Senin, 04 Maret 2013


Bermula dari gemar minuman dingin,tapi kini Citra Puspa Sari,26,punya usaha menguntungkan.Tidak hanya di Indonesia,Es Dawet Cah Mbanjar produksinya telah merambah pasar Singapura.

Di Indonesia,Citra telah memasarkan produksinya mulai dari wilayah barat, tengah hingga timur. Minuman usaha keluarga ini kini bisa dirasakan seluruh masyarakat negeri ini. Di Singapura, dia mendapat undangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Di Singapura ia mengisi acara Asia Pasific Food Festival.Dalam waktu dekat, dia akan berangkat ke Thailand untuk mempromosikan minuman ini. Citra memulai usaha Es Dawet Cah Mbanjar pada 2006.

Dia tertarik mengembangkan bisnis ini karena senang minum satu jenis minuman yang sama tapi beda nama. Memang, minuman jenis ini cukup banyak di Medan. Penjual minuman yang menggunakan gerobak banyak dijumpai di pinggirpinggir jalan kota Medan. Kadang di emperan toko,tidak sedikit juga di bawah pohon rindang dan di persimpangan jalan. Sambil minum, dia suka bertanya- tanya kepada penjual mengorek informasi seputar minuman tersebut.

Hingga akhirnya dia bisa ketemu dengan bos pemilik es penjual dengan gerobak. ”Saya suka minum es. Karena sering,iseng-iseng ngobrol nanyain resep dan lainnya. Namun kata pekerjanya, harus menjumpai bos langsung. Setelah di cari tahu akhirnya bisa ketemu,” kata Citra kepada harian Seputar Indonesia, kemarin. Setelah dapat resep dari pemilik es itu, Citra bersama suaminya,Hafiz Khairul Rijal,32 membeli bahan baku dengan modal Rp100.000.

Saat itu dia tidak mengenakan resep rahasia dari bos pemilik es. Untuk gerobaknya, dia memilih membuat sendiri dengan biaya Rp500.000. Bermodal Rp600.000 itulah Citra memulai berjualan Es Dawet Cah Mbanjar. Kebetulan dia langsung mendapat lokasi dekat kampus. Jadi saat itu, penjualannya lumayan. Dalam satu hari,50 cupatau gelas Es Dawet Cah Mbanjar pasti laku terjual. Untung bersihnya Rp50.000 per hari. Waktu terus berlalu hingga tiga bulan berjalan.

Dari keuntungan yang diperoleh, Citra menambah gerobak. Tidak lama berselang, gerobak ketiga dibeli sekaligus mulai merekrut karyawan. ”Mulai jualan sendiri pada 2006.Terus berjalan hingga 2007 sudah bisa membeli gerobak kedua dan ketiga. Semuanya disebar tidak jauh dari lokasi berjualan yang pertama,” ujar ibu dari dua orang anak ini. Namun, meski sudah memiliki tiga gerobak, dia masih tetap berhubungan dengan bos pemilik es yang pertama karena bumbu utama belum dimilikinya langsung.

Mendekati akhir tahun 2007, dia mencoba untuk membeli bumbu dan alat produksi dari bos pemilik es. Modalnya tidak sedikit. Uang sebesar Rp50 juta harus disiapkan, tapi karena ingin berinovasi dia nekat meminjam uang orang tuanya. ”Separuh dari modal itu, pinjam dari orang tua. Kami berpikir sudah saatnya untuk berdiri sendiri. Jadi mudah untuk melakukan inovasi, tidak hanya membeli bahan dan tinggal ramu,”ujarnya. Dengan begitu dia bisa memiliki mesin adonan cendol, gula, dan kelapa sendiri.Bahan bakunya pun langsung didatangkan dari Banjar.

Selain bumbu utama, dia juga mendapat lima gerobak. Jadi total telah ada delapan gerobak yang dijadikannya modal untuk dijual kepada orang lain. Ingin melihat bagaimana peluang pasar yang lebih besar, Es Dawet Cah Mbanjar ini mulai diikutkannya pada pameran-pameran. Pertama kali, tepatnya 2007 ikut pameran Bank Sumut dalam rangka ulang tahun Bank Pembangunan Daerah (BPD) ini.

Tanpa disangka, Citra meraih penghargaan Bank Sumut Usaha Mikro Kecil (UMK) Award. Usaha Citra dinilai terbaik karena punya tempat produksi dan manajemennya sudah terbentuk, walaupun masih skala home industry. ”Senang sekali. Selama proses pameran, kami ikut dalam audisi wirausaha muda Mandiri yang diselenggarakan Bank Mandiri. Jadi semakin bersemangat untuk mengembangkannya lebih luas,” ujar anak pertama dari tiga bersaudara ini. Rezeki benar-benar berpihak.

