitu Tung menirukan kata-kata ayahnya.

Syukur, mulai 1969 ayahnya mulai bangkit, punya toko emas. Ketika duduk di kelas 2 SD, Tung dan kedua kakaknya dipanggil sang ayah. “Kalau kita tak bisa jualan dengan baik, maka toko akan tutup, lalu kalian tak bisa sekolah, dan kita semua tidak bisa makan,” begitu pesan Tatang. Tung kecil amat sedih, membayangkan dirinya tidak makan, lalu mati.

Sejak itulah Tung mulai tertarik pada dunia marketing. Otaknya berpikir keras, bagaimana caranya orang bisa percaya seumur hidup dan toko berjalan terus. Ayahnya selalu bilang, “Kamu tak boleh nipu!” Itulah pelajaran kedua.

Jatuh-bangunnya usaha ayahnya membuat Tung terobsesi, suatu saat harus bisa membantu toko ayahnya meraih sukses. Juga membantu toko orang lain, agar tak terjadi hal yang sama dengannya. Itulah awal ia memberi perhatian bagaimana membantu supaya bisnis orang lain bisa jalan.

Namun, seperti juga usaha ayahnya, perjalanan sekolah Tung hingga kelas 2 SMA tidak mulus. Baru ketika kelas 3 SMA ia mulai sadar karena takut enggak lulus. Ia ingat nasihat ayahnya sejak kecil, “Kalau ingin sukses, bergaullah dengan orang sukses.” Ia pun ikut les kimia bareng para juara I sekolah lain. Akibatnya, ia paling lemah. Gurunya gemas. Tung terpacu, semua soal dari Skalu tahun 1965 – 1985, pelajaran kimia, matematika, fisika, minimal sudah empat kali ia kerjakan. Karenanya, ia hafal, dan nilai Ebtanas murninya cukup bagus.

Tung muda diterima di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, di Fakultas Ekonomi, jurusan Studi Pembangunan. Ia merasa salah jurusan, tidak happy. Lalu mendaftar ke Fakultas Hukum (FH) UNS jurusan Hukum Perdata. “Di sini saya fokus, determinasi one and only.”

Ia bertekad jadi nomor satu. Maka, ia menempel ke mahasiswa teladan. Ia dapat tiga resep. Pertama, indeks prestasi harus di atas 3. Kedua, harus aktif di lembaga kemahasiswaan agar menonjol dan sosialisasinya bagus. Ketiga, harus aktif ikut lomba karya ilmiah. Berkat tekad membara itu, berbagai gelar juara dalam perlombaan akademis berhasil diraihnya. Tak kurang 32 piagam kejuaraan ia kumpulkan, termasuk juara tenis meja dan juara panco.

Semangatnya untuk kuliah dengan baik juga ia tunjukkan. Sebelum kuliah, ia membaca empat buku acuan, padahal yang dianjurkan cukup satu buku. Saat kuliah, ia duduk di depan dan rajin bertanya. Dengan begitu dosen mengenalinya sebagai mahasiswa aktif dan pintar. Mulai semester awal nilainya sudah bagus. Kuncinya, ia adopsi dari mahasiswa teladan tahun sebelumnya, yang menyuruhnya mempelajari soal-soal ujian tahun-tahun sebelumnya. Dari mana ia dapat? “Dari karyawan tata usaha kampus, saya sogok makan gado-gado, ha-ha-ha ….”

Ketika tinggal skripsi, Tung menjadi salesman emas, yang ia ambil dari toko kakaknya dan dari pengusaha emas di Jakarta. Ia berkeliling dari toko ke toko, mulai dari Tayu, Jepara, Semarang, Salatiga, Ambarawa, sampai Pekalongan. Selagi asyik dengan emas, Tung terpilih jadi mahasiswa teladan UNS. Karena ia jarang kuliah, temannya menyindir, “Wah, teladan nih. Kalau semua mahasiswa meniru kamu, kampus kosong.”

Rahasia Tung menjadi yang terbaik rupanya sederhana, yakni keyakinan bahwa “Suatu kejadian negatif, jika diberi arti berbeda ,maka hasilnya jadi positif.” Ia memberi contoh, ketika ayahnya gagal berjualan emas, ia terpacu untuk piawai berjualan. Betul juga, Tung malah sukses menjadi salesman emas.

Lulus kuliah, begitu banyak ia mengirim lamaran. Namun, tak satu pun yang memanggilnya. Hanya Bank Central Asia (BCA) yang tertarik memanggilnya pada Agustus 1992. Dari 200 pelamar tersaring hanya delapan orang. Semuanya lulusan luar negeri, kecuali Tung. Ia langsung menjalani training di Jakarta. Di kelas, ia menonjol karena banyak bertanya, walau tak jarang pertanyaannya terlampau awam sehingga sering ditertawai seisi kelas. Ia tak perduli. Pada ujian minggu pertama nilainya tertinggi. Teman dan pengajar mulai respek. Akhirnya, ia menjadi lulusan terbaik.

Ia langsung dikirim ke BCA cabang Surabaya untuk membenahi 22 cabang pembantu (capem) yang hasil audit operasionalnya terburuk se-Indonesia. “Saya dikirim sebagai Tung ‘Rambo’ Waringin, karena tanpa anak buah, tanpa jabatan, tanpa kewenangan, dan dijatah dua tahun harus selesai,” kenangnya. Dengan gerak cepat, Tung cuma butuh waktu empat bulan untuk membereskannya. “Surabaya memperoleh hasil audit terbaik di seluruh Indonesia, dari nomor 20 ‘seketika’ jadi nomor satu.” Setelah itu cabang Kupang dan Malang ia bereskan. “Sampai hari ini Malang masih yang terbaik,” ungkapnya ketika ditemui awal September 2005 lalu.