Es Dawet Cah Mbanjar terpilih menjadi juara 2 se-Sumatera.Penghargaan- penghargaan ini membuat suami istri ini mendapat kemudahan untuk mengembangkan usaha. Bagi yang berminat untuk memulai usaha ini diberi kredit oleh Bank Mandiri. Bank ini juga membantu proses pelatihan, perekrutan karyawan dan manajemen. ”Sistemnya seperti franchise, tapi kami menyebutnya kemitraan karena tidak ada ketentuan harus sama gerobaknya, jumlah karyawan atau gajinya.

Bahkan diperbolehkan beli bahan saja, tanpa gerobak dan tidak dapat resep utama,”papar Citra. Apabila ingin mendapat resep utama,tentu harus membeli rumah produksi sebesar Rp60 juta. Ini disebut dengan master.Kini, khusus di Medan dia menjadi pemilik brandEs Dawet Cah Mbanjar.Tidak sulit lagi memperoleh es yang memiliki rasa manis ini pada pinggir jalan, warung atau restoran.

Total 170 gerobak se-Indonesia telah dijualnya. Khusus Medan saja ada 40 gerobak.Kini pemasarannya hingga Makassar. ”Peluangnya masih besar di sini. Ini cocok untuk mulai berbisnis karena dipastikan untung Rp50.000 bisa didapat dalam satu hari,”katanya.

Jadi Pewaralaba karena Pasarnya Besar

Pengembangan sistem waralaba (franchise) Es Dawet Cah Mbanjar ternyata membuat beberapa investor tertarik.Konsep pemasaran dalam rangka memperluas jaringan usaha secara cepat.

Reviza Putra Syarif,26,ikut menjalani bisnis menjual Es Dawet Cah Mbanjar. Bahkan,Reviza mengaku beruntung bisa menjadi pewaralaba karena keuntungannya tidak sedikit.Satu bulan pertama,untung bersih yang bisa dibawanya pulang sebesar Rp2,4 juta.”Hasilnya lumayan.Dalam dua bulan,modal saya sudah kembali,”ujarnya ketika harian Seputar Indonesia berkunjung ke tokonya di Jalan Wahid Hasyim No 1 E Medan.

Sebagai pewaralaba, Reviza harus membeli gerobak dan peralatan lengkap Es Dawet Cah Mbanjar langsung dari pemilik franchise dengan harga Rp4,5 juta. Untuk bahan minuman mulai cendol,santan dan gula setiap hari dia harus mengeluarkan biaya Rp70.000 per hari untuk 50 porsi setiap harinya. ”Sebagai pemilik franchise, mereka membina mitra.Waktu saya pilih lokasi ini,sempat diragukan kelangsungannya, tapi saya buktikan bisa dan Alhamdulillah sukses,”ujarnya.

Kebulatan tekadnya itu sudah tampak sejak awal dia ingin membuka usaha ini.Setelah keluar dari tempat kerja sebelumnya pada salah satu bank milik pemerintah,dia memang punya keinginan untuk buka usaha,tapi keuntungannya besar dan cepat.Yang ada di benaknya adalah bisnis makanan. Survei pun dimulai.Setelah keliling sana-sini,Reviza akhirnya mengetahui bahwa untuk memulai usaha yang sama pakai sistem franchise.

Bukan hanya es awet,tapi bisa juga satu paket dengan bakso yang pernah dimakannya. ”Dua bulan pertama,saya ikut bekerja.Bahkan harus berbelanja ke pasar pun saya tidak peduli.Itu bisa membuat kita lebih tahu harga di pasar dan dekat dengan pekerja,”ujar pria lulusan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) ini. Kalau dihitung sekalian dengan paket,keuntungan yang diperolehnya mencapai Rp10 juta.Itu bersih di bawa pulang ke rumah untuk keluarganya.

sumber : blogspot.com

Minggu, 03 Maret 2013

Pada awalnya bu Juju menjual kue bantal bukan nama asli pada kue bantal yaitu kue cubit dengan lahan alas 3X4m ibu Juju memulai usahanya disebuah pasar yaitu pasar Palmeriam, setelah ibu Juju mulai usaha dalam waktu 4bulan dia baru mulai merasakan ramainya para pembeli yang menghampirinya untuk sekedar membeli saja.

Awalnya para pembeli hanya membeli saja dan pada akhirnya mereka mulai merasakan citra rasa kelezatan rasa kue buatan Ibu Juju, dari pembicaraan ke pembicaraan kue ibu Juju mulai sangat digemari para kalangan ibu-ibu dan bapak-bapak dengan berbagai alasan, tak lama kemudian ibu Juju kena musibah dia tidak kuat berjualan lg karna sakit pada kakinya dan akhirnya Ibu Juju beralih jualan dengan membawa anak bungsunya karena pembeli semakin ramai dan ibu juju semakin tidak sanggup melayani banyak para pembeli.

Dan dengan berjalannya waktu dia mulai berfikir untuk memperluas bisnisnya dengan cara membuka usahanya di pasar lain selama 3bulan dan sementara dipasar lama dia tutup sementara, oleh karna itu dia mempunyai pemikiran negatif dengan berfikir kalau dia tinggali pasar yang lama nanti ada yang nempati tempat usaha dia dan akhirnya dia muali membuka 2 tempat yang berbeda dan bersamaan. akan tetapi kondisi Ibu Juju semakin lemah an akhirnya dia memutuskan untuk membuka toko kue didepan rumahnya yang berganti nama dengan kue bantal karna dengan ukuran kuenya semakin besar.

2 tahun sudah berjalan usaha dan kelangsungan bisnis Ibu Juju yang semakin maju dan ramai pembeli hingga anaknya mulai mencoba membuka usaha Kue Bantal di daerah Bandung dan rame berjalan lancar karena ada pelanggannya ibu Juju yang di jakarta dan tinggal di Bandung dan akhirnya dia mempromosikan kue tersebutdan tidak disangka Keluarga Ibu Juju dalam sebulan memperoleh omset sebesar 200 juta dan dia tidak habis fikir karena dia sekolah dengan tamatan SD dan bisa mempunyai toko dan omset begitu besarnya oleh karena itu dia mengatakan bahwa dengan usaha dan kegigihan yang kuat akan membuahkan hasil maksimal.

Jumat, 01 Maret 2013

berkumandang, kesibukan tampak di Warung Tegal (Warteg) Poncol di Jalan Imam Bonjol, Semarang. Warteg yang berada persis di depan SPBU Poncol itu penuh pelanggan yang ingin berbuka puasa. Dengan sabar, Ny Arlina Widiastuti (35) dan tiga pembantunya meladeni pesanan para pelanggan. Beberapa waktu kemudian, saat semua pengunjung telah menyantap hidangan dengan lahap, mereka baru bisa bernapas lega.

"Saat-saat seperti ini pada bulan Ramadan, memang merupakan jam sibuk. Waktu sahur nanti pun demikian, apalagi menjelang imsak," tutur Suharto (40), pemilik warteg yang juga suami Arlina.
Menilik penampilannya yang bersahaja, orang tak bakal menduga Suharto merupakan pengusaha warteg sukses. Pria kekar itu kini punya empat warung serupa di Semarang. Selain di Poncol, warteg miliknya itu berada di Wonodri Baru, Sadewo, dan Sampangan. Usaha warung nasi khas Tegal yang dia kembangkan itu mampu menyerap puluhan tenaga kerja.

Hebatnya, sarjana ekonomi jebolan salah satu PTS di Yogyakarta itu mengaku tak sendirian dalam mengelola warteg di Kota Lumpia ini. Menurut dia, seluruh saudaranya juga menjadi pengusaha warteg. Jika dihitung, jaringan bisnis keluarga itu memiliki 28 warung di Semarang.
"Saya anak kedua dari sembilan bersaudara. Kami semua mengadu nasib dan peruntungan dengan mengelola warteg di sini. Termasuk, adik saya yang insinyur sipil, sarjana hukum, dan dokter," tutur dia. 

Keluarga Suharto itu berasal dari Sumurpanggang, Kecamatan Margadana, Kota Tegal. Daerah asal mereka cukup terkenal sebagai salah satu perkampungan pengusaha warteg perantauan seperti halnya Desa Sidapurna dan Sidakaton di Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal. Suharto sebelumnya tak pernah mengelola warteg. 

Usaha Keluarga
Selepas kuliah, dia meneruskan industri rumah tangga pembuatan kerupuk udang milik keluarga. Namun sayang, usaha yang dia bina dengan susah payah itu jatuh dan tak bisa bertahan. Dia pun berniat mengikuti jejak adik-adiknya yang lebih dulu menjadi pengusaha warteg. 

Semula, anak-anak pasangan H Rais dan Hj Syarifah itu membuka warteg di Jakarta. Namun persaingan yang ketat dan biaya operasional tinggi, membuat mereka memutuskan untuk hijrah ke Semarang. Perpindahan lahan usaha itu dirintis anak ketiga, Supratwo dan anak kelima, Wartono. 

"Kami betul-betul meniatkan diri untuk sepenuh hati. Sebab di Tegal ada keyakinan umum yang hampir-hampir menjadi hukum tak tertulis. Jika mau menuntut ilmu harus pergi ke timur, yakni ke Semarang atau Yogyakarta. Sebaliknya, kalau mau mencari rezeki harus berjalan ke barat, yaitu ke Jakarta," ungkap Suharto. 