Mengapa Tung begitu mudah membereskan persoalan bisnis?

“Kuncinya, manusia bergerak karena cari nikmat meninggalkan sengsara. Waktu saya menggerakkan manusia, peraturan tinggallah peraturan jika tidak disertai hukuman. Aturan tanpa punishment hanyalah imbauan.” Nah, Tung dengan keras menjaga peraturan, termasuk melakukan denda jika suatu unit melakukan kesalahan. Denda ditanggung karyawan dan pimpinan unitnya.

Tung bisa sehebat itu karena ia belajar terus. Sambil menunggu penempatan, ia tinggal di Jakarta, dan minta surat izin belajar ke divisi audit, sistem, treasury, keuangan, consumer banking, umum, dan sebagainya. “Mungkin saya satu-satunya orang yang paling lengkap pengetahuannya di BCA. Saya tak perlu tahu semua, yang penting saya tahu orang yang lebih tahu.” Resep kedua, ia belajar dari cabang yang hasil auditnya terbaik.

Ketika harus membuka cabang di Malang Utara, ia memulai semuanya dari nol, termasuk sewa ruko untuk kantor, bahkan karyawan. Di tangan Tung, kartu ATM bertumbuh cepat. Soalnya, ia mengiming-imingi nasabah dengan undian berhadiah mobil dan puluhan ponsel. Ia juga memberi uang insentif plus penyematan pin emas bertuliskan “Marketing Champion of BCA” pada karyawan yang menjaring banyak pelanggan.

Berkat kepiawaiannya, pertumbuhan kartu ATM di Kota Malang terbesar se-Indonesia, yakni 204.000. Selain itu, tingkat mati mesin ATM-nya terendah se-Indonesia. Saat memimpin Cabang Utama Malang, tahun 1998, BCA diambil alih pemerintah. Di kala semua cabang kehabisan uang, cabang Malang justru kebanyakan uang. Deposito membanjir.

Keberhasilan demi keberhasilan di BCA yang diraih Tung membuat 12 perusahaan mengincarnya. Ia tak terlalu tertarik. Namun, ketika tahun 2000 ayahnya sakit dan ternyata hasil jerih payahnya hanya cukup untuk membayar perawatan sang ayah di kelas 3 RS Mount Elizabeth, Singapura, ia merasa sedih. Tung menangis. Akhirnya, ia mengajukan surat pengunduran diri dari BCA Mei 2000 dan pindah ke Lippo Group.

Namun, di Lippo Shop, sebagai senior vice president marketing, ia tak cocok dengan pimpinannya. Februari 2001 ia mundur. Tung nekad mengikuti seminar Anthony Robbins di Singapura, meski biayanya AS $ 10.000. Untuk membayar, tanahnya di Malang ia jual.

Suami Suryani Untoro ini memulai karier barunya dengan langkah kanan. Ia berhasil menjadi salah satu murid terbaik Anthony Robbins dan terpilih sebagai Exclusive Indonesia Anthony Robbins Authorized Consultant. Ia juga menjadi murid Robert G. Allen, pakar marketing terkemuka dunia. Bahkan menjadi Exclusive Indonesia Robert T. Kiyosaki Authorized Consultant.

Sebagai konsultan, ia pertama kali menjadi pembicara tamu acara yang diselenggarakan Columbia Elektronik dan Furnitur di Gedung Koni Jakarta. Sayangnya, sound system seminar itu seadanya dan saat ia naik pentas, AC ruangan tiba-tiba mati. Terang saja ia diteriaki sekitar 1.000 peserta dan diminta supaya turun.

Ditantangnya Columbia untuk menggelar seminar gratis di Balai Sarbini. Gayung pun bersambut. Sekitar 4.300 orang hadir dalam seminar itu. Dampaknya, omzet penjualan Columbia bulan berikutnya naik 40%, bulan depannya lagi 30%.

Bukan hanya jadi pembicara publik, ia juga melayani konsultasi pribadi. Kliennya mulai dari anak petani sampai anak mantan presiden. Berbeda dengan konsultan lain, ayah dari Tung Waldo Kamajaya (7) dan Tung Alta Kania (4) ini “menyentuh” setiap orang dengan hati. “I do everything untuk mengubah orang. Dalam terapi, kalau perlu, ia saya pukul.”

Ia memacu orang untuk berani melakukan breakthrough, terobosan, baik personal maupun bisnis. Ia berhasil. Begitu banyak orang yang tadinya takut, menjadi berani. Dalam bisnis pun orang berani melakukan action, hingga meraih keuntungan berlipat ganda.

Tak cuma itu. Berkat “ilmu” yang diberikannya kepada orang-orang kepercayaan perusahaan, performa bisnis banyak perusahaan berhasil ia lipatgandakan. Memang, setelah hati dan pikiran disentuh Tung, orang seperti tersihir, dan tergerak untuk berubah lebih baik. Kekuatan motivasi yang dibangkitkannya mampu menyalakan keberanian seseorang untuk melawan rasa takut terhadap apa pun.