Jika sekali waktu melihat warteg dengan nama Aero, itulah salah satu warung keluarga Suharto. Aero merupakan singkatan dari ungkapan bernas "arep enak kudu rekasa (ingin mulia harus bekerja keras)." Tak hanya Aero, beberapa nama lain juga digunakan seperti Atania.
Namun warung milik Suharto, diberi nama sesuai dengan daerah operasi. Salah satunya ya Warteg Poncol. "Pelanggan biar mudah mengingatnya," tutur dia. 

Ciri khas warteg keluarga Suharto itu adalah buka 24 jam sehari, alias tak pernah tutup. Berbeda dari warteg lain yang biasanya bercat biru dengan jendela kayu, warung keluarga Suharto didominasi warna merah dan berjendela kaca. Kesan kumuh yang biasanya melekat terhadap warteg, sama sekali tak terlihat. Warteg Poncol misalnya, tampak bersih dengan ruang yang cukup luas dan berlantai keramik.

Berapa omzet yang didapat setiap bulan dari setiap warteg? Suharto tak tahu pasti. Dia hanya menyebut Rp 60 juta. Setiap hari, dia perkirakan pengeluaran untuk belanja per warung Rp 1 juta-Rp 1,5 juta.

"Saya bersyukur atas rezeki yang diberikan-Nya kepada kami sekeluarga. Sekarang mungkin hasilnya terlihat gemilang. Padahal untuk memulainya, betul-betul dari nol bahkan minus," 
sumber :  blogspot.com
Merintis sebuah usaha memang bukanlah suatu hal mudah karena dibutuhkan ketekunan dan kerja keras. Seperti yang dilakukan Sudarmanto dalam merintis usaha soto ayam khas Semarang, Pak Man.
Pak Man, begitu dia lebih dikenal memulai usahanya dengan berjualan soto ayam keliling di Jl Purwosari-Krakatau-Halmahera-Lingga pada tahun 1990. Kemudian seiring dengan berjalannya waktu dia mulai berjualan menetap dan memilih di Jl Purwosari Raya dengan pertimbangan tempat tersebut paling ramai pembelinya.

Dalam usahanya dia selalu memegang prinsip bahwa untuk memajukan dan mempertahankan usaha yang sudah ada yaitu diperlukan konsekuensi dan saran dari konsumen.

’’Bagi saya intinya konsekuen dalam mutu, pelayanan terbaik kepada konsumen, penyajian menu, dan tempat yang bersih serta saran konsumen. Tanpa semua itu usaha saya tak mungkin berkembang,’’ jelasnya.

Selain itu, untuk mempertahankan cita rasa dari menu makanan yang disajikan, dia lebih memilih untuk terjun sendiri dalam membuat bumbu masakan dan pengawasan di setiap cabang. ’’Paling tidak saya harus menyempatkan mendatangi setiap cabang untuk mengawasi dan mendengarkan keluhan konsumen. Setiap penilaian dan keluhan konsumen saya harus tahu,’’ ungkap pria asli Semarang ini.

Dalam merekrut karyawan pun dilakukannya dengan tidak sembarangan, karena kinerja harus bisa mengikuti zaman sehingga dia lebih memilih karyawan yang berpendidikan dan punya tanggung jawab. Saat ini karyawannya berjumlah 53 orang yang juga bekerja profesional kepadanya.

sumber :  ciputraentrepreneurship.com
Ketika Tianshi mengadakan acara spektakuler bagi-bagi reward untuk Distributor Tianshi si Stadion Senayan September lalu, ada satu sosok penerima BMW yang penampilannya kalem. Meski demikian wajahnya terlihat berbinar-binar.Fans nya,mereka bergerombol di luar pagar VIP sambil melambaikan tangannya "Pa Wailudi selamat ya...!!" Ya . Wailudi Lumasi adalah salah seorang penerima reward BMW tahun 2006 di Jakarta, dia telah meraih kesuksesan di bisnis jaringan Tianshi. Sebab ia bisa mengubah taraf hidupnya dari seorang pengojek menjadi seorang leader. Dari pernah bergaji Rp.700.000 ~ Rp.800.000 di sebuah pabrik kini pendapatnya mencapai belasan juta rupian setiap bulannya.

Wailudi joint di Tianshi tahun 2003 yang jelas pada saat itu ia tak punya pekerjaan. Untuk memenuhi kebutuhan ia menarik ojek jelas Wailudi. Sebelumnya ia penah membangun jaringan di MLM lain tapi akhirnya rontok. Bisnis ini memang lumayan mensponsori satu orang saja langsung mendapat Rp.485.000, kalau saya ngojek dalam satu bulan belum tentu bisa mengumpulkan sebanyak itu, bisa jadi saya haru mengojek stiap hari baru bisa mendapat uang sebanyak itu "katanya". Ia mengenal Tianshi tanpa sengaja. Waktu itu, Wailudi sedang bertandang kerumah teman, Lukman Hakim yang kini menjadi Upline- nya.Di sana Lukman sedang berbincang-bincang tentang marketing plan Tianshi dengan Gembong Pudjianto (peraih reward BMW di Malaysia 2005,red). Wailudi pun berpikir,"enggak mungkinlah dalam waktu 30 hari saya tidak dapat merekrut satu orang bintang tiga". Keyakinan ini muncul dalam hatinya, Apalagi setelah mengikuti Sukses Seminar. Sukses Seminar pertama yang diikutinya menghadirkan Louis Tendean sebagai pembicara. "Saya lihat ketika Itu, memang ada orang- orang yang latar belakangnya bagus, tapi ada juga yang latar belakangnya dibawah saya. Saya melihat ada yang berhasil sampai peringkat bintang enam.Karena waktu itu saya belum punya bintang, rasa nya bintang enam sudah wah. Saya akhirnya merasa, tidak ada alasan saya tidak bisa," urainya.

PERSOALAN MODAL
Dengan semangat tersebut, praktis masalah yang dihadapi wailudi bukan masalah takut ditolak orang, tapi justru bingung modalnya dari mana. Ia ingin langsung bintang tiga dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu? saya sudah pinjam kesana kemari ," tapi ga dapat juga", kisahnya sambil tersenyum getir. Akhirnya Wailudi terpaksa mengorbankan sepada motornya, untuk memulai bisnis ia terpaksa mejual motor yang biasa untuk mengojeklaku sekitar Rp.6.400.000. Kemudian untuk joint Tianshi Rp.2.000.000, sisanya untuk biaya operasional, katanya" Masalah tidak berhenti di sini, setelah menjual motor ia harus mengembalikan modal secepat-cepatnya. Maka sejak gabung di Tianshi ia punya target, dalam waktu tiga bulan ia harus sudah masuk bintang lima. Kalau saya tidak mencapai posisi bintang lima dalam tiga bulan, artinya uang yang saya miliki untuk membangun bisnis ini sudah tidak ada lagi. Sisa uang jual motor sudah habis untuk biaya operasional selama tiga bulan.. Sebaliknya kalau saya sudah bintang lima berarti posisi saya sudah aman, setidaknya sudah ada bonus Rp.2 juta.begitulah pemikiran Wailudi. Ternyata target itu tidak bisa terpenuhi, inilah masa-masa sulit bagi Wailudi dan keluarganya."Saya sampai harus mengadaikan televisi, karena begitu sulit hidup saya saat itu." akunya. Baru pada saat bulan ke empat ia mencapai bintang lima.

Wailudi membangun jaringan dengan memulai dari orang orang di lingkungannya. Ia menawarkan pada teman teman nya yang pernah berkecimpung di MLM lain yang akhirnya rontok. Dan dari sekian yang ditawari seperti biasa ada yang tertarik dan banyak pula yang mengejek. Kendalanya dalam membangun jaringan kita menghadapi teman teman . Ketika kita mengajak orang, mempresentasi orang, selalu mendapat jawaban nggak masuk akal bisa mendapat pesawat. Begitu ada pesawat di udara teman-teman langsung meledek saya : " Tuh pesawat Pak Wailudi". Ini yang sempat saya membuat saya sakit hati, tuturnya. Toh bagi dia , ejekan menjadi pijakan untuk memompa semangatnya. "Suatu ketika saya akan buktikan pada mereka. Mereka bersikap seperti itu kan karena mereka tidak tau, sedangkan saya tau. Mereka tidak pernah datang ke OPP, sementara saya melihat dengan mata kepala saya sendiri semua itu benar. Banyak orang berhasil di bisnis ini," katanya. Dalam perjalanan waktu , Wailudi merasa untuk meraih Bronze Lion (BL) itu ternyata tidaklah sulit,"Cukup memiliki dua orang saja yang visinya sama seperti kita. Dan bisnis ini semua orang bisa menjadi BL. Setipa orang asalakan meraka tidak berhenti, karena minimal memiliki dua kaki.

sumber :  yahoo.com

usuf Macan Effendi atau populer dengan nama Dede Yusuf, lahir di Jakarta, 14 September 1966. Dede sebelumnya dikenal sebagai seorang aktor laga baik sinetron maupun layar lebar, belakangan dirinya terjun di dunia politik.

Dede mengawali karir politiknya sebagai pengurus PAN (Partai Amanat Nasional). Pada Pemilu 2004, dirinya terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI) untuk pemilihan Jawa Barat.

Pada 2008 Dede berkesempatan mencalonkan diri sebagai wakil gubernur Jawa Barat, berpasangan dengan Ahmad Heryawan. Secara mengejutkan Dede yang dicalonkan koalisi PKS dan PAN itu berhasil mengeruk kemenangan, mengungguli Agum Gumelar yang merupakan calon terkuat saat itu.