Ratusan ribu orang telah merasakan manfaatnya. Namun, ia lebih suka disebut pelatih sukses, karena, “Saya juga memberi langkah-langkah menuju sukses.” Wajar kalau di sela-sela waktunya memotivasi orang untuk sukses, ia juga dipercaya menjadi pengasuh acara “Smarth Wealth” di radio Smart FM dan kolumnis rubrik “Road to be Wealthy” di Majalah Warta Bisnis.
 
sumber :  .blogspot.com
Christian Adrianto adalah anak ke dua dari empat bersaudara, dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 23 Mei 1982.

Karena suatu hal, rumah dari orang tua Christian Adrianto harus dijual ketika dia menginjak usia SMP dan karena tidak memiliki tempat tinggal kemudian Christian dan keluarganya menumpang di rumah sanak saudaranya selama belasan tahun lamanya.

Pada Tahun 2008, Christian Adrianto pernah tinggal di sebuah kos kos an di jakarta dengan biaya Rp.200.000 /bulan hampir 1 tahun, itu pun dia berdua / sharing dengan temannya. Jadi hanya Rp.100.000 / bulan yang Christian keluarkan untuk biaya kos di tengah kota jakarta. Di mana di jakarta , biaya kos Rp. 500.000 sudah termasuk sangat murah.

Di bulan juli 2008 beliau diajak oleh kakak nya Rendy Adrianto untuk mengikuti seminar  Financial Revolution oleh Tung Desem Waringin. Dari seminar itulah timbul keyakinan yang sangat kuat untuk mengubah nasibnya menjadi jauh lebih kaya, sukses dan bahagia. Seminar Financial Revolution begitu menyentuh emosinya untuk berubah, memiliki mental orang kaya, mental Win Win, dan berpikir bahwa uang adalah Ide, uang adalah alat tukar nilai tambah.

Di Seminar Tung Desem Waringin, begitu banyak testimoni / kesaksian dari peserta yang telah berubah hidupnya baik secara Mental, Sikap  dan perubahan Financial, beliau begitu terpesona melihat sosok Tung Desem Waringin yang menginspirasi begitu banyak orang sehingga membuat seorang Christian Adrianto mengambil keputusan untuk menjadi seorang Trainer dan Motivator.

Memegang teguh Perkataan dari Guru Besarnya Bapak Tung Desem Waringin yaitu : LEARN From the Best, Do The Best, Work with the Best, Pray the Best, Expect The Best, Miracle Happen, Christian kemudian melanjutkan mengikuti Seminar Seminar Tung Desem Waringin yang lain dengan uang pinjaman. Beliau mengambil keputusan untuk mengikuti Seminar Train for Firewalk Trainer yang berlangsung di pulau Bali yang akan mengubah dirinya menjadi serang pembicara Hebat.

Setelah mengikuti Seminar Train for Firewalk Trainer, Christian Adrianto dengan penuh perjuangan akhirnya berhasil menjadi Trainer Tung Desem Waringin, mempraktekkan Work with the Best, Tung Desem Waringin yang adalah  seorang Guru Besarnya juga menjadi seorang Partner baginya dan beliau mendapatkan penghasilan yang didapat selama 18 bulan bekerja dalam 1 kali seminar saja, Beliau juga menjadi Pembicara di berbagai seminar Tung Desem Waringin antara lain Financial Revolution, Train for Firelwak Trainer dan akan mengisi seminar seminar Tung Desem Waringin yang lainnya.

 Di Seminar Financial Revolution beliau berbicara di depan Ribuan peserta seminar, satu Panggung dengan Pembicara – Pembicara kelas dunia tentunya Bapak Tung Desem Waringin, Mr. Ernest Wong, Mr. Fabian Lim dari Singapore ( Ahli Internet Marketing di Asia), Bpk. Ongky Hojanto, Bpk. Alex Fatahilah, Bpk. Stefanus, Bpk. Subhan, dll.

sumber :  motivasiindonesia.com
Bong Chandra (lahir di Jakarta, 25 Oktober 1987; umur 25 tahun) adalah seorang pebisnis, pembicara, dan juga motivator populer asal Indonesia. Pada tahun 2010, ia mendapatkan gelar "motivator termuda se-Asia", yakni ketika berusia 23 tahun.Dia sering mengadakan acara seminar motivasi di berbagai kota, khususnya di Indonesia. Dia juga menulis buku motivasi berjudul Unlimited Wealth.Dia mengaku sengaja tidak menyelesaikan kuliahnya untuk memfokuskan diri sebagai pembicara dan motivator.Kumpulan Kata Motivasi Bong Chandra, berita baru banget. Diakses pada 27 January 2012.
Riwayat

Kesuksesan ini tak diraih dengan mudah. Bong harus menempa dirinya dengan kerja keras. Saat usianya menginjak 18 tahun, Bong memilih berjibaku membangun bisnis ketimbang bersenang-senang seperti remaja seusianya. Kerja keras Bong dimulai sejak krisis ekonomi 1998. Bencana itu membuat bisnis ayahnya, Aditya, terempas. Pabrik kuenya terancam gulung tikar. “Rumah sampai nyaris dijual,” katanya saat ditemui di salah satu tempat usahanya, Free Car Wash Serpong, Tangerang Selatan, Kamis lalu.

Bong, yang kala itu berusia 11 tahun, berempati atas terpuruknya ekonomi keluarga. Kebutuhan sekolah diusahakan sendiri. Contohnya ia lebih memilih kertas bekas dan memfotokopi buku pelajaran milik temannya ketimbang membeli baru. Beberapa alat tulis juga dibuatnya sendiri. “Saya menggunakan karet (gelang) untuk penghapus,” tuturnya.

Bong kecil juga menjual sisa potongan kue di pabrik ayahnya ke sekolah. Semula ia gengsi. Apalagi dia minder karena penyakit asma, yang membuat tubuhnya ringkih, sehingga kerap dicemooh oleh rekannya. Namun motivasi dia bertahan hidup lebih besar. Bong malah makin giat mengembangkan usaha. “Saya menjual parfum dan VCD (cakram padat).”

Saat masuk SMA, ia bersama seorang temannya nekat berbelanja pakaian ke Bandung meski tak punya duit. “Modalnya kepercayaan,” katanya. Pagi hari mereka berangkat, sore kembali ke Jakarta dengan membawa setumpuk baju yang siap dijual. Bong membuka lapaknya di Senayan dan Pasar Taman Puring, Jakarta Selatan. Ia juga menjual pakaian seragam kepada rekan dan adik kelasnya.

 Bong sadar motivasi perlu dipertahankan karena cemoohan berpotensi mengendurkan semangatnya. Apalagi rekannya kerap menyindir Bong. “Seumuran kita harusnya bersenang-senang,” ujar Bong menirukan rekannya. Tapi ia berkukuh. Beruntung, orang tuanya rajin memberi nasihat. Bong pun gemar membaca buku motivator dunia, seperti Donald Trump. “Keinginan sukses makin besar,” katanya. Kegemaran ini memudahkannya memotivasi diri. Ia pun mulai menasihati temannya yang patah semangat.

Ia makin yakin akan kualitas bakatnya memotivasi orang. Bersama lima rekannya, Bong membuat event organizer untuk pelatihan motivasi. Sasarannya orang-orang dekat. “Saya diminta beberapa rekan satu jemaat di gereja,” ujarnya. Bong awalnya memotivasi para karyawan pemasaran. Selama dua tahun pertama, ia hanya memungut biaya operasional. “Ini investasi saya,” katanya. Apalagi tujuan bisnis ini tidak untuk mencari uang. “Saya memperluas pertemanan,” katanya.

Tak sulit bagi alumnus SMA Kalam Kudus Jakarta ini mendapatkan teman dari 90 ribu peserta pelatihannya, yang kebanyakan pelaku bisnis. “Kalau teman kita sukses, kita akan kecipratan sukses,” katanya. Keyakinan Bong yang kerap mengisi pelatihan di kalangan pebisnis properti ini benar. Ia mulai diajak sesama pembicara saat memberikan pelatihan di Real Estate Jawa Timur.

Awalnya Bong diminta mencarikan investor pembangunan properti seluas 5,1 hektare di Ciledug, Tangerang. Meski gagal, rekannya tak kecewa. Ia justru diminta bergabung menjalankan bisnis ini. Akhirnya Bong dan dua temannya menjalankan perusahaan properti senilai Rp 180 miliar sejak Januari lalu. “Ini modal networking,” katanya.

Keberuntungannya terus bergulir. Pelan-pelan banyak tawaran mengajaknya berbisnis bersama. Selain properti, Bong mendirikan bisnis pencucian mobil. Usaha ini dibangun di Buah Batu, Bandung, dan Serpong. Kini ia menjalankan tiga usaha dengan karyawan mencapai 100 orang. Menjadi pembicara motivasi membuat Bong memutuskan berhenti kuliah di Jurusan Desain Grafis Universitas Bina Nusantara. Setelah tidak kuliah, satu-satunya pilihan Bong adalah menjadi motivator yang sukses.

Meski dia sudah berbicara di hadapan 15 ribu orang per tahun, mulai mahasiswa, ibu rumah tangga, dosen, ahli hukum, dokter, pengusaha, hingga CEO, Bong menyebut dirinya sebagai pribadi yang tertutup. “Saya tidak mudah akrab,” katanya. Bong juga mengenali dirinya sebagai orang yang lambat bertindak. “Saya menuntut sempurna jadi kerap lama berpikir.” (sumber: wikipedia.org)

Kalau anda berpikir pemuda tidak bisa menjadi pengusaha dan hanya bisanya bersenang-senang saja, anda salah, Bong Chandra telah membuktikan bahwa diusianya yang masih muda dia sudah menjadi pengusaha muda yang telah sukses. Semoga profil pengusaha sukses ini bisa membantu pembaca semua menemukan ide-ide baru dalam memulai usaha atau yang telah punya usaha bisa semakin meningkatkan usahanya lagi. Tetap pertahankan semangat kewirausahaan ini, tetapkan dijalur entrepreneur dan semoga sukses!

sumber :  .blogspot.com
Wanita muda ini baru berusia 17 tahun, namun karya dan prestasi yang ditorehkan di usahanya sangatlah GILA!

• Owner Online shop Valentina Meiliyana (Fashion Business) dengan omset penjualan rata-rata 40 Juta/bulan
• Berhasil masuk ke salah 1 majalah terkenal di Indonesia , majalah DRESSCODE
• Diundang oleh MNC TV BUSINESS, dan diwawancarai secara Ekslusif dan Live dengan tema : Sumpah Pemuda, yg Muda yg Berkarya. Lalu juga sempat diundang di ANTV dan diliput oleh banyak media cetak Indonesia.
 
Yasa Singgih (17 tahun): 
Yasa Paramita Singgih lahir di Bekasi 23 April 1995. Ia adalah anak ke 3 dari 3 bersaudara (Prajna, Viriya & Yasa). Ayahnya bernama Marga Singgih dan Ibunya bernama Wanty Sumarta.