Dede sendiri adalah anak kedua dari pasangan (alm) Ir. Tammy Effendi dan penyanyi Rahayu Effendi, sedangkan kakak kandungnya adalah Bob Soelaiman Effendi. Ayah Dede (alm) pernah bekerja sebagai Direktur Taman Ismail Marzuki (TIM), yang mengurusi tempat pertunjukan dan kesenian tersebut. Sementara ibunda, adalah seorang penari di Istana Bogor dan Pramugari Garuda yang beralih profesi menjadi bintang film pada 1965.

Saat kehamilan Dede Rahayu Effendi membintangi film MACAN KEMAYORAN yang kemudian sukses di masyarakat. Hal inilah yang membuat ayahnya memberi nama Macan padanya.

Dede remaja banyak tertarik pada olahraga Body Building dan Beladiri dan mengidolakan aktor Hollywood yang kini menjadi gubernur Kalifornia, Arnold Schwarzenegger. Tidak hanya pencak silat, Dede juga mempelajari Karate, Kungfu, Kempo, Jujitsu dan Taekwondo.

Kemampuan beladirinya telah membentuk karakter Dede, bahkan terobsesi layaknya bintang beladiri Bruce Lee. Ia kemudian mengikuti casting sebagai figuran Stuntman Fighter di film laga. Dede memerankan karakter cameo bersama Barry Prima, George Rudy, Advent Bangun, bintang laga yang saat itu tengah naik daun. Selain juga tampil sebagai foto model di majalah ibukota.

Mulailah Dede terjun di dunia selebritis, dan bahkan kuliahnya yang memasuki tahun keempat di Fakultas Teknologi Industri Universitas TRISAKTI ditinggalkannya.

Debut seni aktinya dimulai pada 1986, berperan sebagai pemeran pembantu CATATAN SI BOY, arahan sutradara kondang Nasry Cheppy. Dilanjutkan sejumlah film sukses lainnya, hingga memerani tokoh Jojo dalam serial TV, JENDELA RUMAH KITA (TVRI), yang diputar selama empat tahun (1989-1992) dan serial JALAN MAKIN MEMBARA.

Ia juga pernah membintangi sekaligus menjadi sutradara film REINKARNASI dan berhasil meraih pernghargaan sebagai Film Laga Terpuji Festival Film Bandung 2000. Dede juga pernah menjadi pemandu acara kuiz TAK TIK BOOM yang diputar selama 6 tahun (1992 – 1998).

Beberapa produk iklan juga dibintanginya, termasuk Tira jeans, Homy Ped, Bodrex, Bosowa motor, Green Sands, dll. Namun yang masih dibintanginya hingga kini (selama 14 tahun) adalah menjadi icon penjualan obat sakit kepala, BODREX.

Dede sebelumnya pernah bergabung dengan KOSGORO 1992, sebagai salah satu pengurus Pusat. Namun kemudian Dede maju sebagai kandidat Ketua Umum PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia) meski harus kalah dengan Sys.NS. Dede akhirnya dipilih menempati posisi Sekjen.

Dede sendiri adalah suami Ir.Sendy Ramania Wurandani, mahasiswi Tehnik Industri Trisakti yang dinikahinya pada awal 1999. Dari perkawinan mereka dikaruniai, dua putri, Alifiya Arkana Paramita (Lifi) Dan Kaneishia Latifa Zahra (Neisya).
ika berbicara mengenai grup musik Dewa 19, sulit untuk tak menyebut nama Ahmad Dhani. Musisi bertangan dingin yang sukses menukangi band itu hingga berhasil mencapai puncak popularitas dengan puluhan hits yang sebagian besar ia ciptakan bersama rekan-rekannya.

Putra pasangan Eddy Abdul Manaf dan Joyce Theresia Pamela ini sejak duduk di bangku SD sudah menggandrungi karya-karya grup band legendaris asal Inggris, Queen. Kecintaannya pada band yang terkenal dengan hits Bohemian Rapsody itu dapat terlihat dari koleksi albumnya yang mencapai 50 keping. Bakat bermusik anak pertama dari tiga bersaudara ini mulai bergeliat saat ia bersekolah di SMPN 6 Surabaya. Saat itu, tepatnya di tahun 1986, Dhani dan tiga orang sahabatnya Andra Junaidi, Erwin Prasetya, dan Wawan Juniarso mendirikan grup band DEWA.

Tak jarang pria kelahiran Surabaya, 26 Mei 1972 itu sampai harus bolos sekolah untuk sekadar berkumpul bersama teman-temannya di DEWA. Awalnya, mereka mengusung aliran musik rock namun kemudian mencoba jalur musik jazz Perubahan aliran musik tersebut kemudian diikuti pula dengan perubahan nama DEWA menjadi Downbeat. Bersama Downbeat, Dhani dan kawan-kawan sempat menjuarai Festival jazz Remaja se-Jawa Timur, juara I Festival band SLTA '90 atau juara II Djarum Super Fiesta Musik. Namun pada akhirnya Dhani kembali ke jalur rock dengan mengibarkan bendera DEWA 19 dan kemudian merekrut Ari Lasso sebagai vokalis. Setelah lulus SMA, di tahun 1991Ahmad Dhani hijrah ke Jakarta. Alasan kepindahannya ke ibukota karena di Kota itu tidak ada studio yang memadai. Setibanya di Jakarta, Dhani pun mencoba peruntungan nasib dengan mencari perusahaan rekaman yang akan melabeli Dewa 19. Dengan modal seadanya, Dhani menginjak rimba ibukota, gentayangan dari satu perusahaan rekaman ke perusahaan rekaman lain menggunakan bus kota.

Awalnya hanya penolakan demi penolakanlah yang didapatnya. Namun ia tak putus asa, mimpinya untuk membesarkan Dewa 19 membuat Dhani terus berusaha. Kegigihannya pun membuahkan hasil, setelah sempat ditolak sejumlah label, akhirnya Dhani dilirik oleh Jan Djuhana dari Team Records. Album perdana Dewa 19 (1992) mendulang kesuksesan besar dengan melahirkan beberapa hits seperti "Kangen" dan "Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi".

Album ini tercatat sebagai album terlaris tahun 1993 sekaligus menganugerahi Dewa sebagai pendatang baru terbaik. Sukses Dewa 19 berlanjut di album-album berikutnya. Hingga saat ini tak kurang dari sebelas album yang telah dirilis Dhani bersama Dewa, yaitu Dewa 19 (1992), Format Masa Depan (1994), Terbaik Terbaik (1995), Pandawa Lima (1997), The Best Of Dewa 19 (1999), Bintang Lima (2000), Cintailah Cinta (2002), Atas Nama Cinta I & II (2004), Laskar Cinta (2004), Republik Cinta (2006), dan Kerajaan Cinta (2007).

Meski kerap bergonta-ganti personil, Dewa 19 hingga kini tetap eksis di blantika musik Indonesia. Nama besar yang kini disandang band tersebut tak terlepas dari kerja keras Ahmad Dhani. Ambisinya untuk membawa Dewa 19 sebagai grup band yang sukses akhirnya tercapai.

Selain mengusung bendera Dewa 19, Ahmad Dhani juga menuangkan kreatifitas bermusiknya dengan membentuk band lain dengan aliran musik rock yang sedikit berbeda. Pada 1997, ia bersama salah satu personil Dewa 19 lainnya, Andra, mendirikan Ahmad Band yang sukses mempopulerkan sejumlah lagu seperti Kuldesak dan Aku Cinta Kau Dan Dia.

Sepuluh tahun kemudian, saat tengah berada di Australia karena suatu keperluan, Dhani bertemu tiga anggota band Hospital The Musical, yaitu Clancy Alexander Tucker, Zachary Haidee-Keene, Michael Bennett di Studio 301, Sydney. Pertemuan tersebut kemudian berlanjut pada pembentukan sebuah band bernama The Rock. Agustus 2007, album pertama The Rock bertajuk Master Mister Ahmad Dhani I pun dirilis. Single Munajat Cinta adalah salah satu kolaborasi Dhani dengan para musisi bule itu yang dimuat dalam album tersebut.

Tak hanya sukses membidani kelahiran band-band berkualitas yang mencetak hits. Saudara tiri musisi Dadang S Manaf ini juga piawai membesut para pendatang baru yang bertalenta. Salah satu penyanyi dan band lain. Selain itu Dhany juga mempopulerkan tiga anak lelakinya dari hasil pernikahannya dengan Maia Estianty yakni; Al, El, dan Dul dengan membentuk sebuah band cilik bernama Lucky Laki. Sayang hubungannya dengan sang istri yang telah dibina sejak tahun 1996 tak dapat lagi dipertahankan. Setelah perseturuan panjang di media dan pengadilan agama, pasangan yang memadu kasih sejak di bangku SMA itu akhirnya resmi bercerai. Hak asuh ketiga putra mereka jatuh ke tangan Maia, namun Al, El, dan Dul masih tinggal bersama Dhany.

Selain karena prestasinya, sosok Ahmad Dhani juga akrab dengan kontroversi. Ia pernah digugat penulis novel Arjuna Mencari Cinta, Yudhistira Massadi karena memakai judul novelnya sebagai judul salah satu lagu di album Cintailah Cinta. Dengan berbesar hati Dhani pun mengganti judul lagunya menjadi Arjuna. Perseturuan Dhani dengan sang novelis itu pun berakhir.

Usai menyudahi masalahnya dengan Yudistira, Dhani kembali terlibat masalah. Kali ini dengan Front Pembela Islam (FPI). Organisasi pimpinan Habib Rizieq tersebut memprotes logo baru Dewa yang berbentuk bintang enam karena dikatakan serupa dengan lafal Allah. Kecaman kembali berdatangan ketika Dhani dianggap menghina dengan menginjak-nginjak simbol itu saat manggung. Meski pun merasa tidak bermaksud untuk melecehkan agama tertentu, Dhani kemudian mengganti logo tersebut yang sekaligus menandai berakhirnya polemik dengan FPI.