Yasa lahir di keluarga yang sederhana dan sangat mencintainya. Menyelesaikan SD nya di SD Ananda dan SD Surya Dharma, lalu melanjutkan SMP & SMA nya di SMA Regina Pacis Jakarta. Sebelumnya ia hanyalah seorang remaja biasa yang sama halnya dengan remaja lainnya, gemar bermain, meminta uang dari orang tua, jalan-jalan, dll. Namun kehidupannya berubah di usianya yang ke 15 tahun, ia mengambil keputusan untuk segera membahagiakan kedua orang tuanya. Saat itu juga ia memiliki Impian untuk menjadi seorang PENGUSAHA SUKSES yang menginspirasi emua orang lewat kisah hidupnya.

Ia pernah menjadi MC (Pembawa Acara) dibeberapa tempat, pernah berjualan Lampu, dll. Semua kegiatan yang menghasilkan uang diladeni demi sebuah keberhasilan. Jatuh bangun, ditipu orang, rugi jutaan rupiah pernah dialami oleh pemuda kelahiran tahun 1995 ini, namun itu semua dianggap sebagai VITAMIN dan SUPLEMEN kehidupan!

Sekarang Yasa menjalankan usahanya yaitu Online Shop yang bernama Men’s Republic, menjual berbagai produk fashion pria dan wanita. Ia bukan hanya menjual produk sendiri, tapi juga merk-merk orang lain. Dan juga ia sekarang menjadi Juragan Kedai "Ini Teh Kopi". Kedai yang menjual kopi duren dan gengsot yang menjadi tempat nongkrong yang sangat mengasyikkan.
 
sumber : .blogspot.com
 

Anak muda yang satu ini usianya juga masih dibawah 20 tahun, namun telah menjadi inspirasi bagi banyak orang.

• Pendiri Komunitas Bisnis Anak Muda. Komunitas ini memiliki puluhan ribu followers di Twitter.
• Ketua Komunitas Bisnis Anak Muda
• Sudah dapat memiliki omset penjualan 95 Juta dalam waktu 1 bulan di umur 16 Tahun
• Berhasil menjadi Top New Sales 2010 di salah satu perusahaan importir di umur 16 Tahun
• Pemegang 25% saham PT. Trijaya Mekar Mandiri
• Distributor Jahe Merah Instant Cap Cangkir Mas
• Distributor Stick Jelly Food
• Owner produk cairan pembersih kamar mandi

Walaupun sempat ditipu sebelum membuka restorannya, berkat tekat yang kuat dan semangat ingin sukses sekarang Darian menjadi Owner dari Sop Iga Bakar Sarap yang berada di Muara Karang, selain menjalani bisnis nya sekarang ia pun sering diundang dalam berbagai talkshow bisnis.

Tema talkshow yang biasa dibawakan oleh Lambertus adalah tentang penting ga yang namanya komunitas itu. Karena dia adalah pendiri komunitas Bisnis Anak Muda.


Farah Farce (17 tahun): 
Farah Farce adalah seorang wanita berusia 17 tahun yang sedang kuliah di luar negeri. Usahanya melejit setelah mendapatkan mentoring langsung dari Jaya Setiabudi, penulis buku The Power Of Kepepet yang sangat terkenal itu.

Farah adalah owner dari Farceee Online Shop yaitu online shop yang menjual barang barang original dari luar negeri, bahkan ia juga sudah memproduksi produk nya sendiri.

Berkat kerja kerasnya sedari muda, Farah berhasil menembus omset puluhan juta dan diliput oleh banyak media.

Di usia yg cukup belia, ia sudah berhasil masuk ke Majalah majalah dan mengisi seminar seminar di banyak tempat.

sumber :   .blogspot.com
Pria berumur 19 tahun ini adalah seorang Entrepreneur Muda yang sukses, Pemuda kelahiran Jakarta, 26 April 1993 memang sudah memiliki bakat bisnis sejak masih kecil mulai dari menjual kelereng, gambaran, petasan hingga menjual koran, menjadi tukang parkir serta ojek payung pernah dilakukannya.

Pada pertengahan kelas 2 SMA, ia menangkap peluang bisnis lagi. Ketika sedang mengikuti seminar dan komunitas bisnis pelajar bertajuk Community of Motivator and Entrepreneur (COME), Hamzah bertemu dengan mitra bisnisnya yang menawari usaha franchise bimbingan belajar (bimbel) bernama Bintang Solusi Mandiri. “Rekan bisnis saya itu juga masih sangat muda, usianya baru 23 tahun. Tapi bimbelnya sudah 44 cabang,”

Hamzah lalu diberi prospektus dan laporan keuangan salah satu cabang bimbel di lokasi Johar Baru, Jakarta Pusat, yang kebetulan ingin di-take over dengan harga jual sebesar Rp175 juta. Dengan hanya memegang modal Rp5 juta, pengusaha muda lulusan SMAN 21 Jakarta Timur ini melobi sang ayah untuk meminjam uang sebagai tambahan modal bisnisnya. “Saya meminjam Rp70 juta dari ayah yang seharusnya uang itu ingin dibelikan mobil. Saya lalu melobi rekan saya untuk membayar Rp75 juta dulu dan sisanya yang Rp100 juta dicicil dari keuntungan tiap semester. Alhamdulillah, permintaan saya dipenuhi,”.