Pakar telematika Roy Suryo pun tak ketinggalan berperkara dengan Dhani. Ia melaporkan Dhani karena memakai simbol negara, bendera merah putih dalam video klip Dewa 19. Namun perseturuan tersebut justru berdampak positif pada kepopuleran video klip Dewa 19 di dunia maya.
Menjelang Pemilu 2009, Ahmad Dhani pernah mengikuti tren para artis yang terjun ke ranah politik dengan mencoba peruntungan menjadi calon presiden lewat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Akan tetapi, belakangan Dhani lebih memilih berkarir di musik ketimbang berkiprah di dunia politik.
Pertengahan Juni 2009, Dhani juga kembali terlibat konflik. Jika sebelumnya berhubungan dengan karya-karyanya, kali ini berkaitan dengan tempat tinggalnya yang terletak di pemukiman elit Pondok Indah. Rumah yang terletak di Jalan Pinang tersebut disegel Pemerintah DKI Jakarta karena dianggap menyalahi tata ruang kota.

Terlepas dari berbagai kontroversi dan sensasi, nama besarnya sebagai musisi bertangan dingin tetap menjadi jaminan suksesnya sebuah band atau pun penyanyi baru. Dengan intuisi bermusiknya yang kuat, Dhani hadir dengan karya dan prestasinya. Ia juga turut memperkaya khazanah musik Indonesia karena berhasil memberikan warna baru dengan berani bereksperimen.

sumber :  tokohindonesia.com


Ketika akan membuka usaha, Halfi mengalami pengalaman yang menarik. Bermula dari kecelakaan mobil yang mengharuskan dia untuk mengganti uang yang dikumpulkan mahasiwa yang ketika kecelakaan itu diambil warga. Karena tidak tahu bagaimana mengganti uang tersebut, Halfi memutuskan untuk membuka usaha. Mulanya ia mencoba membuka bisnis kaos tapi malah merambah ke usaha makanan yang ia beri nama”BLACK BURGER” yang sekarang setiap bulannya meraup untung 60 juta.

McDonald’s dan Burger King adalah contoh dari pelaku asing pendiri usaha makanan siap saji Burger. Karena burger adalah salah satu makanan yang banyak diminati oleh masyarakat. Inilah alasan Halfi mengapa dia mendirikan Black Burger. Dia juga membuat perubahan pada burger yang dikelolanya agar siap bersaing dengan pelaku asing.

Namanya saja Black Burger, sudah pasti rotinya berwarna hitam. Warna hitam ini  berasal dari pewarna alami yaitu buah kluwek. Inilah yang menjadi pembeda dari burger-burger lain. Yang membedakan lagi adalah rasa daging yang diberi cabe rawit dan daun jeruk yang khas Indonesia.

Bisnis yang digeluti halfi ketika  berada di semester 7 Fakultas Komunikasi Unpad  tepatnya pada tahun 2010 lalu . kini sudah memiliki 28  varian burger dengan 3 macam rasa : hot,manis,original dan memiliki 2 outlet . harga per potong  dari Black Burger itu sendiri dari Rp.12.000 hingga Rp.30.000 .Halfi juga menambah varian burger dari tempe dan nasi untuk para pelanggan yang vegetarian. Ada 5 karyawan yang dipekerjakan Halfi di 2 outletnya di bandung.

 Dulu dia juga membuka outlet didaerah bogor, tapi karena penjualan kurang baik akhirnya ditutup.  2 Outlet yang dimiliki oleh Halfi di daerah Bandung  menghasilkan keuntungan  hingga 20-60 juta perbulannya
Kesuksesan yang Halfi peroleh tidak lepas dari sebuah kendala. Ia pernah tertipu oleh rekan kerjanya sendiri. Baginya ini bukanlah masalah materi akan tetapi ini merupakan ide yang dicuri. Pengalamn yang membuat Halfi sekarang lebih berhati-hati dalam memilih mitra kerja. Sebelum membentuk kerjasama ia mengadakan perjanjian terlebih dahulu. Harapan Halfi kedepan adalah ingin jadi competitor kuat di Burger King dan McDMimpi di Indonesia.

Begitulah kisah pegusaha sukses kali ini, yang mengisahkan tentang seorang pengusaha makanan siap saji yang sangat unik Black Burger. Inovasi dan Kreatifitas dapat membuat segala hal menjadi lebih menarik. Semakin banyak inovasi yang di buat maka semakin baiklah kualitas produk di mata konsumen namun dalam bidang makanan rasa adalah hal yang harus diutamakan.

sumber : andiazhari.com