Dari franchise bimbel itu, bisnis Hamzah berkembang pesat. Keuntungan demi keuntungan selalu diputarnya untuk membuat bisnisnya lebih maju lagi. Kini, Hamzah telah memiliki 3 lisensi franchise bimbel dengan jumlah siswa diatas 200 orang tiap semester. Total omzet yang diperolehnya sebesar Rp360 juta/semester dengan nett profit sekitar Rp180 juta/semester. Sukses mengelola bisnis franchise bimbelnya, Hamzah lalu melirik bisnis kerajinan SofaBed di area Tangerang.

Sejak bulan Agustus 2011, bisnis Hamzah telah resmi berbadan hukum dengan nama CV Hamasa Indonesia. Lulusan SMA tahun 2011 ini duduk sebagai direktur utama di perusahaan miliknya yang omzetnya secara keseluruhan mencapai Rp100 juta per bulan.

sumber :  .blogspot.com
Merek Reebok mendapat permulaannya kembali pada tahun 1958 ketika bercabang sebagai perusahaan saudara JW Foster and Sons. Awal tahun 1895, JW Foster and Sons mulai memproduksi sepatu dan menjualnya di seluruh Inggris. Meskipun mereka tidak pernah mengumpulkan banyak perhatian, mereka cukup sukses untuk dikenakan oleh para atlet dalam Olimpiade 1924.

Kemudian pada tahun 1958, cucu Foster memutuskan untuk membuka cabang untuk membentuk sebuah perusahaan baru yang mereka sebut Reebok. Mereka memilih nama Reebok, yang berarti Afrika Gazelle, karena mereka ingin menggambarkan kecepatan, gaya, dan rahmat. Meskipun perusahaan itu menjual sepatu pada tingkat yang layak di Inggris, mereka masih mengalami kesulitan mendapatkan perhatian pada skala di seluruh dunia. 

Namun pada tahun 1979 ini semua akan berubah. Pada acara sneaker Perdagangan Internasional Chicago, Paul Fireman memerhatikan merek Reebok melihat potensi besar dalam merek Reebok, serta berkualitas tinggi. Fireman merasa bahwa kualitas saja akan membuat merek ini hit dengan penduduk Amerika Utara. Tanpa membuang-buang kapan saja, Fireman menegosiasikan kesepakatan untuk lisensi dan mendistribusikan merek Reebok di Amerika Serikat, melainkan saat ini bahwa Reebok USA lahir. Pada tahun yang sama, Fireman memperkenalkan tiga sepatu lari ke pasar. Ia memiliki keyakinan begitu banyak produk yang ia harga sepatu di $ 60, yang membuat penawaran harga tertinggi di pasar. Pada 1981, Reebok Amerika Serikat telah melebihi $ 1,5 juta dalam penjualan, dan ini semua dilakukan dengan menjual sepatu dengan sederhana. 

Pada tahun 1982, perusahaan mengambil langkah yang mengambil industri sepatu olahraga. Reebok memperkenalkan sepatu atletik pertama bagi perempuan. Langkah ini membantu Reebok merebut sebagian besar pangsa pasar di tahun 1980-an 

Kemudian pada tahun 1989, Reebok memperkenalkan Pump ke dunia basket. Sepatu ini dirancang khusus dengan basket dalam pikiran. sepatu yang digunakan kandung udara yang dapat digelembungkan oleh pompa kecil yang terletak di lidah sepatu. pompa ini dalam bentuk bola basket, dan ketika itu akan mengembang mendorong kandung  sehingga sepatu akan menyesuaikan erat di pergelangan kaki. Sepatu ini dirancang untuk merebut pasar"Nike Air", dan debutnya dengan harga stiker sebesar $ 170; hampir dua kali lipat harga sepatu basket lainnya. Tapi meskipun perbedaan harga besar Reebok telah hit. Selama periode empat tahun mereka menjual lebih dari 20 juta pasang di seluruh dunia. 

Ini angka penjualan yang sangat besar dibantu oleh Boston Celtic rookie Dee Brown di tahun 1991 akhir pekan All-Star Slam Dunk kontes. Brown keluar untuk kompetisi olahraga tersebut, putih hitam, dan oranye Pompa. Pada saat itu selamanya akan diingat oleh fans basket, sebelum Brown menanggalkan untuk akhir nya dunk dia membungkuk dan dipompa Reebok nya. Setelah melempar kontes clinching dunk (menutup matanya dengan lengannya) ia membungkuk ke depan dan mengempis pompa nya.Reebok instan menjadi terkenal sebagai anak-anak di mana-mana merasa seperti sepatu ini bisa membawa permainan mereka ke tingkat pro.

Tapi secepat itu lepas landas, para Pompa mulai memudar dari mata publik. Ini meninggalkan Reebok tanpa penjual satu nomor, dan berebut selama istirahat besar melalui.
 

Sebagai penjualan terus menurun sepanjang 90-an, Reebok sedang mencari cara untuk memperoleh kembali pangsa pasar yang sedang didominasi oleh Nike. Setelah berbagai upaya gagal untuk menghasilkan hasil, Reebok memutuskan untuk mencari dukungan sebagai cara untuk meningkatkan brand awareness. 

Pada tahun 1996, mereka dipatok pendatang baru NBA Allen Iverson sebagai target. Dari tahun 1996 sampai 2000, dan Reebok Iverson memiliki banyak keberhasilan mempromosikan merek baik di dan luar lapangan. Dengan Iverson cepat menjadi superstar NBA, sepatunya yang dikenal sebagai "Jawaban" adalah menjual dengan cepat dan membantu untuk membawa Reebok kembali ke garis depan industri. Pada tahun 2001, Reebok membuat komitmen besar untuk Iverson dengan menandatangani kontrak dia untuk hidup yang panjang yang menjamin bahwa ia olahraga merek tersebut sampai hari-harinya di NBA sudah berakhir. 

Kemudian pada tahun 2005, selama akhir pekan NBA All-Star Reebok memperkenalkan ATR baru (Di atas RIM) Pompa. Sepatu ini didasarkan dari teknologi yang sama dengan Pompa asli, tapi kali ini pompa terletak pada pergelangan kaki luar sepatu. Lagi memungkinkan untuk atlet untuk mendapatkan cocok sempurna. Selama permainan 2005 All-Star, superstar NBA Allen Iverson dan Yao Ming memamerkan Pompa ATR kepada dunia. Industri ini memberikan tampilan pertama mereka di Pompa baru dalam tindakan. Selain Iverson dan Ming, superstar Steve Francis, Baron Davis, dan Jerome Williams juga mengenakan Pompa baru. 

Tak lama setelah ATR baru Pompa debutnya, Reebok sedang terguncang sekali lagi. Mereka dibeli oleh Jerman Adidas-Salomon sebesar $ 3780000000. Alasan untuk merger ini cukup jelas bagi semua orang di industri sepatu. Reebok dan Adidas duel terus-menerus keluar untuk tempat kedua di belakang sepatu raksasa Nike. Mereka merasa bahwa dengan menggabungkan kekuatan, mereka mungkin dapat menggulingkan Nike dan menjadi nomor satu produsen sepatu di dunia. Tapi mereka masih memiliki jalan panjang sebelum ini datang membuahkan hasil. Pada tahun 2004, Nike memiliki kurang lebih 36% pangsa pasar di industri sepatu Amerika Serikat, di mana sebagai Adidas dan Reebok gabungan sekitar 21%. 

Dengan Reebok bergabung tangan dengan Adidas, mereka mencari untuk mendapatkan kembali popularitas yang mereka alami pada 90-an. Dengan terus membangun dan memasarkan produk sekitar superstar NBA, Reebok tendangan akan segera kembali menjadi populer di antara Ballers di seluruh dunia.
sumber :  blogspot.com

Selasa, 09 April 2013

Sepeda merek Polygon berhasil menaklukkan pasar Eropa. Polygon juga telah lama memproduksi puluhan merek sepeda kelas dunia. Kini, dengan memakai merek sendiri, Polygon ingin menjadi pemain sepeda dunia. Bagaimana strategi bisnis Polygon ke depan? Wartawan KONTAN Epung Saepudin mewawancarai Ronny Liyanto, Direktur PT Dispoly Indonesia, pemasar Polygon, Rabu (9/11) pekan lalu.
Saya di Polygon sejak tahun 1999. Sementara, Polygon berdiri sejak tahun 1989. Saat itu, hampir seluruh produk kami untuk pasar ekspor di hampir 17 negara. Kami dipilih sebagai original equipment manufacturer (OEM), yakni produsen sepeda untuk merek internasional seperti Kuwahara, Mustang, Avanti, Kona, Scott, dan sebagainya.
Kemudian, di tahun 1997, perusahaan menyadari industri sepeda di China akan berkembang sangat pesat. Di tahun itu, kami membuat strategi, yakni harus membuat merek (brand) sendiri. Waktu itu, dibuat brand Polygon. Ketika Polygon kami rintis, target kami adalah menguasai pasar Asia Tenggara, yakni Indonesia dan negara sekitarnya. Sebab, selama ini, mayoritas fokus kami adalah pasar Eropa. Kalau China makin kuat, kami masih punya pasar lain.
Setelah membuat merek, kami memperkuat distribusi. Kami keliling mulai dari Aceh, Medan, Sumatra, hingga Kalimantan Timur, untuk set-up distribusi. Itu juga tidak mudah. Waktu itu, harga sepeda pada umumnya Rp 200.000-an; sementara harga produk kami paling murah Rp 500.000.
Karena itu, blueprint pemasaran kami harus kuat. Kami berpikir, kalau hanya fokus menjadikan sepeda sebagai alat transportasi, bisnis ini akan berat. Sepeda should be moved on life style. Sepeda bukan untuk membeli rokok di supermarket. Kami berpikir ke arah sana.
Sejalan dengan itu, banyak hal yang perlu dipersiapkan, seperti distribusi yang bagus dan toko ritel juga harus bagus. Ada perlengkapan tambahan seperti kacamata, jaket, dan helm. Kalau sepeda berjalan sendiri, tidak mungkin bisa mengangkat. Boleh dibilang, kami create need.
Kemudian, toko sepeda yang identik dengan kotor, belepotan oli, kami ubah. Sebab, tujuannya adalah mengubahnya menjadi life style. Jadi, toko kami berkonsep nyaman, ber-AC, dan rapi. Kami mulai tiga toko RodaLink di Surabaya, Jakarta, dan Singapura. Terus menyusul Bali. Sekarang, sudah 37 jaringan RodaLink di Indonesia, lima di Singapura sejak 1999, dan lima di Malaysia sejak 2002.
Kami terus berkampanye soal fun bike. Dulu, kalau acara fun bike, sepeda sampai kami sediakan. Ini bicara 10 tahun lalu. Sekarang, semua mengadakan fun bike. Perusahaan penyelenggara malah berani memberi hadiah sepeda.
Menurut saya, kalau sebagai sarana transportasi, sepeda itu fungsional saja. Sepeda jadi kasta terendah. Tapi, kalau dari sisi life style jelas berbeda. Bisa jadi sepeda jadi kasta tertinggi.
Sepeda kami mulai dari harga Rp 2 juta sampai Rp 60 juta. Tapi, jangan dilihat harga yang mahal saja. Bahan baku dan kecanggihan teknologinya berbeda. Memakai sepeda seharga Rp 2 juta dengan sepeda Rp 60 juta, rasanya jelas berbeda. Kenikmatan berbeda, smooth-nya berbeda. Handling-nya sangat berbeda sekali.
Kami investasi cukup besar  untuk menjadikan sepeda sebagai life style. Saya rasa, perubahan ke life style sudah cukup berhasil. Sekarang, animo sudah tumbuh dan tidak memandang sepeda sebelah mata. Dulu, bisa dibilang yang memakai sepeda hanya orang miskin.
Sekarang ini, dari sisi persaingan bisnis, sebagai produk sarana transportasi, sepeda  memang belum jadi market leader. Sebab, sekarang ini semakin banyak impor sepeda, terutama dari China. Tapi, kalau sepeda as a life style dan kemudian kita kecilkan lagi sepeda produk Indonesia, saya rasa Polygon cukup dominan di pasar.
Tentu, kami juga sadar, dari sisi bisnis, ketika pasar makin menarik, makin banyak orang tertarik masuk. Itu hukum alam. Saya rasa itu akan sangat menarik. Menjadi lebih marak.
Tapi, kami juga tak khawatir bahkan siap bersaing karena pabrik sepeda kami masuk 10 terbaik di dunia dari sisi penerapan teknologi dan kualitas.
Ciptakan teknologi
Kami terus mengembangkan produk. Empat tahun lalu, bisnis sepeda masih local competition dan sekarang sudah jadi global competition. Jadi, kami bersaing bukan dengan perusahaan ecek-ecek, tapi bersaing dengan perusahaan sepeda dunia. Lihat saja, merek asing banyak sekali di sini.
Tentu, itu menjadi tantangan bagi Polygon untuk menciptakan produk terbaik, tidak hanya untuk ukuran Indonesia, tapi juga ukuran global. Kami terus lakukan upaya agar Polygon terus eksis. Misalnya, kami ikut dalam pameran EuroBike di Jerman. Sekarang, kami bukan melihat pesaing lokal lagi, tapi lihat ke depan, pasar sepeda dunia seperti apa.
Polygon disebut market leader di Indonesia. Tapi, kami tidak mau jago kandang saja. Kami ingin jadi pemain sepeda dunia. Saya kira, Polygon cukup oke di mata dunia persepedaan, tidak dipandang sebelah mata.
Tentu, dengan adanya tujuan besar itu, kami harus memperkuat riset. Kami keluarkan dana besar untuk riset. Kami berusaha tidak menjadi technology follower tapi technology leader.
Lima tahun yang lalu, mungkin, kami masih technology follower. Tren teknologi sepeda di dunia seperti apa, kami ikuti. Boleh dibilang, kami paling cepat mengadopsi teknologi sepeda. Tapi, itu kalau cita-cita hanya pemain lokal. Kalau ingin bermain di global, jika jadi follower terus, kami bisa menjadi pecundang.
Riset kami cukup berhasil. Kami menciptakan teknologi yang tidak dimiliki oleh pemain lain. Seperti, teknologi sepeda floating suspension two. Teknologi ini murni temuan Polygon. Kami ingin buktikan, produsen Indonesia bukan follower. Tapi, ada teknologi unggulan yang memang berbeda dan technology leader.

Kami senang, pertumbuhan bisnis kami tidak pernah kurang dari 20% per tahun. Tahun ini, kami produksi 600.000 unit sepeda. Dari jumlah itu, 40% di antaranya terserap pasar lokal dan sisanya diekspor ke hampir 63 negara dengan merek internasional. Tahun depan, targetnya produksi 800.000 unit.

Boleh dibilang, kami tumbuh dan berkembang di bisnis ini bermula sebagai OEM. Namun, untuk jangka panjang, tentu akan lebih menjanjikan memasarkan dengan merek sendiri. Jika OEM terus, kami tentu tidak bisa mengikat para buyers ini akan tetap memproduksi di tempat kami terus.

Sekarang, bisnis inti kami memang masih ekspor. Tapi, kami sadar, kami tidak bisa kerja hanya short term. Short term dan long term harus berimbang. Tujuannya agar bisnisnya sustainable. Kerja untuk jangka pendek tetap harus kami kerjakan. Untuk jangka panjang, kami juga terus mempersiapkan rencana bisnis.

Memang, sekarang, permintaan dari Eropa sedang turun. Amerika Serikat masih oke. Ekspor yang sedang meningkat sekarang justru ke Asia seperti Thailand dan Korea Selatan. Semula, kami mau launching produk baru Polygon di Thailand, tapi kami tunda dulu karena banjir. Di Malaysia, Singapura, dan Eropa, kami sudah perkenalkan produk baru edisi 2012 dengan merek Polygon.

Kunci keberhasilan kami adalah kami memperhatikan pengembangan perusahaan. Sebagai pimpinan, saya menerapkan budaya lebih santai karena banyak orang muda di perusahaan ini. Jadi, kami tidak terlalu birokratis. Kami cenderung friendly sehingga mengerjakan apa pun menjadi lebih senang.

sumber :  linkedin